Seberapa Sering BAB yang Normal? Ini Kata Dokter

Seberapa Sering BAB yang Normal? Ini Kata Dokter

Fekuensi dan pola buang air besar (BAB) merupakan salah satu indikator penting kesehatan tubuh, terutama sistem pencernaan dan metabolisme.

Sebuah studi yang dipublikasikan dalam jurnal Cell Reports Medicine mengungkap temuan menarik tentang seberapa sering seseorang BAB dan kaitannya dengan risiko penyakit kronis. 

Seperti disadur SELF Magazine, Sabtu (28/2/2026), penelitian ini menganalisis data 1.425 orang dewasa yang melaporkan frekuensi BAB mereka setiap hari.

Hasilnya menunjukkan, bahwa frekuensi BAB yang dianggap paling sehat mungkin berbeda dari anggapan umum.

Berapa frekuensi BAB yang ideal dalam sehari?

Penelitian tersebut menemukan bahwa partisipan yang paling sehat umumnya BAB satu hingga dua kali sehari. 

Kelompok ini cenderung memiliki profil metabolik dan kadar zat sisa dalam darah yang lebih baik, dibandingkan mereka yang BAB terlalu jarang atau terlalu sering.

Salah satu penulis studi, Sean M. Gibbs, PhD, menjelaskan bahwa mikrobioma usus berperan besar dalam proses ini. 

“Kita semua memiliki mikrobioma usus, dan mikroba ini bisa bermanfaat atau merugikan tergantung kondisinya,” ujarnya.

Ketika BAB terlalu jarang, limbah metabolik bisa bertahan lebih lama di usus dan memicu produksi racun tertentu.

“Jika kamu mengalami sembelit, mikroba akan menghabiskan serat makanan dan beralih memecah protein. Proses ini menghasilkan berbagai produk sampingan yang bersifat toksik,” lanjut dia.

Jika terlalu jarang BAB, apa risikonya?

Dalam studi tersebut, peserta yang hanya BAB beberapa kali dalam seminggu ditemukan memiliki kadar toksin uremik lebih tinggi dalam darah. 

Toksin ini merupakan produk limbah metabolik yang seharusnya disaring oleh ginjal.

Menurut ahli gastroenterologi, Aditya Sreenivasan, MD, semakin jarang seseorang BAB, semakin lama limbah berada di kolon. 

“Produksi toksin yang terjadi akibat kondisi ini dapat meningkatkan risiko berbagai penyakit kronis, terutama penyakit ginjal kronis,” katanya.

Namun, penting dicatat bahwa penelitian ini tidak menyimpulkan bahwa orang yang jarang BAB pasti akan mengalami penyakit ginjal. 

Studi hanya menemukan adanya peningkatan zat yang berpotensi meningkatkan risiko tersebut.

Frekuensi BAB yang terlalu jarang bisa menjadi sinyal bahwa sistem pencernaan tidak bekerja optimal.

Apakah terlalu sering BAB lebih baik?

Secara teori, mungkin terdengar logis bahwa semakin sering BAB maka semakin baik. Namun para ahli menegaskan, terlalu sering BAB juga tidak selalu sehat.

“Frekuensi BAB yang terlalu sering dapat mengurangi kesempatan bakteri usus mendapatkan zat yang dibutuhkan untuk berkembang dengan baik,” jelas Gibbs.

Ketidakseimbangan ini dapat menyebabkan gangguan mikrobioma dan berpotensi memicu masalah kesehatan lainnya.

BAB lebih dari dua kali sehari, terutama jika disertai feses cair, bisa menjadi tanda gangguan seperti peradangan usus. 

Dalam kondisi tertentu, diare yang terus-menerus juga dapat menyebabkan dehidrasi dan gangguan penyerapan nutrisi.

Rentang normal perlu dipersempit

Selama ini, rentang normal BAB yang sering disebut adalah tiga kali seminggu hingga tiga kali sehari. Akan tetapi, menurut Gibbs, rentang tersebut terlalu luas.

“Saat ini, klinisi masih menggunakan rentang yang sangat luas untuk mendefinisikan normal, dan menurut saya itu terlalu lebar. Kita perlu mempersempitnya,” terangnya.

Ia juga menambahkan bahwa ada perbedaan berdasarkan jenis kelamin. 

“Perempuan cenderung BAB lebih jarang dibandingkan laki-laki, berdasarkan berbagai data yang ada,” katanya.

Oleh karenanya, frekuensi satu hingga dua kali sehari mulai dianggap sebagai patokan ideal bagi banyak orang dewasa sehat, meskipun tetap harus mempertimbangkan kondisi individu masing-masing.

Yang paling penting adalah konsistensi. Perubahan mendadak dan berlangsung lama, misalnya dari biasanya dua kali sehari menjadi hanya dua kali seminggu, perlu dikonsultasikan ke dokter, terutama jika disertai nyeri perut, darah pada tinja, atau penurunan berat badan tanpa sebab jelas.

Menjaga asupan serat dari buah dan sayur, minum cukup air, serta rutin beraktivitas fisik dapat membantu menjaga pergerakan usus tetap lancar.

Jadi, seberapa sering kamu BAB? Jawabannya mungkin lebih penting bagi kesehatanmu daripada yang selama ini kamu kira. 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang