Satu Pasien Super Flu Meninggal, Apakah Virus Ini Termasuk Jenis Baru? Ini Kata Dokter

super flu, Satu Pasien Super Flu Meninggal, Apakah Virus Ini Termasuk Jenis Baru? Ini Kata Dokter

Seorang pasien yang terkonfirmasi super flu meninggal dunia saat menjalani perawatan di Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung.

Kasus meninggal tersebut terjadi di tengah perawatan terhadap sepuluh pasien super flu di RSHS Bandung. 

Pasien yang meninggal diketahui memiliki penyakit penyerta atau komorbid, yakni stroke, gagal jantung, dan gangguan ginjal.

Direktur Medik dan Keperawatan RSHS Bandung, Iwan Abdul Eachman, menjelaskan bahwa secara umum gejala super flu menyerupai influenza biasa. 

Namun, keluhan yang dirasakan pasien cenderung lebih berat dan berlangsung lebih lama.

"Jadi kita tak perlu panik dengan situasi ini, saat ini trennya cenderung menurun di semua daerah. Yang penting adalah pencegahan penularan dengan memakai masker, rajin mencuci tangan, kalau gejala dirasa berat segera ke fasilitas kesehatan," ujar Iwan, dikutip dari , Kamis (8/1/2026).

Berkaca dari kasus kematian pasien di RSHS, apakah super flu termasuk virus baru?

Apakah Super Flu adalah Virus Baru?

Menurut Dosen Fakultas Kedokteran IPB University, Dr dr Desdiani, SpP, MKK, MSc (MBioEt), istilah super flu sejatinya bukanlah nama resmi penyakit baru. 

Sebutan tersebut digunakan untuk menggambarkan lonjakan kasus influenza akibat strain virus tertentu.

Super flu merujuk pada virus influenza A subtipe H3N2, khususnya subklade K, yang penyebarannya lebih cepat dan menyebabkan peningkatan signifikan kasus flu musiman. 

Bahkan, hampir 90 persen kasus flu terbaru dikaitkan dengan strain ini.

Meski begitu, Desdiani menegaskan bahwa istilah tersebut tidak termasuk dalam klasifikasi ilmiah baru.

“Virus influenza terus mengalami mutasi untuk menghindari sistem kekebalan tubuh manusia," ujar Desdiani dalam keterangan resmi yang diterima Kompas.com, Senin (12/1/2026).

"Karena itu, vaksin flu perlu diperbarui secara berkala. Subtipe influenza A/H3N2 sendiri telah ada sejak 1968 dan sudah mengalami lebih dari selusin perubahan,” tambahnya.

Ia menambahkan, meskipun musim flu kali ini datang lebih awal, tingkat penularan dan tingkat keparahan penyakit masih berada dalam kategori normal untuk influenza musiman. 

Namun, beban terhadap sistem pelayanan kesehatan tetap perlu menjadi perhatian karena sangat dipengaruhi oleh aktivitas virus dan kesiapan fasilitas kesehatan di setiap wilayah.

Desdiani juga menjelaskan bahwa pemantauan influenza dilakukan secara global melalui Global Influenza Surveillance and Response System (GISRS), jaringan di bawah koordinasi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang melibatkan lebih dari 160 institusi di 131 negara.

“Di negara tropis, aktivitas influenza relatif rendah pada Juni hingga Agustus 2025,” jelasnya.

"Kasus mulai meningkat pada September dan terus naik hingga November 2025, dengan dominasi influenza A/H3N2. Di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, puncak kasus terjadi pada Agustus 2025 dengan subklade K sebagai yang dominan," sambung Desdiani.

Desdiani menambahkan, hasil analisis sekuens genetik menunjukkan bahwa subklade K diketahui mengalami genetic drift atau perubahan genetik yang dapat memengaruhi sifat virus. 

Kendati demikian, jumlah kasus flu dilaporkan telah mencapai fase stabil dan menunjukkan tren penurunan sejak pertengahan Desember 2025.

“Tingkat positivitas tes flu mingguan juga turun menjadi sekitar 4 persen, meski musim flu tahun ini tercatat datang satu bulan lebih awal dengan jumlah kasus tiga kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun 2024,” paparnya.

Bagaimana Cara Mencegah Super Flu?

Sebagai langkah pencegahan, Desdiani menekankan pentingnya vaksinasi influenza. 

Vaksin flu terbukti mampu menurunkan risiko kunjungan ke fasilitas kesehatan atau rawat inap akibat flu hingga 70–75 persen pada anak dan sekitar 30–40 persen pada orang dewasa.

Masyarakat juga diimbau menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat, mengenakan masker saat sakit, beristirahat di rumah, serta menjaga etika batuk dan kebersihan tangan.

“Sebagian besar kasus flu memang sembuh sendiri, tetapi komplikasi serius dapat terjadi, terutama pada anak kecil, lansia, ibu hamil, penderita penyakit kronis, dan tenaga kesehatan,” ujarnya.

Ia menambahkan, kelompok anak-anak, remaja, dan lansia menjadi kelompok yang paling banyak terpapar flu. 

Anak dan remaja rentan terjangkit karena tingginya interaksi di lingkungan sekolah.

Sementara itu, lansia berisiko mengalami kondisi berat akibat penyakit penyerta dan penurunan daya tahan tubuh. 

Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang