Top 7+ Sifat yang Muncul saat Dewasa akibat Sering Dibandingkan Orangtua
Masa kecil sering meninggalkan jejak mendalam pada karakter seseorang saat dewasa.
Salah satu pengalaman yang berdampak panjang adalah terus-menerus dibandingkan dengan kakak atau adik. Berada di bawah bayang-bayang saudara kandung dapat memicu tantangan emosional.
Padahal, kebiasaan membandingkan ini membentuk sifat-sifat tertentu yang menetap hingga usia dewasa, dan memengaruhi cara seseorang merespons kehidupan sehari-hari.
7 sifat yang tumbuh saat dewasa karena sering dibandingkan
1. Kompetitif
Sifat kompetitif sangat mungkin melekat jika kamu terbiasa dibandingkan sebagai upaya pembuktian diri.
"Perbandingan, terutama di masa kanak-kanak antara saudara kandung, melahirkan persaingan. Saudara kandung mungkin berlomba untuk meraih pencapaian, mengubahnya jadi kontes daripada pertumbuhan pribadi, yang dapat terbawa hingga dewasa," kata psikolog dan profesor Dr. Adolph Brown, melansir Parade, Selasa (12/5/2026).
Meski memacu kesuksesan, kondisi ini rentan memicu stres dan menyulitkanmu menghargai kemenangan orang lain.
2. Perfeksionis
Tuntutan lingkungan bisa membuat seseorang terjebak perfeksionisme demi mendapat validasi.
Psikolog Dr. Paula Freedman-Diamond mengatakan, anak-anak sejak usia muda sudah mendapat "pesan" tentang bagaimana mereka seharusnya.
"Meskipun hal ini tidak selalu dikomunikasikan secara eksplisit, pesan-pesan tersebut sering kali diinternalisasi sebagai, 'Saya harus menjadi sosok tertentu atau bertindak dengan cara tertentu agar layak mendapatkan cinta dan rasa memiliki'," jelas dia.
Ilustrasi wisuda, hadiah buket bunga untuk wisuda.
Jadi, ketika seorang anak dibandingkan dengan saudaranya, mereka terkadang bisa mendapatkan pesan bahwa satu cara itu benar dan yang lain salah, atau yang satu lebih baik dari yang lain.
"Ini dapat mengarah pada pola perfeksionisme, kompetitif, people-pleasing, atau ketakutan akan kegagalan," sambung Freedman-Diamond.
"Perbandingan yang konstan selama masa kanak-kanak dengan saudara kandung sering kali menumbuhkan keyakinan bahwa harga diri seseorang terikat pada pencapaian," tambah Brown.
3. Terlalu penurut
Anak yang selalu disuruh menjadi seperti saudaranya, akan beradaptasi untuk mendapatkan kasih sayang. Jadi, mereka akhirnya akan menekan identitas pribadinya saat dewasa.
Brown menerangkan, saat dewasa, sifat ini membuatmu sulit menolak permintaan dan terus menyesuaikan diri guna menghindari konflik.
4. Tingkat empati tinggi
Di sisi lain, pengalaman penuh tekanan ini memunculkan kepekaan ekstra terhadap kesulitan orang-orang di sekitar.
"Mengalami tekanan dan persaingan saat anak tumbuh dewasa dapat mengarah pada pemahaman yang lebih besar tentang perjuangan orang lain," terang Brown.
"Itulah mengapa seseorang yang merasa dibayangi saat kecil oleh saudaranya mungkin menjadi selaras dengan ketidakamanan teman sebayanya," lanjut dia.
5. Rasa tidak aman
Kurangnya apresiasi memicu keraguan terhadap kemampuan diri sendiri. Seseorang akan merasa tidak pantas menerima penghargaan, atau meyakini keberhasilannya adalah kebetulan, karena selalu dibandingkan dengan saudaranya dahulu.
Brown mengatakan bahwa kondisi ini rentan menjadi krisis kepercayaan diri hingga imposter syndrome.
Misalnya, jika seorang adik tumbuh dengan terus-menerus dibandingkan dengan kakak yang sangat berprestasi, Freedman-Diamond menuturkan, mereka mungkin telah belajar bahwa mereka harus berjuang untuk mencapai banyak hal agar layak mendapatkan cinta atau perhatian orang tua mereka.
"Karena hal ini, bahkan jika mereka mencapai banyak hal selama hidup mereka, mereka mungkin masih mengalami imposter syndrome," kata Freedman-Diamond.
"Anak kecil di dalam diri mereka merasa tidak akan pernah bisa memenuhi harapan orang tua mereka atau melarikan diri dari bayang-bayang kakaknya," lanjut dia.
6. Menghindari risiko
Kritik tajam di masa lalu kerap meninggalkan ketakutan tersendiri. Menurut Brown, ini berakar pada ekspektasi tinggi yang ditetapkan oleh orangtua saat kita kecil dahulu, ketika kamu dibandingkan dengan saudara.
Hal tersebut bisa menanamkan ketakutan yang kuat bahwa kamu tidak memenuhi standar dalam situasi tertentu saat kamu dewasa.
Misalnya, ketika mereka melihat kakak atau adiknya berbuat kesalahan dan menghadapi kritik tajam, mereka mungkin menghindari risiko apapun di masa kanak-kanak dan dewasa kelak.
7. Sangat sensitif
Lebih lanjut, luka lama ini dapat membuat seseorang lebih rentan terhadap umpan balik negatif.
"Sering dibandingkan dengan seseorang saat kamu tumbuh dewasa, seperti saudara laki-laki atau perempuan, membuat kritik terasa seperti serangan pribadi," kata Brown.
"Orang dewasa mungkin memandang umpan balik sebagai ancaman terhadap identitas mereka, bukan hanya pekerjaan mereka," lanjut dia.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang