Anak Makin Rentan Cemas dan Depresi, Ini 4 Cara Mencegahnya

Anak Makin Rentan Cemas dan Depresi, Ini 4 Cara Mencegahnya, 1. Ajarkan anak mengenali dan mengelola emosi, 2. Latih coping skill dan jadilah role model, 3. Bangun komunikasi yang terbuka dan hangat, 4. Ciptakan rumah sebagai tempat paling aman bagi anak

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menemukan ratusan ribu anak di Indonesia menunjukkan gejala kecemasan dan depresi berdasarkan hasil skrining kesehatan melalui program Cek Kesehatan Gratis (CKG) periode 2025–2026.

Dari sekitar 7 juta anak yang menjalani pemeriksaan, sebanyak 4,4 persen atau sekitar 338.000 anak mengalami gejala cemas (anxiety disorder), sedangkan 4,8 persen atau sekitar 363.000 anak menunjukkan gejala depresi (depression disorder).

Melihat tingginya angka tersebut, para psikolog menekankan pentingnya langkah pencegahan sejak dini. 

Orangtua dinilai memiliki peran besar dalam membantu anak mengelola emosi dan menciptakan lingkungan yang aman secara psikologis. Simak beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mencegah kecemasan dan depresi pada anak.

4 Cara mencegah gejala depresi dan cemas pada anak

1. Ajarkan anak mengenali dan mengelola emosi

Psikolog klinis anak dan remaja Lydia Agnes Gultom, M.Psi. menekankan pentingnya mengenalkan emosi kepada anak sejak dini.

“Bekali dengan pengenalan emosi dan cara mengelola-nya sedini mungkin sesuai dengan usia perkembangannya,” jelas dia saat dihubungi Kompas.com, Sabtu (14/3/2026).

Menurut Lydia, anak perlu memahami berbagai jenis emosi yang mereka rasakan, sekaligus cara mengekspresikannya dengan tepat. Dengan kemampuan ini, anak tidak mudah terjebak dalam perasaan negatif yang berlarut-larut.

Ia juga menambahkan, pemahaman orangtua terhadap tahap perkembangan anak menjadi kunci penting.

“Memahami apa tugas perkembangan mereka juga hal penting untuk jadi rambu-rambu menstimulasi dan mendeteksi apakah tanda atau gejala sesuatu yang wajar terjadi di usianya atau sudah sesuatu yang anomali,” ujarnya.

Anak Makin Rentan Cemas dan Depresi, Ini 4 Cara Mencegahnya, 1. Ajarkan anak mengenali dan mengelola emosi, 2. Latih coping skill dan jadilah role model, 3. Bangun komunikasi yang terbuka dan hangat, 4. Ciptakan rumah sebagai tempat paling aman bagi anak

Ilustrasi

2. Latih coping skill dan jadilah role model

Selain mengenali emosi, anak juga perlu memiliki kemampuan untuk menghadapi tekanan atau masalah yang mereka alami.

“Pastikan mereka memiliki coping skill yang beragam dan terlatih menggunakannya. Orang tua bisa menjadi role model,” kata Lydia.

Coping skill atau keterampilan mengatasi masalah dapat membantu anak menghadapi situasi sulit dengan lebih sehat.  Anak yang terbiasa menggunakan strategi coping yang baik cenderung lebih tangguh secara emosional.

Dalam hal ini, orangtua berperan sebagai contoh. Sikap orangtua dalam menghadapi masalah akan menjadi pembelajaran langsung bagi anak dalam mengelola stres maupun emosi.

3. Bangun komunikasi yang terbuka dan hangat

Lydia juga menekankan pentingnya komunikasi yang terbuka antara orangtua dan anak.

“Bangun komunikasi yang terbuka dan hangat, agar kita bisa mendampingi dan tahu kapan perlu membantu anak dan remaja kita,” ujarnya.

Komunikasi yang baik memungkinkan anak merasa didengar dan dipahami. Hal ini penting agar anak tidak memendam perasaan atau masalah yang mereka alami.

Jika diperlukan, orangtua juga dapat mencari bantuan tambahan untuk mendukung kesehatan mental anak.

“Jika butuh bantuan, bisa sama-sama belajar melalui buku, media pembelajaran lain atau berkonsultasi dengan tenaga profesional,” kata Lydia.

Ia juga mengingatkan, semua upaya tersebut perlu dilakukan secara konsisten agar memberikan hasil yang optimal.

4. Ciptakan rumah sebagai tempat paling aman bagi anak

Psikolog anak dan remaja Gloria Siagian, M.Psi. menekankan, lingkungan keluarga memiliki peran yang sangat penting dalam mencegah masalah kesehatan mental pada anak.

“Saya percaya kuncinya selalu dari rumah, karena lingkungan luar boleh menakutkan, tapi rumah harusnya menjadi tempat yang paling aman buat anak untuk terus kembali pulang,” ujar Gloria.

Menurut dia, anak perlu merasa aman dan diterima sepenuhnya di lingkungan keluarga. 

Perasaan tersebut dapat menjadi pelindung bagi anak dari tekanan yang mereka hadapi di luar rumah.

“Anak tahu bahwa once they get home, once they are with the family, they are safe. Mereka bisa menjadi diri mereka sendiri dan diterima secara utuh,” lanjutnya.

Lingkungan rumah yang hangat dan suportif akan membantu anak tumbuh dengan kondisi mental yang lebih sehat. Dengan demikian, risiko munculnya kecemasan dan depresi dapat diminimalkan sejak dini.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang