Kasus Super Flu Marak di Jawa Barat, IDI Tegaskan Bukan Penyakit Baru, Gejalanya Setara Flu Musiman
- Apa yang dimaksud dengan temuan super flu di Jawa Barat?
- Mengapa istilah super flu tidak dikenal dalam dunia medis?
- Apa itu virus H3N2 subclade K yang sedang ramai dibicarakan?
- Apakah super flu lebih berbahaya dibandingkan Covid-19?
- Bagaimana cara masyarakat menyikapi temuan ini?
- Apakah kondisi nasional masih terkendali?
Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Jawa Barat mengonfirmasi adanya temuan kasus infeksi virus influenza A(H3N2) subclade K di wilayahnya sepanjang 2025.
Berdasarkan hasil pemeriksaan whole genome sequencing, tercatat 10 pasien di Jawa Barat dinyatakan positif terinfeksi varian yang belakangan ramai disebut sebagai super flu.
Temuan tersebut merupakan bagian dari data nasional yang dihimpun oleh Kementerian Kesehatan RI.
Meski istilah super flu banyak digunakan di ruang publik, IDI Jabar menegaskan bahwa data ini bukan berasal dari surveilans internal organisasi, melainkan hasil pemantauan pemerintah pusat yang terus dikomunikasikan kepada pemangku kepentingan di daerah.
Apa yang dimaksud dengan temuan super flu di Jawa Barat?
Ketua IDI Jawa Barat dr. Moh. Luthfi menjelaskan, 10 kasus tersebut teridentifikasi setelah pasien menjalani pemeriksaan lanjutan menggunakan metode whole genome sequencing. Pemeriksaan ini bertujuan untuk mengetahui jenis dan mutasi virus secara detail.
“Kalau data yang saya dapatkan sih di Jawa Barat itu ada 10 pasien yang diperiksa dan ternyata positif dari pemeriksaan whole genome sequencing,” kata dr. Moh. Luthfi saat dihubungi, Jumat (2/1/2026).
Meski demikian, Luthfi mengaku belum memperoleh data rinci terkait persebaran wilayah kasus tersebut.
Ia menyebutkan, kewenangan surveilans epidemiologi sepenuhnya berada di Dinas Kesehatan serta Kementerian Kesehatan RI.
Mengapa istilah super flu tidak dikenal dalam dunia medis?
Luthfi menegaskan bahwa istilah super flu sejatinya tidak dikenal secara formal dalam terminologi medis.
Penyakit yang dimaksud masuk ke dalam kelompok influenza like illness atau ILI, yaitu kumpulan penyakit dengan gejala yang menyerupai flu pada umumnya.
Menurutnya, ILI tidak hanya disebabkan oleh virus influenza, tetapi juga bisa dipicu oleh berbagai jenis virus lain.
“Nah, ini bisa disebabkan oleh virus influenza sendiri atau virus lain ya, seperti rinovirus atau para influenza atau virus-virus yang lainnya,” terang Luthfi.
Karena itu, penggunaan istilah super flu dinilai berpotensi menimbulkan kekhawatiran berlebihan di masyarakat jika tidak disertai pemahaman medis yang utuh.
Apa itu virus H3N2 subclade K yang sedang ramai dibicarakan?
Secara medis, virus influenza yang umum dikenal terbagi ke dalam dua kelompok besar, yakni H1N1 dan H3N2.
Di Indonesia, tipe H3N2 merupakan penyebab yang paling sering ditemukan pada kasus gangguan pernapasan ringan.
Varian subclade K yang saat ini terdeteksi merupakan mutasi dari virus H3N2. Namun, IDI Jabar menilai karakteristik mutasi tersebut tidak mengalami perubahan ekstrem dibandingkan varian sebelumnya.
“Jadi sebetulnya H3N2 ini kan umum ya sebagai penyebab influenza dan tipe yang baru ini yang subclade K ini memang mutasi dari H3N2 tapi juga tidak lebih ekstrim gitu ya perubahannya ya hampir sama dengan virus yang lain,” ujar Luthfi.
Apakah super flu lebih berbahaya dibandingkan Covid-19?
IDI Jabar meminta masyarakat untuk tidak menyamakan kasus influenza A(H3N2) subclade K dengan pandemi Covid-19.
Dari sisi tingkat keparahan, penyakit ini dinilai jauh lebih ringan dan tergolong flu biasa, meskipun penularannya relatif lebih cepat.
“Virus flu biasa saja sih sebetulnya. Tidak terlalu perlu dikhawatirkan seperti Covid gitu ya, berbeda sekali jenisnya. Dari sisi apakah bahaya atau tidak hampir sama dengan virus-virus lainnya. Hanya memang lebih cepat menular,” kata Luthfi.
Di Indonesia, Kementerian Kesehatan mencatat total 62 kasus super flu hingga akhir 2025. Sementara itu, Jawa Barat baru melaporkan 10 kasus yang terdeteksi secara genetik.
Bagaimana cara masyarakat menyikapi temuan ini?
Luthfi menegaskan bahwa mayoritas pasien dapat pulih dengan perawatan sederhana. Upaya yang disarankan antara lain menjaga daya tahan tubuh, menerapkan pola hidup bersih dan sehat, serta mencukupi waktu istirahat.
“Cuman dengan istirahat yang cukup, pola hidup bersih, itu juga bisa membaik diri,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan masyarakat untuk tidak panik dan tetap beraktivitas secara normal dengan menerapkan kebiasaan hidup sehat.
Apakah kondisi nasional masih terkendali?
Kementerian Kesehatan RI memastikan perkembangan kasus influenza A(H3N2) subclade K di Indonesia masih berada dalam batas aman dan terkendali.
Direktur Penyakit Menular Kemenkes RI dr. Prima Yosephine menyebutkan bahwa peningkatan kasus serupa juga terpantau secara global sejak kuartal akhir 2025.
Subclade K pertama kali diidentifikasi oleh Centers for Disease Control and Prevention (CDC) Amerika Serikat pada Agustus 2025 dan kini telah dilaporkan di lebih dari 80 negara. Di kawasan Asia, varian ini terdeteksi di China, Korea Selatan, Jepang, Singapura, dan Thailand.
“Penilaian WHO dan data epidemiologi yang tersedia menunjukkan tidak ada peningkatan tingkat keparahan pada subclade K. Gambaran klinisnya masih sama dengan flu musiman,” kata dr. Prima.
Gejala yang muncul umumnya berupa demam, batuk, pilek, sakit kepala, hingga nyeri tenggorokan.
Dengan pemantauan berkelanjutan dan kesadaran masyarakat menjaga kesehatan, pemerintah berharap penyebaran virus ini tetap dapat dikendalikan.
Sebagian artikel ini telah tayang di dengan judul "10 Kasus Super Flu di Jawa Barat, IDI: Tak Perlu Khawatir seperti Covid".
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang