Satu Pasien Super Flu Meninggal di Bandung, Dokter Ungkap Gejala dan Kapan Harus ke RS

Bandung, super flu, Satu Pasien Super Flu Meninggal di Bandung, Dokter Ungkap Gejala dan Kapan Harus ke RS

Super flu sudah masuk Indonesia dan sebaran kasusnya ada dari berbagai provinsi.

Terbaru dilaporkan, ada sebanyak 10 pasien terkonfirmasi influenza A subklade H3N2 (c241) yang dirawat di Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung.  

Dari 10 kasus tersebut, dua pasien mengalami kondisi berat, dengan satu di antaranya sempat dirawat di ruang intensif, dan satu pasien meninggal dunia karena disertai penyakit penyerta atau komorbid seperti stroke, gagal jantung, dan gangguan ginjal.

Direktur Medik dan Keperawatan RSHS Iwan Abdul Rachman menegaskan bahwa istilah "super flu" bukanlah terminiologi medis resmi.

Dilansir dari Kamis, menurutnya istilah itu digunakan masyarakat untuk menggambarkan infeksi influenza yang dirasakan lebih berat, lebih lama atau penyebarannya lebih cepat.  

"Jadi untuk super flu ini gejalanya seperti influenza biasa, hanya dirasakan lebih berat dan lebih lama. Jadi kita tak perlu panik dengan situasi ini, saat ini trennya cenderung menurun di semua daerah. Yang penting adalah pencegahan penularan dengan memakai masker, rajin mencuci tangan, kalau gejala dirasa berat segera ke fasilitas kesehatan," kata Iwan saat konferensi pers di MCHC RSHS Bandung, Kota Bandung, Jawa Barat, Kamis (8/1/2026).

Ketua Tim Pinere RSHS dr. Yovita Hartantri menjelaskan bahwa influenza A ini meningkat tajam sejak Agustus tahun 2025 lalu, dengan puncaknya di bulan Oktober, namun menurun pada bulan November 2025.  

Dari 10 pasien Influenza A Subclade K ini terdapat dua bayi berusia 9 bulan dan 1 tahun, satu anak usia 11 tahun, serta mayoritas pasien berusia 20-60 tahun, dengan dua pasien berusia di atas 60 tahun.

RSHS mencatat, pasien-pasien tersebut dirawat sejak Sepember hingga November 2025.

"Satu yang masuk ruang intensif harus dinyatakan meninggal karena disebabkan ada komorbid lain seperti stroke, ada gagal jantung, terakhir karena ada infeksi kena gagal ginjal juga. Jadi apakah itu langsung disebabkan karena virus, kita tak bisa menyatakan karena memang dia mempunyai komorbid yang banyak," ucapnya.

Mengenal super flu

Dilansir dari laman Parade, pakar kesehatan masyarakat dan spesialis penyakit menular Dr. Tyler B. Evans mengatakan bahwa influenza A H3N2 mengalami pergeseran genetik tahun ini dengan menghasilkan varian baru yang disebut subklade K.

Beberapa anak sehat di Amerika Serikat dilaporkan meninggal dunia akibat strain H3N2 dan komplikasinya, menurut American Academy of Pediatrics.

“Musim flu 2025–2026 merupakan salah satu yang terkuat dalam catatan sejarah, dengan beberapa negara bagian di AS melaporkan angka rawat inap dan kunjungan IGD yang tinggi, bahkan memecahkan rekor,” kata epidemiolog penyakit menular Dr. Brad Hutton.

Hutton menambahkan, lebih dari 90 persen virus flu yang diuji baru-baru ini adalah tipe A (H3N2), sebagian besar termasuk subklade K yang baru, yang mengalami mutasi dari virus yang beredar sebelumnya saat keputusan komposisi vaksin dibuat.

Yang membuat varian ini lebih parah bukan hanya virusnya, tetapi juga karena mutasi ini tidak sepenuhnya sesuai dengan perkiraan para ahli saat menyusun vaksin musim ini.

Dr. Shoshana Ungerleider menambahkan, virus ini telah berubah cukup signifikan sehingga sistem kekebalan tubuh tidak mengenalinya dengan baik, menyebabkan angka rawat inap lebih tinggi, terutama pada lansia dan anak kecil.

Apa saja gejala super flu?

Gejala flu biasa menurut CDC meliputi:

  • Nyeri tubuh
  • Menggigil
  • Batuk
  • Kelelahan
  • Demam
  • Sakit kepala
  • Nyeri otot
  • Hidung berair atau tersumbat
  • Sakit tenggorokan

Pada super flu, gejala-gejala tersebut lebih berat, ditambah tanda peringatan seperti:

  • Sesak napas
  • Nyeri dada
  • Kebingungan
  • Kelemahan berat
  • Muntah terus-menerus
  • Gejala yang memburuk, bukan membaik
  • Gejala flu sering muncul secara mendadak, bukan bertahap. Lansia dan anak-anak juga bisa menunjukkan gejala yang tidak khas, seperti mudah rewel, mengantuk, atau bingung.

Pengobatan super flu

Jika terinfeksi, tersedia obat antivirus seperti oseltamivir (Tamiflu) dan baloxavir (Xofluza), yang paling efektif bila diberikan dalam 48 jam sejak gejala muncul.

Kelompok berisiko tinggi disarankan segera berkonsultasi dengan dokter.

Jika gejala memburuk atau tidak membaik setelah 7–10 hari, segera cari bantuan medis.

Kabar baik tentang super flu adalah, bagi sebagian besar orang yang pada dasarnya sehat, kondisi tidak akan terasa terlalu buruk dalam waktu lama.

“Sebagian besar orang yang sehat akan pulih dalam waktu sekitar satu minggu, meskipun rasa lelah dan batuk bisa berlangsung lebih lama,” kata dokter penyakit dalam bersertifikat, Dr. Shoshana Ungerleider.

“Pemulihan dapat memakan waktu beberapa minggu pada lansia, orang dengan penyakit kronis, atau siapa pun yang mengalami komplikasi atau memerlukan perawatan di rumah sakit,” sambungnya.

Namun demikian, penting untuk tetap memperhatikan gejala yang berlangsung lama.

“Jika gejala bertahan lebih dari tujuh hingga 10 hari, memburuk setelah sekitar satu minggu, atau muncul kesulitan bernapas, segera konsultasikan dengan tenaga kesehatan,” ujar Dr. Maureen Tierney, ketua Departemen Riset Klinis dan Kesehatan Masyarakat di Creighton University.

Meski gejala sisa yang dirasakan tampak tidak serius, pemeriksaan medis tetap disarankan sebagai langkah antisipasi.

Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang