Sejumlah Negara Waspada Wabah Nipah, Guru Besar FKUI Jelaskan Risiko dan Pencegahannya
Wabah virus Nipah yang kembali merebak di India memicu kekhawatiran di sejumlah negara Asia.
Virus yang dikenal memiliki tingkat kematian tinggi ini membuat berbagai pemerintah meningkatkan kewaspadaan, khususnya di pintu-pintu masuk internasional.
Langkah antisipasi dilakukan untuk mencegah penyebaran lintas negara, mengingat mobilitas manusia antarwilayah masih tergolong tinggi.
Virus Nipah merupakan penyakit infeksi emerging yang tergolong berbahaya karena dapat menular dari hewan ke manusia dan menyebabkan gangguan pernapasan hingga peradangan otak.
Sejarah mencatat, wabah ini pernah menimbulkan korban jiwa dalam jumlah signifikan di beberapa negara Asia Selatan dan Asia Tenggara.
Bagaimana Kesiapan Indonesia Menghadapi Ancaman Virus Nipah?
Di Indonesia, Kementerian Kesehatan menegaskan bahwa hingga pertengahan Januari 2026 belum ditemukan kasus konfirmasi virus Nipah pada manusia.
Meski demikian, kewaspadaan tetap ditingkatkan mengingat potensi penularan lintas negara tidak dapat diabaikan.
Pemantauan dilakukan secara aktif melalui sistem surveilans penyakit infeksi emerging. Fokus pengawasan berada di pintu masuk negara, seperti bandara dan pelabuhan, serta di fasilitas pelayanan kesehatan.
Langkah ini bertujuan memastikan deteksi dini apabila muncul kasus suspek sehingga penanganan dapat dilakukan lebih cepat dan terukur.
Selain itu, petugas kesehatan di lapangan juga diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap pasien dengan gejala infeksi saluran pernapasan berat, terutama mereka yang memiliki riwayat perjalanan dari negara terdampak wabah.
Apa Itu Virus Nipah dan Bagaimana Cara Penularannya?
Dokter spesialis paru Erlina Burhan dalam konferensi pers Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 di Graha BNPB, Jakarta, Rabu (1/4/2020).
Dokter spesialis paru dari Divisi Infeksi Departemen Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Prof. Dr. dr. Erlina Burhan, M.Sc., Sp.P(K)., menjelaskan bahwa virus Nipah merupakan penyakit zoonotik yang dapat menular dari hewan ke manusia.
"Kasusnya banyak dilaporkan di Malaysia, India, Bangladesh, Filipina. Belum ada dilaporkan di Indonesia," kata dr. Erlina kepada Kompas.com, Rabu (28/1/2026).
Menurut dr. Erlina, penularan virus Nipah umumnya terjadi melalui kontak dengan hewan yang terinfeksi, terutama babi dan kelelawar buah.
Gejala infeksi virus Nipah bervariasi, mulai dari demam tinggi, mual dan muntah, sakit kepala, batuk hingga sesak, pendarahan usus, pelemahan otot, serta gangguan kesadaran.
Apa Langkah Pencegahan yang Disarankan Ahli?
dr. Erlina yang juga Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia menekankan pentingnya pencegahan dini agar virus Nipah tidak berkembang dan menular ke manusia. Salah satu kunci utama pencegahan adalah menjaga dan meningkatkan imunitas tubuh.
"Kuncinya kita harus menjaga imunitas tubuh untuk melawan virus ini," ujarnya.
Selain menjaga daya tahan tubuh, dr. Erlina menyampaikan bahwa pencegahan juga dapat dilakukan melalui penerapan kebersihan dan kehati-hatian dalam mengonsumsi makanan, terutama yang berpotensi terkontaminasi.
Beberapa langkah pencegahan yang dapat dilakukan antara lain:
- Mencuci buah dan sayur dengan bersih sebelum dikonsumsi.
- Tidak mengonsumsi buah yang sudah dimakan sebagian oleh kelelawar.
- Mengonsumsi daging yang dimasak hingga benar-benar matang.
- Menggunakan masker bila harus menyentuh hewan.
- Mencuci tangan dengan sabun setelah kontak dengan hewan atau lingkungan yang berisiko.
Langkah-langkah sederhana tersebut dinilai penting untuk menekan risiko penularan virus Nipah, terutama di tengah meningkatnya kewaspadaan akibat wabah yang terjadi di sejumlah negara Asia.
Negara Mana Saja yang Mulai Memperketat Pemeriksaan?
Menyikapi wabah di India, sejumlah negara di kawasan Asia mulai memperketat pemeriksaan kesehatan bagi pelaku perjalanan internasional.
Thailand menjadi salah satu negara yang lebih dulu mengambil langkah preventif dengan memberlakukan pemeriksaan penumpang di tiga bandara utama yang menerima penerbangan dari wilayah Benggala Barat, India.
Pemeriksaan ini difokuskan pada deteksi dini gejala penyakit menular, termasuk pemantauan suhu tubuh dan riwayat perjalanan penumpang.
Kebijakan tersebut diambil sebagai upaya pencegahan agar virus Nipah tidak masuk dan menyebar di dalam negeri.
Langkah serupa juga dilakukan oleh Nepal. Pemerintah negara tersebut memperketat pemeriksaan kedatangan internasional di Bandara Internasional Tribhuvan, Kathmandu.
Tidak hanya di bandara, pengawasan juga ditingkatkan di sejumlah titik perbatasan darat yang berbatasan langsung dengan India, mengingat tingginya lalu lintas warga antarnegara.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang