Pakar Unair Soroti Ancaman Super Flu yang Muncul di Indonesia, Surveilans Dini Dinilai Krusial
Pakar imunologi Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (FK Unair) menekankan pentingnya penguatan surveilans laboratorium dan diagnosis molekuler sebagai langkah krusial untuk mendeteksi secara dini varian influenza A H3N2 Subclade K atau yang dikenal di masyarakat sebagai super flu.
Upaya ini dinilai penting untuk mencegah risiko komplikasi berat, terutama pada kelompok masyarakat rentan.
Pakar Imunologi Departemen Mikrobiologi dan Parasitologi Kedokteran FK Unair, dr. Agung Dwi Wahyu Widodo, dr., M.Si, menjelaskan bahwa virus influenza, khususnya tipe A, memiliki sifat yang sangat dinamis.
Kemampuan virus ini dalam melakukan reassortment atau penyusunan ulang materi genetik memungkinkan munculnya varian baru yang berpotensi meningkatkan tingkat penularan maupun keparahan penyakit.
“Virus influenza, khususnya tipe A sangat dinamis. Kemampuannya melakukan reassortment atau penyusunan ulang genetik inilah yang memicu munculnya varian-varian baru yang berpotensi menimbulkan gejala lebih berat bagi individu yang tidak memiliki kekebalan,” kata dr. Agung di Surabaya, Rabu (7/1/20206) dikutip dari Antara.
Mengapa Influenza A Mudah Bermutasi?
Agung menjelaskan, virus influenza A memiliki variasi antigenik yang tinggi akibat perubahan pada protein permukaan hemaglutinin dan neuraminidase melalui mekanisme antigenic drift.
Proses ini menyebabkan virus terus berevolusi dari waktu ke waktu sehingga mampu menghindari kekebalan tubuh yang telah terbentuk sebelumnya.
Kondisi tersebut membuat influenza A, termasuk H3N2 Subclade K, tetap menjadi ancaman kesehatan masyarakat meskipun secara klinis sering menyerupai flu biasa.
Pada kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, serta individu dengan penyakit penyerta, infeksi ini berpotensi memicu komplikasi serius seperti pneumonia.
Pakar Imunologi dari Departemen Mikrobiologi dan Parasitologi Kedokteran, Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (FK UNAIR), dr. Agung Dwi Wahyu Widodo, dr., M.Si.
Seberapa Berbahaya Varian H3N2 Subclade K?
Berdasarkan temuan terkini, varian H3N2 Subclade K telah terdeteksi di Indonesia, termasuk di Jawa Timur.
Gejala klinis yang muncul umumnya menyerupai influenza musiman, seperti demam, batuk, dan nyeri otot. Namun, risiko komplikasi tetap perlu diwaspadai.
Agung menegaskan bahwa deteksi dini menjadi kunci untuk mencegah perburukan kondisi pasien.
Oleh karena itu, penguatan kapasitas laboratorium mikrobiologi klinik sangat dibutuhkan, khususnya dalam penggunaan pemeriksaan Real-Time Polymerase Chain Reaction (RT-PCR) sebagai standar emas diagnosis.
“RT-PCR sangat penting untuk membedakan influenza dengan infeksi virus pernapasan lain seperti SARS-CoV-2 dan Respiratory Syncytial Virus (RSV), yang memiliki gejala awal serupa,” ujarnya.
Apa Peran Vaksin dan Pengobatan Dini?
Selain penguatan surveilans, vaksinasi influenza tahunan tetap menjadi langkah penting dalam menekan risiko keparahan penyakit.
Menurut dr. Agung, kemampuan virus influenza untuk terus bermutasi membuat perlindungan vaksin perlu diperbarui secara berkala.
“Selain surveilans, vaksinasi influenza tahunan tetap diperlukan untuk menekan risiko keparahan penyakit, seiring kemampuan virus influenza yang terus bermutasi dari waktu ke waktu,” katanya.
Ia juga mengingatkan bahwa pemberian antivirus seperti oseltamivir dinilai efektif apabila diberikan dalam waktu kurang dari 48 jam sejak munculnya gejala awal.
Di samping itu, penerapan perilaku hidup bersih dan sehat tetap menjadi fondasi pencegahan di tingkat masyarakat.
Bagaimana Kondisi Terkini di Jawa Timur?
Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, menyatakan bahwa hingga saat ini penyebaran influenza A H3N2 Subclade K di wilayahnya masih dapat dikendalikan.
Berdasarkan data hingga akhir Desember 2025, tercatat total 62 kasus di delapan provinsi di Indonesia, termasuk Jawa Timur.
“Hingga akhir Desember, tercatat total 62 kasus di delapan provinsi termasuk Jatim. Di Jatim Insya Allah masih bisa dikendalikan,” kata Khofifah kepada wartawan, Rabu (7/1/2026).
Menurut Khofifah, hasil surveilans dan pemeriksaan laboratorium rujukan Kementerian Kesehatan menunjukkan bahwa situasi super flu di Jawa Timur maupun secara nasional masih terkendali dan tidak menunjukkan peningkatan tingkat keparahan dibandingkan varian influenza lainnya.
“Virus super flu tidak membahayakan dan tidak mematikan. Karena itu, kami harap masyarakat tidak panik, namun tetap waspada,” ujarnya.
Meski dinilai terkendali, pengamatan terhadap virus influenza A H3N2 Subclade K terus dilakukan melalui sistem surveilans berlapis.
Di Jawa Timur, pemantauan dilakukan melalui site sentinel Influenza Like Illness (ILI) di Puskesmas Dinoyo Kota Malang serta Severe Acute Respiratory Infection (SARI) di RSUD dr. Saiful Anwar Kota Malang.
ILI didefinisikan sebagai penderita dengan demam minimal 38 derajat Celcius disertai batuk dengan onset gejala kurang dari 10 hari. Sementara itu, SARI merupakan sindrom infeksi pernapasan akut berat yang memerlukan penanganan lebih lanjut.
Spesimen dari pasien kemudian dikirim ke Balai Besar Laboratorium Kesehatan Masyarakat Surabaya dan diteruskan ke Balai Besar Laboratorium Biologi Kesehatan Jakarta untuk pemeriksaan Whole Genome Sequencing.
Hasil pemeriksaan pada periode September hingga November 2025 menunjukkan terdapat 18 kasus positif, mayoritas pada kelompok usia anak dan remaja dengan proporsi yang relatif seimbang antara laki-laki dan perempuan.
Sebagian artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "".
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang