Perempuan Lebih Rentan Terserang Lupus, Begini Kata Dokter
Penyakit autoimun masih menjadi tantangan serius di dunia kesehatan, termasuk di Indonesia. Salah satu yang paling banyak menyerang perempuan adalah Systemic Lupus Erythematosus (SLE) atau lupus, yakni kondisi ketika sistem kekebalan tubuh justru menyerang jaringan sehat di dalam tubuh sendiri. Penyakit kronis ini dapat memengaruhi berbagai organ vital dan berdampak besar terhadap kualitas hidup penderitanya.
Dokter spesialis penyakit dalam konsultan reumatologi, dr. Sandra Sinthya Langow menjelaskan bahwa lupus termasuk penyakit autoimun dengan gejala yang sangat beragam. Scroll lebih lanjut yuk!
"Mulai dari kulit, sendi, ginjal, otak, hingga jantung dan paru-paru bisa menjadi sasarannya," kata dr. Sandra Sinthya Langow, SpPD-KR selaku Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Reumatologi dalam acara World Lupus Day Media Conference oleh AstraZeneca di Jakarta Selatan, Selasa 26 Mei 2026.

Menurut dr. Sandra, mayoritas penderita lupus adalah perempuan, khususnya mereka yang berada pada rentang usia produktif 15 hingga 45 tahun. Data medis menunjukkan sekitar 90 persen pasien lupus merupakan wanita. Kondisi ini diduga berkaitan dengan pengaruh hormon estrogen terhadap sistem imun tubuh, meski faktor genetik dan lingkungan juga turut berkontribusi meningkatkan risiko seseorang terkena penyakit tersebut.
Lupus sendiri kerap dijuluki sebagai “penyakit seribu wajah” karena gejalanya yang tidak spesifik dan sering menyerupai penyakit lain. Banyak penderita mengalami kelelahan berkepanjangan, nyeri pada sendi, ruam kemerahan berbentuk kupu-kupu di wajah, rambut rontok, demam tanpa sebab jelas, hingga sensitivitas tinggi terhadap paparan sinar matahari. Pada kondisi tertentu, lupus juga dapat menyerang ginjal dan menyebabkan pembengkakan pada kaki.
“SLE sering disebut sebagai penyakit seribu wajah karena gejalanya sangat beragam dan tidak spesifik. Pasien dapat mengalami kelelahan ekstrem, nyeri sendi, ruam kulit, hingga keterlibatan organ seperti ginjal dan sistem saraf. Gejala tersebut dapat muncul secara bertahap maupun tiba-tiba, sehingga sering kali membuat proses diagnosis menjadi lebih panjang,” ujar dr. Sandra.
Indonesia sendiri mencatat sekitar 1,4 juta pasien lupus dengan tingkat kematian mencapai 8,1 persen, salah satu yang tertinggi di dunia. Sayangnya, masih banyak pasien yang baru mendapatkan diagnosis setelah terjadi kerusakan organ sehingga kondisi menjadi lebih sulit ditangani.
“Perjalanan penyakit SLE bersifat fluktuatif, dengan periode flare dan terkontrol. Karena itu, pasien membutuhkan pemantauan serta penanganan jangka panjang. Tantangan yang sering kami temui di praktik klinis adalah keterlambatan diagnosis akibat gejala yang menyerupai penyakit lain. Pada banyak kasus, pasien baru terdiagnosis ketika sudah terjadi kerusakan organ, sehingga kondisinya menjadi lebih kompleks,” tambah dr. Sandra.
Karena penyebab lupus belum diketahui secara pasti, penyakit ini belum bisa dicegah sepenuhnya. Namun dokter menyarankan masyarakat untuk menerapkan pola hidup sehat guna menekan risiko kekambuhan maupun memperburuk gejala.
Langkah yang dianjurkan antara lain menghindari paparan sinar matahari berlebihan, rutin menggunakan tabir surya, menjaga pola makan bergizi, berolahraga ringan secara teratur, mengelola stres, tidak merokok, serta melakukan pemeriksaan kesehatan berkala terutama bagi mereka yang memiliki riwayat keluarga dengan penyakit autoimun.
Seiring berkembangnya teknologi medis, penanganan lupus kini juga semakin maju. Salah satu inovasi terbaru adalah terapi biologis Anifrolumab yang bekerja dengan menargetkan jalur Interferon Tipe I, salah satu mekanisme penting dalam proses peradangan lupus.
“Pendekatan penanganan SLE kini telah berkembang menuju terapi yang lebih terarah dan berbasis bukti. Pemahaman yang lebih mendalam terhadap mekanisme penyakit, termasuk peran Interferon Tipe I, membuka peluang untuk menghadirkan opsi terapi yang dapat membantu mengontrol aktivitas penyakit secara cepat dan konsisten, mencapai remisi, serta perlindungan dari kerusakan organ dalam jangka panjang,” ujar dr. Feddy, Medical Director AstraZeneca Indonesia.
Melalui edukasi yang lebih luas dan deteksi dini, para tenaga medis berharap masyarakat semakin mengenali gejala lupus sehingga pasien bisa memperoleh penanganan lebih cepat dan memiliki kualitas hidup yang lebih baik.