Ngeri! Luka Kecil di Kaki Penyandang Diabetes Bisa Berujung Amputasi, Ini Kata Dokter

Ilustrasi kaki sakit.
Ilustrasi kaki sakit.

Diabetes masih menjadi salah satu penyakit kronis dengan angka kasus yang terus meningkat dari tahun ke tahun. Gaya hidup modern, pola makan tinggi gula, serta minimnya aktivitas fisik membuat banyak orang tak sadar telah hidup dengan kadar gula darah tinggi. 

Tanpa pengelolaan yang baik, kondisi ini dapat memicu komplikasi serius, salah satunya adalah luka kaki diabetes yang berisiko berujung amputasi. Scroll untuk info lebih lanjut... 

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Menurut dr. Andrew Jackson Yang, Sp. B, Subsp. B.V.E. (K), MARS, Dokter Spesialis Bedah Subspesialis Bedah Vaskular RS Pondok Indah – Puri Indah (RSPI), diabetes sering kali tidak terdeteksi sejak dini karena gejalanya cenderung samar. “Diabetes kerap disebut sebagai silent disease karena banyak penyandangnya tidak sadar memiliki kadar gula darah yang tinggi,” jelas dr. Andrew di Jakarta, Kamis, 26 Februari 2026.

Akibatnya, sambung dia, tidak sedikit orang yang baru mengetahui dirinya mengidap diabetes ketika sudah terjadi komplikasi pada tubuhnya. Kadar gula darah yang tinggi secara kronis dapat memicu berbagai gangguan, mulai dari kerusakan lapisan pembuluh darah (endotel), percepatan aterosklerosis, penyempitan dan sumbatan arteri perifer, gangguan mikrosirkulasi, hingga neuropati yang disertai infeksi.

Salah satu komplikasi yang perlu diwaspadai adalah kaki diabetes. Kondisi ini merupakan berbagai masalah pada kaki akibat diabetes yang tidak terkontrol, termasuk luka yang sulit sembuh. Luka kecil sekalipun dapat berkembang menjadi infeksi berat karena tingginya kadar gula darah membuat daya tahan tubuh melemah dan proses penyembuhan terganggu.

Iskemia atau aliran darah yang buruk menjadi salah satu faktor utama penyebab luka sulit sembuh. Kekurangan suplai oksigen dan nutrisi akibat sumbatan pembuluh darah membuat jaringan mudah rusak. 

Selain itu, neuropati atau gangguan saraf menyebabkan kaki menjadi baal sehingga luka sering kali tidak disadari oleh penyandang diabetes. “Penyandang diabetes yang sudah mengalami komplikasi berupa neuropati juga sangat mungkin mengalami luka di kaki tanpa ia sadari,” terang dr. Andrew. 

Kondisi ini diperparah oleh tingginya risiko infeksi akibat gangguan sistem kekebalan tubuh. Untuk mencegah komplikasi lebih lanjut, penanganan kaki diabetes harus dilakukan secara menyeluruh dan bertahap. 

“Penanganan kaki diabetes harus dilakukan secara menyeluruh dan bertahap, guna mempercepat penyembuhan luka serta mencegah terjadinya komplikasi,” tegas dr. Andrew.

Tahapan penanganan meliputi pendekatan multidisiplin dengan melibatkan berbagai tenaga kesehatan, kontrol gula darah secara optimal, debridement atau pembersihan jaringan mati, pengendalian infeksi dengan antibiotik sesuai indikasi, hingga evaluasi vaskular untuk menilai kelancaran aliran darah. Bila ditemukan sumbatan, tindakan revaskularisasi dapat dilakukan guna memperbaiki sirkulasi.

Evaluasi pembuluh darah juga menjadi langkah penting dalam menentukan terapi. Pemeriksaan yang dapat dilakukan antara lain Ankle-Brachial Index (ABI) untuk membandingkan tekanan darah di pergelangan kaki dan lengan, USG Doppler guna melihat aliran darah secara non-invasif, CT angiography, hingga angiography yang merupakan gold standard dalam menilai sumbatan arteri perifer.

Salah satu metode utama dalam penanganan adalah revaskularisasi, yaitu prosedur untuk membuka kembali pembuluh darah yang tersumbat. Teknik ini dapat dilakukan secara minimal invasif melalui angioplasty balon, pemasangan stent, atau atherectomy. 

Pada kasus tertentu, operasi bypass pembuluh darah juga menjadi pilihan untuk membuat jalur baru aliran darah. Setelah tindakan dilakukan, perawatan luka lanjutan dan strategi offloading atau pengurangan tekanan pada area luka menjadi kunci keberhasilan terapi. 

Penggunaan sepatu khusus, gips, hingga alat bantu seperti kursi roda dapat membantu mempercepat proses penyembuhan.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Dr. Andrew menekankan pentingnya konsultasi rutin dengan dokter spesialis bedah subspesialis bedah vaskular untuk mengevaluasi kondisi aliran darah dan perkembangan luka. Deteksi dini serta penanganan yang tepat tidak hanya mencegah amputasi, tetapi juga membantu penyandang diabetes mempertahankan kualitas hidup yang optimal.

Pengelolaan gula darah yang baik, gaya hidup sehat, serta kesadaran untuk memeriksakan diri sejak dini, membuat risiko komplikasi berat akibat diabetes sebenarnya dapat ditekan. Sebab itu, luka kecil pada kaki pun tidak boleh dianggap sepele, karena keterlambatan penanganan bisa berujung pada konsekuensi yang serius.