Super Flu Jadi Sorotan Dunia, Berbahaya dan Apa Saja Gejalanya?
Varian baru super flu tengah ramai diperbincangkan di dunia medis. Varian ini bahkan menyebabkan 71 ribu warga New York terinfeksi dalam sepekan. Lantas apa itu ’super flu’ dan seberapa bahayanya? Apakah lebih ganas dari COVID-19?
’Super flu’ merupakan varian virus influenza A H3N2 yang dikenal sebagai subclade K. Pada kasus-kasus sebelumnya, jenis influenza H3N2 memang dikenal lebih berat dan membutuhkan waktu pemulihan yang lebih lama dibandingkan flu biasa.
Menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC), super flu pertama kali menjadi perhatian di Inggris sebelum menyebar melintasi Atlantik ke Amerika Serikat.
“Inggris terdampak cukup parah Hal serupa juga terjadi di Eropa dan Australia. Ini bisa menjadi gambaran awal dari apa yang kemungkinan akan kita hadapi. Musim flu kali ini akan sangat berat,” kata Neil Maniar dari Northeastern University dikutip dari laman Fox8, Selasa 30 Desember 2025.
Sementara itu, sejak September, para dokter sudah memperingatkan soal super flu ini. Namun, kemunculan super flu ditambah rendahnya angka vaksinasi membuat kewaspadaan semakin meningkat.
“Ini bisa menjadi penyakit yang sangat serius. Kita harus menyikapinya dengan sungguh-sungguh dan mengambil langkah untuk melindungi diri.Seiring kita memasuki puncak musim flu, situasinya kemungkinan akan cukup berat,” kata Maniar.
Para ahli khawatir rendahnya cakupan vaksin flu di Amerika Serikat bisa memicu musim flu terburuk dalam sejarah. Meski begitu, mereka menilai masih ada waktu untuk memperbaiki keadaan.
“Belum terlambat, terutama menjelang musim liburan dan perjalanan. Sekarang adalah waktu yang tepat bagi masyarakat untuk mendapatkan vaksin flu atau vaksin COVID sebagai lapisan perlindungan tambahan selama musim liburan,” ujar spesialis penyakit menular Dr. Andrew Pekosz.
Meski sempat muncul kekhawatiran bahwa vaksin flu tahun ini tidak sepenuhnya cocok dengan subtipe K, Pekosz menegaskan vaksin tetap memberikan perlindungan yang baik.
“Ada tiga jenis virus influenza utama penyebab flu, dan vaksin mencakup ketiganya. Untuk dua di antaranya, kecocokannya cukup baik, dan kami yakin vaksin tetap memberikan perlindungan setidaknya sebagian terhadap virus clade K H3N2 ini.”
CDC sendiri merekomendasikan vaksin flu untuk semua orang berusia 6 bulan ke atas.
Apa saja gejala ‘super flu’?
Subclade K menyebabkan gejala yang mirip dengan jenis flu lainnya, antara lain:
- Demam tinggi
- Nyeri tubuh yang parah
- Kelelahan ekstrem
- Batuk yang tak kunjung reda
- Sakit tenggorokan
- Sakit kepala hebat
Selain itu, sejumlah penderita juga melaporkan mengalami sesak napas, nyeri dada, gangguan pencernaan, hingga tubuh terasa lemah dalam waktu yang lama.
Bagaimana pengobatan ‘super flu’?
Seiring meningkatnya jumlah kasus yang belum menunjukkan tanda-tanda penurunan, para dokter menegaskan bahwa obat antivirus menjadi senjata utama untuk menangani flu berat. CDC merekomendasikan empat jenis obat, yakni Tamiflu, Xofluza, Relenza, dan Rapivab.
Xofluza berbentuk pil yang digunakan untuk pengobatan dini flu ringan pada anak usia 5 tahun ke atas. Relenza diberikan untuk usia 7 tahun ke atas, sementara Rapivab digunakan untuk pengobatan dini flu pada pasien berusia 6 bulan ke atas.
“Pastikan minum cukup cairan, istirahat yang cukup, serta konsumsi Tylenol atau Advil untuk membantu menurunkan demam, meredakan sakit kepala, dan nyeri otot di rumah,” ujar Dr. Mark Mulligan dari Vaccine Center NYU Langone Health.
Di mana saja penyebaran ‘super flu’ paling parah?
Data terbaru flu dari CDC sempat tertunda akibat libur Natal. Namun, hingga pertengahan Desember tercatat lonjakan signifikan jumlah orang yang terinfeksi.
Tingkat penyebaran virus berada pada level sangat tinggi di negara bagian New York, New Jersey, Rhode Island, Louisiana, dan Colorado. Bahkan, Manhattan mencatat lonjakan kasus hingga 104 persen pada awal bulan ini.
“Kami melihat lonjakan tajam di New York karena kepadatan penduduknya. Wilayah ini juga menjadi pusat perjalanan internasional dan domestik,” kata Dr. Ulysses Wu dari Hartford Hospital.
Selain itu, sejumlah negara bagian lain seperti Connecticut, Idaho, Massachusetts, Michigan, dan South Carolina juga dilaporkan terdampak cukup parah.