Niat Puasa Qadha Ramadhan, Lengkap dengan Cara dan Ketentuannya

puasa qadha, Niat puasa qadha, Niat Puasa Qadha Ramadhan, Lengkap dengan Cara dan Ketentuannya, Hukum mengganti puasa Ramadhan, Batas waktu qadha puasa, Tata cara mengganti puasa Ramadhan, Niat puasa qadha

Setelah bulan Ramadhan berakhir, sebagian umat Islam mungkin masih memiliki tanggungan puasa yang belum ditunaikan.

Kondisi ini umumnya terjadi karena adanya uzur syar’i, seperti sakit, haid, atau sedang dalam perjalanan jauh, sehingga tidak dapat menjalankan puasa pada waktunya.

Dalam kondisi tersebut, Islam memberikan keringanan untuk tidak berpuasa.

Namun, puasa yang ditinggalkan tetap wajib diganti atau diqadha pada hari lain di luar bulan Ramadhan.

Lantas, bagaimana hukum puasa qadha beserta tata caranya?

Hukum mengganti puasa Ramadhan

Dilansir dari laman resmi Majelis Ulama Indonesia (MUI) pada Jumat (14/2/2026), kewajiban mengganti puasa Ramadhan ditegaskan dalam Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 185:

“...Siapa yang sakit atau dalam perjalanan (lalu tidak berpuasa), maka (wajib menggantinya) sebanyak hari yang ditinggalkannya pada hari-hari yang lain.”

Dalam tafsirnya, Syekh Wahbah Az-Zuhaili menjelaskan bahwa puasa Ramadhan hanya diwajibkan bagi orang yang mampu, sehat, dan tidak sedang bepergian.

Sementara itu, orang yang sakit atau musafir diperbolehkan berbuka, tetapi tetap wajib menggantinya di hari lain.

Batas waktu qadha puasa

Puasa qadha sebaiknya dilakukan sebelum datangnya Ramadhan berikutnya. Artinya, setiap Muslim yang memiliki utang puasa dianjurkan untuk segera menunaikannya agar tidak menumpuk.

Menunda qadha tanpa alasan yang dibenarkan dapat membuat kewajiban tersebut semakin berat untuk ditunaikan di kemudian hari.

Tata cara mengganti puasa Ramadhan

Secara umum, tata cara puasa qadha sama seperti puasa Ramadhan, yaitu:

  • Menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa sejak terbit fajar hingga terbenam matahari
  • Menjalankan puasa dengan penuh kesadaran dan keikhlasan.

Perbedaan utamanya terletak pada niat, yakni menegaskan bahwa puasa tersebut dilakukan untuk mengganti puasa Ramadhan yang tertinggal.

Niat puasa qadha

Niat puasa qadha harus dilakukan pada malam hari sebelum terbit fajar. Hal ini menjadi syarat sah untuk puasa wajib, termasuk qadha.

Berikut bacaan niat puasa qadha:

نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ قَضَاءِ فَرْضِ رَمَضَانِ لِلهِ تَعَالىَ

Latin:

  • Nawaitu shauma ghadin ‘an qadha’i fardhi Ramadhana lillahi ta‘ala

Artinya:

“Saya niat puasa pada hari esok untuk mengganti fardhu Ramadhan karena Allah Ta’ala.”

Menurut ulama mazhab Syafi’i, niat untuk puasa wajib harus dilakukan pada malam hari. Jika tidak berniat sebelum fajar, maka puasa tersebut tidak sah sebagai puasa qadha.

Meski Ramadhan telah berlalu, kewajiban mengganti puasa tetap melekat hingga ditunaikan.

Karena itu, umat Islam dianjurkan untuk tidak menunda-nunda qadha puasa tanpa alasan yang dibenarkan.

Dengan segera mengganti puasa yang ditinggalkan, seorang Muslim dapat menunaikan kewajibannya dengan lebih ringan dan tenang sebelum memasuki Ramadhan berikutnya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang