Waspada! Setelah Libur Lebaran, Tubuh Bisa Diam-diam Kena Risiko Ini
Setelah melewati periode panjang yang identik dengan perubahan pola makan dan aktivitas, banyak orang mulai merasakan dampaknya—bukan hanya pada kondisi keuangan, tetapi juga kesehatan tubuh. Momentum ini kerap menjadi titik penting untuk kembali menata gaya hidup agar lebih seimbang.
Perubahan kebiasaan selama beberapa waktu, seperti konsumsi makanan tinggi gula, garam, dan lemak, serta jam tidur yang tidak teratur, dapat memicu berbagai gangguan kesehatan. Mulai dari kenaikan berat badan hingga meningkatnya kadar kolesterol, gula darah, dan tekanan darah, bahkan pada mereka yang merasa tubuhnya baik-baik saja. Scroll untuk tahu lebih lanjut, yuk!
Spesialis Gizi Klinik RSPI - Pondok Indah, dr. Juwalita Surapsari, M.Gizi, Sp. G.K., mengingatkan pentingnya kesadaran terhadap kondisi tubuh melalui pendekatan preventif.
“Seseorang dapat saja merasa sehat secara fisik. Namun, indikator kesehatannya belum tentu optimal. Bahkan, dapat mengalami gangguan metabolik. Deteksi dini melalui pemeriksaan berkala merupakan langkah preventif yang lebih cerdas dibandingkan pengobatan jangka panjang,” jelas dr. Juwalita di acara Halal Bihalal Sequis Life di Jakarta, Selasa 31 Maret 2026.

Ia juga menekankan pentingnya prinsip “Know Your Numbers”, yaitu memahami kondisi tubuh melalui pemeriksaan rutin seperti tekanan darah, kadar gula, kolesterol, hingga indeks massa tubuh. Langkah ini dinilai krusial, terutama di tengah tren meningkatnya penyakit tidak menular pada usia muda.
Berdasarkan data Profil Kesehatan Indonesia 2025 dari Kementerian Kesehatan RI, kasus penyakit seperti hipertensi, diabetes melitus, dan obesitas terus meningkat pada kelompok usia 16–30 tahun. Gaya hidup sedentari serta pola konsumsi yang tidak seimbang menjadi faktor utama pemicu kondisi tersebut.
Di sisi lain, menjaga kesehatan tidak bisa dilepaskan dari kondisi finansial yang stabil. Tekanan pengeluaran yang meningkat dalam periode tertentu sering kali membuat seseorang abai terhadap perencanaan jangka panjang, termasuk perlindungan kesehatan.
“Feel Good bukan sekadar suasana hati, tetapi rasa tenang karena kondisi keuangan terkendali dan kesehatan terjaga. Ini adalah bentuk tanggung jawab kita terhadap keluarga sebagai #YangPalingBerarti dalam hidup,“ sebut Agustina Samara, Chief of Human Resources & Corporate Services Sequis Life, di acara yang sama.
Senada dengan itu, perencanaan finansial yang sehat juga menjadi bagian penting dalam menjaga kualitas hidup secara keseluruhan. Mengatur arus kas, menekan utang konsumtif, serta menyiapkan dana darurat menjadi langkah dasar yang perlu dilakukan.
“Pasca-Lebaran merupakan momen yang tepat untuk melakukan reset finansial. Langkah sederhana yang dapat dilakukan antara lain disiplin mengelola arus kas, mengendalikan utang, menyiapkan dana darurat, serta lengkapi dengan proteksi guna menjaga kondisi keuangan dari risiko tidak terduga,” ujar Yan Ardhianto Handoyo, Faculty Head Sequis Quality Empowerment (STAE) Sequis Life, dalam kesempatan sama.
Meski demikian, perubahan besar tidak harus dimulai dengan langkah ekstrem. Kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten justru menjadi kunci utama.
“Olahraga yang konsisten akan menjadi kebutuhan tubuh secara alami. Kesibukan seharusnya tidak menjadi alasan untuk mengabaikan kesehatan,” ujar Donna Agnesia, yang merupakan Brand Ambassador Sequis Life.
Menata ulang pola hidup setelah periode penuh perubahan dapat menjadi langkah awal menuju kondisi yang lebih baik. Dengan menjaga keseimbangan antara kesehatan fisik dan kestabilan finansial, kualitas hidup pun bisa lebih terjaga dalam jangka panjang.