Apakah Super Flu Bisa Sembuh Sendiri? Ini Kata WHO

super flu, gejala super flu, Apakah Super Flu Bisa Sembuh Sendiri? Ini Kata WHO

Super flu sedang mewabah di Amerika Serikat (AS) dan menjangkiti jutaan warga.

Lonjakan kasus super flu ini menyebabkan angka penyakit pernapasan melonjak dan memberi tekanan besar pada fasilitas kesehatan di sejumlah wilayah, termasuk New York City. 

Dilansir dari , Senin, pejabat kesehatan masyarakat dan pakar epidemiologi menyatakan jumlah kasus influenza tahun ini meningkat lebih cepat dari musim flu biasa.

Varian yang mendominasi yaitu subclade K dari virus influenza A (H3N2), yang lebih mudah menular dan kurang cocok dengan vaksin flu yang dikembangkan sebelumnya. 

Data terbaru menunjukkan setidaknya 4,6 juta orang telah terinfeksi flu, dengan 49.000 pasien dirawat di rumah sakit dan sekitar 1.900 orang meninggal termasuk beberapa anak-anak.

“Musim flu kali ini lebih parah dari biasanya, dan kita bahkan belum mencapai puncaknya,” kata Komisaris Kesehatan New York. 

Mengenal super flu

Dinamakan super flu karena mengacu pada sifat penularan yang cepat dari varian subclade K.

Meski bukan virus baru, mutasinya membuat kekebalan masyarakat dari vaksin dan infeksi sebelumnya kurang efektif mencegah penularan. 

Menurut pakar, virus ini menyerupai influenza musiman namun dengan kemampuan penyebaran lebih tinggi.

Gejala yang dilaporkan mirip flu biasa, seperti demam, lelah, nyeri otot, dan pilek. Namun, sering kali gejala ini muncul lebih cepat dan intens.

Berikut gejala super flu: 

  • Demam tinggi mendadak disertai menggigil. 
  • Kelelahan berat (extreme fatigue). 
  • Nyeri otot dan sendi intens. 
  • Sakit kepala hebat. 
  • Batuk kering yang persisten. 
  • Sakit tenggorokan. 
  • Hidung tersumbat atau pilek. 
  • Mual, muntah, atau diare (lebih sering terjadi terutama pada anak-anak).

Menurut laporan para dokter di AS, tidak semua gejalanya berbeda dari flu biasa, tetapi:

  • Onset (munculnya gejala) sering lebih cepat dan tajam. 
  • Tingkat keparahan gejala lebih tinggi, misalnya demam yang lebih tinggi, rasa sakit yang lebih intens, dan kelelahan yang lebih parah. 

Komplikasi seperti pneumonia, bronkitis, dan infeksi sekunder juga menjadi risiko bagi kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan penderita penyakit kronis.

Apakah super flu bisa sembuh sendiri?

Dilansir dari laman WHO, seperti infeksi influenza pada umumnya, sebagian besar kasus super flu atau flu musiman dapat sembuh sendiri tanpa perawatan medis tertentu.

Hal ini terjadi terutama pada orang sehat dan kelompok yang tidak memiliki faktor risiko berat (misalnya bukan lansia, bayi, atau orang dengan penyakit penyerta).

Tubuh secara alami akan melawan virus tersebut, dan gejala biasanya mereda dalam beberapa hari hingga kurang lebih satu minggu. 

Panduan kesehatan dari WHO mengatakan bahwa pada umumnya flu musiman dapat sembuh dalam waktu sekitar satu minggu dengan perawatan mandiri sederhana seperti istirahat, asupan cairan yang cukup, dan manajemen gejala di rumah.

Obat antivirus bisa dipertimbangkan untuk kelompok risiko tinggi atau kasus yang berat, tetapi tidak selalu diperlukan untuk sembuh. 

Meskipun banyak orang dapat sembuh sendiri, ada keadaan di mana super flu bisa berpotensi menyebabkan komplikasi serius yang memerlukan penanganan medis.

Flu yang berat dapat berkembang menjadi pneumonia, infeksi pernapasan bawah, atau memperburuk kondisi kesehatan yang mendasarinya, terutama pada lansia, anak kecil, atau orang dengan penyakit kronis. 

Jika gejala makin parah, tidak membaik setelah beberapa hari, atau disertai kesulitan bernapas, nyeri dada hebat, kebingungan, atau dehidrasi berat, disarankan untuk segera mencari bantuan medis.

Ini terutama penting karena varian H3N2, termasuk yang disebut super flu, cenderung menyebar luas dan bisa membebani layanan kesehatan di musim puncak wabah. 

Berikut panduan CDC soal penanganan super flu:

1. Minum obat antivirus untuk merawat flu

CDC menekankan bahwa obat‑obat antivirus dapat menjadi pilihan terapi untuk meredakan gejala flu, terutama jika diberikan dalam 48 jam sejak munculnya gejala.

Obat ini bisa memperpendek durasi sakit dan menurunkan risiko komplikasi serius bagi pasien berisiko tinggi. 

Namun CDC menekankan, tidak semua orang memerlukan obat ini, terutama mereka yang punya sistem imun sehat.

2. Perawatan dasar di rumah

Selain antiviral, CDC merekomendasikan langkah‑langkah perawatan mandiri ketika sakit flu:

  • Istirahat dan tetap di rumah sampai membaik
  • Hindari kontak dengan orang lain agar tidak menularkan virus 
  • Tetap di rumah setidaknya 24 jam setelah demam hilang (tanpa obat penurun demam).

3. Siapa yang harus mendapatkan penanganan segera

CDC menegaskan bahwa orang berisiko tinggi komplikasi flu, seperti lansia, anak kecil, ibu hamil, atau orang dengan penyakit kronis, sebaiknya segera menghubungi tenaga kesehatan jika mengalami gejala flu dan mempertimbangkan terapi antiviral lebih awal.

Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang