Panduan Puasa Pengganti Ramadhan: Tata Cara, Niat, dan Batas Waktu Pelaksanaan
Setelah bulan Ramadhan berakhir, sebagian umat Islam masih memiliki kewajiban mengganti puasa yang ditinggalkan.
Puasa pengganti atau qadha ini dilakukan bagi mereka yang tidak dapat berpuasa karena alasan syar’i, seperti sakit, haid, atau dalam perjalanan.
Meskipun diperbolehkan tidak berpuasa, kewajiban tersebut tetap harus ditunaikan di hari lain.
Berikut penjelasan lengkap mengenai puasa pengganti Ramadhan, mulai dari hukum hingga tata caranya.
Hukum Puasa Pengganti Ramadhan
Puasa Ramadhan wajib bagi setiap Muslim yang mampu. Namun, bagi yang berhalangan seperti sakit atau bepergian, Islam memberikan keringanan untuk tidak berpuasa.
Dikutip dari laman resmi Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jumat (13/2/2026), kewajiban mengganti puasa ditegaskan dalam Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 185:
"Oleh karena itu, siapa di antara kamu hadir (di tempat tinggalnya atau bukan musafir) pada bulan itu, berpuasalah. Siapa yang sakit atau dalam perjalanan (lalu tidak berpuasa), maka (wajib menggantinya) sebanyak hari yang ditinggalkannya pada hari-hari yang lain."
Meski mendapat keringanan, puasa yang ditinggalkan tetap wajib diganti di luar bulan Ramadhan.
Siapa yang Wajib Mengganti Puasa?
Puasa qadha wajib dilakukan oleh mereka yang meninggalkan puasa Ramadhan karena uzur syar’i, antara lain:
- Sakit
- Haid atau nifas
- Dalam perjalanan jauh (musafir).
Mereka diperbolehkan tidak berpuasa, tetapi tetap memiliki kewajiban untuk menggantinya.
Batas Waktu Mengganti Puasa
Puasa qadha sebaiknya dilakukan sebelum datangnya Ramadhan berikutnya.
Menunda tanpa alasan yang dibenarkan dapat membuat kewajiban semakin menumpuk.
Oleh karena itu, umat Islam dianjurkan untuk segera atau mencicil puasa pengganti setelah Ramadhan.
Tata Cara Puasa Qadha
Tata cara puasa qadha pada dasarnya sama seperti puasa Ramadhan, yaitu:
- Menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa sejak terbit fajar hingga terbenam matahari
- Menjalankan puasa dengan penuh kesadaran dan keikhlasan.
Perbedaannya terletak pada niat yang dikhususkan untuk mengganti puasa Ramadhan.
Niat Puasa Qadha
Niat puasa qadha harus dilakukan pada malam hari sebelum terbit fajar karena termasuk puasa wajib.
Berikut bacaan niatnya:
نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ قَضَاءِ فَرْضِ رَمَضَانِ لِلهِ تَعَالىَ
Latin:
Nawaitu shauma ghadin ‘an qadha’i fardhi Ramadhana lillahi ta‘ala
Artinya:
- "Saya niat puasa pada hari esok untuk mengganti fardhu Ramadhan karena Allah Ta’ala."
Menurut ulama mazhab Syafi’i, niat puasa wajib harus dilakukan sebelum fajar. Jika tidak, maka puasa tersebut tidak sah sebagai puasa qadha.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang