Gejala Super Flu, Varian Influenza yang Tengah Mewabah dan Picu Kematian di AS

Amerika Serikat (AS) tengah menghadapi lonjakan tajam kasus influenza musim dingin 2025/2026 yang kini sering disebut “super flu”.
Tren ini menyebabkan angka penyakit pernapasan melonjak dan memberi tekanan besar pada fasilitas kesehatan di sejumlah wilayah, termasuk New York City.
Dilansir dari Prevention, Selasa (23/12/2025), pejabat kesehatan masyarakat dan pakar epidemiologi menyatakan jumlah kasus influenza tahun ini meningkat lebih cepat dari musim flu biasa.
Varian yang mendominasi yaitu subclade K dari virus influenza A (H3N2), yang diduga lebih mudah menular dan kurang cocok dengan vaksin flu yang dikembangkan sebelumnya.
Lonjakan kasus
Data terbaru menunjukkan setidaknya 4,6 juta orang telah terinfeksi flu, dengan 49.000 pasien dirawat di rumah sakit dan sekitar 1.900 orang meninggal termasuk beberapa anak-anak, dicukil dari WDTV, Senin (22/12/2025)
Di New York, angka kasus mingguan melonjak drastis.
Dalam satu pekan terakhir saja tercatat lebih dari 71.000 kasus baru, naik 38 persen dari pekan sebelumnya. Jumlah pasien rawat inap juga meningkat signifikan.
“Musim flu kali ini lebih parah dari biasanya, dan kita bahkan belum mencapai puncaknya,” kata Komisaris Kesehatan New York, mengingatkan masyarakat agar waspada.
Apa itu super flu?
Istilah super flu mengacu pada sifat penularan yang cepat dari varian subclade K.
Meski bukan virus baru, mutasinya membuat kekebalan masyarakat dari vaksin dan infeksi sebelumnya kurang efektif mencegah penularan.
Menurut pakar, virus ini menyerupai influenza musiman namun dengan kemampuan penyebaran lebih tinggi.
Kasusnya muncul lebih awal dan menyebar luas menjelang liburan musim dingin, di tengah meningkatnya pertemuan sosial dan mobilitas warga.
Apa gejala super flu?
Gejala yang dilaporkan mirip flu biasa, seperti demam, lelah, nyeri otot, dan pilek. Namun sering kali gejala ini muncul lebih cepat dan intens.
Berikut lebih jelasnya gejala dari super flu, dilansir dari International Business Times UK:
- Demam tinggi mendadak disertai menggigil.
- Kelelahan berat (extreme fatigue).
- Nyeri otot dan sendi intens.
- Sakit kepala hebat.
- Batuk kering yang persisten.
- Sakit tenggorokan.
- Hidung tersumbat atau pilek.
- Mual, muntah, atau diare (lebih sering terjadi terutama pada anak-anak).
Sebagian sumber juga menyebut bahwa super flu dapat menyebabkan kelelahan ekstrem dan gejala yang “lebih parah dari flu biasa”, yang membuat aktivitas harian sulit dilanjutkan tanpa istirahat intensif.
Menurut laporan para dokter di AS, tidak semua gejalanya berbeda dari flu biasa, tetapi:
- Onset (munculnya gejala) sering lebih cepat dan tajam.
- Tingkat keparahan gejala lebih tinggi, misalnya demam yang lebih tinggi, rasa sakit yang lebih intens, dan kelelahan yang lebih parah.
Komplikasi seperti pneumonia, bronkitis, dan infeksi sekunder juga menjadi risiko bagi kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan penderita penyakit kronis.
Ahli kesehatan menekankan bahwa meskipun efektivitas vaksin flu tahun ini tidak optimal terhadap subclade K, vaksinasi tetap memberikan perlindungan penting terhadap gejala berat dan rawat inap.
Upaya pencegahan lain yang disarankan termasuk:
- Vaksinasi tahunan flu untuk semua usia 6 bulan ke atas.
- Menjaga kebersihan tangan dan etika batuk.
- Menghindari kerumunan saat sakit dan memakai masker di tempat ramai bagi yang merasa tidak fit.
Para epidemiolog memperkirakan musim flu akan tetap tinggi hingga setidaknya Februari 2026, menyusul tren penularan yang kuat dan rendahnya tingkat vaksinasi di beberapa wilayah.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang