Penyakit Jantung Bawaan Bisa Terdeteksi Sejak Kehamilan, Dokter Ungkap Risiko dan Pentingnya Kesiapan Dini
Penyakit jantung bawaan (PJB) merupakan salah satu penyakit kronis pada anak yang kerap luput dari perhatian masyarakat. Banyak orang tua baru menyadari anaknya mengidap kelainan jantung setelah muncul gejala berat, bahkan ketika kondisi sudah memasuki fase kritis. Padahal, dengan kemajuan medis saat ini, penyakit jantung bawaan sebenarnya sudah bisa dikenali sejak bayi masih berada di dalam kandungan.
Ketua Pokja Kardiologi Pediatrik dan Penyakit Jantung Bawaan, dr. Oktavia Lilyasari, SpA(K), menjelaskan bahwa penyakit jantung bawaan tidak muncul tanpa sebab. Ada sejumlah faktor risiko yang sudah lama dikenali dalam dunia medis, terutama yang berkaitan dengan kondisi kesehatan ibu selama kehamilan dan faktor genetik keluarga.
Dalam penjelasannya, dr. Oktavia memaparkan bahwa penyakit yang diderita ibu, infeksi selama kehamilan, hingga riwayat keluarga dapat meningkatkan risiko anak lahir dengan penyakit jantung bawaan.

“Kalau misalnya ibunya punya penyakit seperti diabetes atau gangguan imun, atau ibu mengalami infeksi saat kehamilan, yang paling sering itu toksoplasmosis, sitomegalovirus, atau rubella, atau bisa juga ibunya sendiri mengidap kelainan bawaan, termasuk penyakit jantung bawaan, atau ada riwayat penyakit jantung bawaan di keluarga, maka risiko anak terkena penyakit jantung bawaan sekitar 1–3 persen,”ujar dr. Oktavia saat peresmian Rumah Singgah Kemanggisan oleh RMHC di Jakarta Barat pada Selasa, 10 Februari 2026.
Selain kondisi kesehatan ibu, penggunaan obat-obatan tertentu juga menjadi perhatian serius, terutama pada masa awal kehamilan. Menurut dr. Oktavia, tidak semua obat aman dikonsumsi saat janin sedang mengalami proses pembentukan organ vital.
Ia menegaskan bahwa beberapa jenis obat memiliki dampak langsung terhadap perkembangan organ janin.
“Beberapa obat bersifat teratogenik, artinya bisa menyebabkan gangguan pada proses pembentukan organ jantung saat bayi masih di dalam kandungan,” jelasnya.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa trimester pertama merupakan periode paling krusial dalam kehamilan.
“Jantung dan organ-organ lain terbentuk pada trimester pertama, yaitu tiga bulan pertama kehamilan. Karena itu, pada tiga bulan pertama biasanya kami selalu mengingatkan ibu hamil untuk tidak minum obat sembarangan, tidak minum jamu sembarangan, dan semua harus berdasarkan anjuran dokter,” jelasnya lagi.
Tidak hanya obat, faktor lingkungan dan kelainan genetik juga berperan dalam munculnya penyakit jantung bawaan.
“Paparan radiasi atau kelainan kromosom juga bisa menyebabkan kelainan jantung bawaan,” terang dr. Oktavia.
Deteksi Bisa Dimulai Sejak Dalam Kandungan
Menurut dr. Oktavia, salah satu hal penting dalam menekan risiko fatal penyakit jantung bawaan adalah deteksi dini. Pemeriksaan tidak harus menunggu bayi lahir, karena tanda-tanda kelainan sudah bisa terlihat sejak usia kehamilan tertentu.
Ia menekankan bahwa penyakit jantung bawaan memiliki spektrum luas dan waktu deteksinya sangat bervariasi.
“Deteksi penyakit jantung bawaan bisa dilakukan sejak dalam kandungan, bisa segera setelah lahir, dan bisa juga setelahnya. Bahkan ada beberapa kasus yang baru diketahui saat anak sudah dewasa,” tutur sang dokter.
Pemeriksaan jantung janin biasanya dilakukan pada usia kehamilan tertentu, ketika struktur jantung sudah cukup berkembang untuk dinilai.
“Jika dideteksi saat ibu masih hamil, pemeriksaan biasanya bisa mulai dilakukan pada usia kehamilan 18 minggu, idealnya antara 18–24 minggu,” lanjutnya menjelaskan.
Jika kehamilan dinilai memiliki risiko tinggi, skrining dilakukan lebih mendalam.
“Kalau dokter kebidanan tahu bahwa kehamilan ini berisiko tinggi untuk penyakit jantung bawaan, misalnya kehamilan program IVF atau ibu dengan faktor risiko, maka akan dilakukan skrining, bukan hanya untuk janinnya, tetapi juga khusus untuk jantung janin,” lanjutnya lagi.
Risiko Kritis saat Bayi Lahir
Deteksi dini menjadi sangat penting karena tidak semua bayi dengan penyakit jantung bawaan lahir dalam kondisi stabil. Dr. Oktavia menjelaskan bahwa sebagian bayi justru lahir dalam kondisi yang membutuhkan penanganan segera.
Ia mengungkapkan fakta medis yang cukup mengkhawatirkan terkait kondisi bayi baru lahir dengan PJB.
“Karena sekitar satu dari empat bayi dengan penyakit jantung bawaan lahir dalam kondisi kritis. Jika tidak segera ditangani, angka kematiannya bisa mencapai 50 persen dalam satu bulan pertama,” ucapnya.
Oleh karena itu, kesiapan tenaga medis dan keluarga menjadi bagian penting dari proses penanganan.
“Hal ini bertujuan untuk mempersiapkan keluarga dan tenaga medis, baik secara fisik maupun mental.”
Sementara itu, dari sudut pandang rumah sakit, penyakit jantung bawaan pada anak bukan hanya persoalan tindakan medis, tetapi juga menyangkut kondisi sosial keluarga pasien. Banyak keluarga pasien anak dengan penyakit kronis harus menjalani pengobatan jangka panjang di rumah sakit rujukan, bahkan sampai terpaksa menetap sementara dan tidur di sekitar area rumah sakit.
Kondisi inilah yang mendorong penyediaan fasilitas Rumah Singgah dari RMHC, agar keluarga pasien tidak lagi “ngemper” di rumah sakit dan bisa mendampingi anak dengan lebih layak selama masa pengobatan yang panjang.