Kulit Perempuan Lebih Sensitif Terhadap pH Air Dibanding Pria, Benarkah? Ini Kata Dokter
Benarkah kulit perempuan lebih sensitif terhadap pH air dibanding kulit pria?
Menurut Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin, dr. M. Akbar Wedyadhana, Sp.DVE., FINSDV., sensitivitas kulit terhadap faktor eksternal, termasuk pH air, tidak bisa dilihat hanya dari perbedaan gender.
“Ya artinya karena tipe kulitnya itu berbeda, kesensitifannya memang bisa berbeda,” ujar dr. Dhana dalam acara Kahf Decode di Hotel InterContinental Jakarta Pondok Indah, Jakarta Selatan, Rabu (26/11/2025).
Ia melanjutkan, meskipun secara umum kulit pria cenderung lebih tebal dan memiliki produksi minyak lebih tinggi dibandingkan perempuan, hal itu tidak otomatis membuat kulit pria lebih kebal terhadap perubahan pH air.
Dalam praktik sehari-hari, ada juga pria yang mengalami keluhan seperti kulit terasa perih setelah mencuci wajah, kulit memerah saat mandi, atau kulit terasa lebih kering setelah terpapar air, terutama jika menggunakan air panas atau air dengan kadar mineral tertentu.
Artinya, sensitivitas kulit tidak bisa disederhanakan hanya berdasarkan apakah seseorang laki-laki atau perempuan, melainkan lebih berkaitan dengan kondisi dan karakter dasar kulit masing-masing.
Kulit pria dan perempuan bisa sensitif pada pH air
dr. M. Akbar Wedyadhana, Sp.DVE., FINSDV., dalam acara Press Conference Kahf Decode di Hotel InterContinental Jakarta Pondok Indah, Jakarta Selatan, Rabu (26/11/2025).
Walaupun kulit pria sering dibilang lebih “badak” daripada kulit wanita, dr. Dhana menekankan bahwa pada kondisi tertentu, pria justru bisa memiliki tingkat sensitivitas kulit yang sama atau bahkan lebih tinggi dibanding perempuan.
“Tapi ya kalau misalnya seorang pria itu terlahir dengan riwayat kulit sensitif, atau eksim atau atopik, dermatitis atopik, dia bisa sama sensitifnya dengan perempuan, bahkan lebih sensitif,” ungkapnya.
Sebagai informasi, eksim atau dermatitis atopik merupakan kondisi peradangan kulit kronis yang ditandai dengan rasa gatal, kemerahan, kulit kering, dan bersisik.
Kondisi ini berkaitan dengan gangguan pada skin barrier sehingga kulit menjadi lebih mudah iritasi dan rentan bereaksi terhadap pemicu eksternal, termasuk perubahan pH air.
Idealnya, pH air dan produk pembersih yang digunakan pada kulit sebaiknya berada di kisaran 4,5–6, mendekati pH alami kulit manusia yang cenderung sedikit asam. Rentang ini membantu menjaga keseimbangan skin barrier agar tetap optimal dan tidak mudah iritasi.
Faktor genetik pengaruhi kulit seseorang
Tak hanya kulit perempuan, kulit pria juga bisa sensitif terhadap pH air. Faktor genetik dan kondisi dasar kulit jadi kunci perbedaannya.
Selain faktor gender, dr. Dhana juga menekankan peran faktor genetik dalam menentukan sensitivitas kulit seseorang.
“Jadi memang banyak faktor dari segi gendernya, termasuk juga dari segi genetiknya, sensitifnya bisa sama seperti itu,” jelasnya.
Ia menilai bahwa riwayat keluarga dengan masalah kulit tertentu, seperti eksim, alergi, atau kulit sangat sensitif, bisa meningkatkan kemungkinan seseorang mengalami kondisi yang sama.
“Tergantung dasar kulitnya atau masalah kulit dasarnya apa,” tambahnya.
Artinya, seseorang yang sejak lahir sudah memiliki kecenderungan kulit sensitif tetap perlu memberikan perhatian ekstra, terlepas dari jenis kelaminnya.
Dengan demikian, dr. Dhana menilai bahwa memahami karakter kulit masing-masing menjadi lebih penting daripada sekadar membedakan berdasarkan gender.
Dengan perawatan yang tepat, risiko iritasi akibat paparan air dapat diminimalkan, baik untuk pria maupun perempuan, sekaligus menjaga kesehatan kulit dalam jangka panjang.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang