Bisakah Akupunktur Membantu Mengatasi Bayi Sungsang? Ini Kata Dokter

Akupunktur, akupunktur untuk bayi sungsang, Bisakah Akupunktur Membantu Mengatasi Bayi Sungsang? Ini Kata Dokter

Posisi bayi sungsang sering menjadi salah satu kekhawatiran ibu hamil, terutama saat usia kehamilan memasuki trimester ketiga. 

Kondisi ini terjadi ketika posisi kepala bayi berada di atas, sementara bokong atau kaki mengarah ke jalan lahir.

Pada kondisi normal, menjelang persalinan kepala bayi seharusnya sudah berada di bagian bawah untuk mempermudah proses kelahiran. 

Akupunktur kini menjadi salah satu terapi pendamping yang disebut dapat membantu mendorong perubahan posisi bayi. Lantas, seberapa efektif metode ini?

Dokter Spesialis Akupuntur Medik Eka Hospital PIK, dr. Laura Widiastuti, Sp.Ak menjelaskan, akupunktur memiliki tingkat keberhasilan yang cukup baik untuk membantu mengatasi bayi sungsang, terutama jika dilakukan pada waktu yang tepat.

Tingkat keberhasilan mencapai 60–70 persen

Menurut dr. Laura, terapi akupunktur dapat memberikan hasil optimal bila dilakukan saat usia kehamilan tertentu, ketika ruang gerak bayi di dalam rahim masih cukup memadai.

“Persentasenya keberhasilannya bisa sekitar 60 sampai 70 persen untuk mengatasi sungsang. Di rentang minggu tersebut, masih bisa dicoba karena ketuban ibu masih cukup banyak dan bayi bisa berputar di dalamnya,” kata dr. Laura dalam Media Meet Up Eka Hospital PIK & Pluit di Jakarta Selatan, belum lama ini.

Keberhasilan terapi sangat dipengaruhi oleh jumlah cairan ketuban, posisi plasenta, hingga kondisi rahim ibu.

Saat ketuban masih cukup banyak, bayi memiliki ruang yang lebih leluasa untuk bergerak dan mengubah posisi.

Oleh karena itu, akupunktur tidak dilakukan terlalu dekat dengan waktu persalinan, ketika ruang gerak bayi semakin terbatas.

Dilakukan pada usia kehamilan 32 hingga 36 minggu

Dr. Laura menjelaskan, akupunktur untuk bayi sungsang biasanya direkomendasikan ketika posisi bayi belum berubah pada usia kehamilan 32 minggu.

“Akupunktur bisa untuk mengatasi bayi sungsang, jika di usia kehamilan 32 minggu posisinya tidak berbalik. Terapi ini bisa dilakukan sampai 36 minggu, dengan dicek terus posisi bayi,” ujarnya.

Rentang waktu tersebut dianggap ideal karena bayi masih memiliki peluang cukup besar untuk memutar posisi secara alami.

Pemantauan berkala melalui pemeriksaan medis tetap diperlukan untuk memastikan perubahan posisi bayi dan menentukan apakah terapi perlu dilanjutkan.

Jika dilakukan terlalu dini, posisi bayi masih dapat berubah dengan sendirinya. Sebaliknya, jika terlambat, efektivitas terapi cenderung menurun karena ruang gerak di dalam rahim semakin sempit.

Cara kerja akupunktur dalam merangsang pergerakan bayi

Berbeda dengan tindakan medis yang bersifat invasif, akupunktur bekerja melalui stimulasi titik-titik tertentu pada tubuh untuk mengaktifkan sistem saraf otonom.

“Melalui akupunktur untuk sungsang ini, kami akan mengaktifkan saraf-saraf otonomnya untuk melakukan perangsangan agar bayi bergerak, tapi tidak kuat rangsangannya,” jelas dr. Laura.

Stimulasi ini menimbulkan kontraksi ringan pada rahim, namun intensitasnya tidak cukup kuat untuk memicu persalinan.

“Terdapat kontraksi, namun tidak cukup kuat untuk merangsang persalinan. Akan tetapi, bergerak untuk memposisikan atau memutar posisi bayi,” katanya.

Selain jarum akupunktur, terapi juga dilengkapi dengan moksibusi, yakni teknik pemanasan pada titik-titik tertentu menggunakan alat khusus.

“Sebaiknya dilakukan 2 kali dalam seminggu. Nanti sang ibu akan diberikan moksibusi atau penghangat yang bisa dikompres di titik-titik badan tertentu,” ungkapnya.

Terapi kombinasi ini bertujuan meningkatkan stimulasi agar tubuh merespons secara optimal.

Respons tiap ibu hamil bisa berbeda

Dr. Laura menegaskan, sensasi yang dirasakan selama terapi dapat berbeda pada setiap pasien.

“Reaksi di ibu hamil juga berbeda-beda, ada yang merasa hangat, rasanya seperti kesemutan, ada rasa kaget sedikit, tapi reaksi ini bisa berbeda-beda di setiap pasien,” jelasnya.

Respons tersebut umumnya merupakan bagian dari reaksi tubuh terhadap stimulasi saraf dan masih dalam batas normal.

Meski demikian, terapi akupunktur bukan jaminan keberhasilan mutlak.

“Namun, jika setelah itu memang tidak ada perubahan, maka kami akan konsultasikan ke dokter obgynnya juga untuk dilakukan penanganan lebih lanjut,” kata dr. Laura.

Karena itu, akupunktur sebaiknya dilakukan sebagai terapi pendamping yang terintegrasi dengan pemantauan dokter kandungan.

Dengan penanganan yang tepat dan dilakukan oleh tenaga medis tersertifikasi, akupunktur dapat menjadi salah satu alternatif noninvasif untuk membantu mengatasi posisi bayi sungsang sebelum persalinan.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang