Super Flu, Dokter UGD Beberkan 6 Hal yang Perlu Anda Ketahui

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat atau CDC mengungkap bahwa penyebaran flu di musim dingin dan musim hujan tahun ini diperkirakan akan bersifat moderately severe atau berderajat cukup berat.
Kondisi ini dipicu oleh dominasi satu jenis virus influenza yang berbahaya dan memiliki rekam jejak jelas menyebabkan gejala penyakit yang lebih serius dan meningkatkan angka rawat inap.
Risiko terbesar dari strain ini, yakni influenza A (H3N2) subklade K yang lebih dikenal sebagai super flu, dialami oleh kelompok lanjut usia dan anak-anak.
Hingga 3 Januari 2026, data dari CDC mencatat lebih dari 120.000 kasus influenza terdeteksi di laboratorium klinis (tidak termasuk tes mandiri di rumah), dengan hampir 40.000 kasus influenza dirawat di rumah sakit hanya dalam sepekan sebelumnya.
Di Indonesia sendiri kasus super flu sudah dilaporkan di beberapa daerah, seperti di Bandung, Jawa Barat, Yogyakarta, juga Malang, Jawa Timur.
Dilansir dari Forbes, berikut enam hal yang perlu diketahui masyarakat tentang flu musim ini beserta jawaban atas pertanyaan yang sering diajukan, menurut seorang dokter UGD.
1. Mengenali gejala super flu
Infeksi influenza H3N2 umumnya ditandai dengan munculnya demam tinggi secara tiba-tiba, batuk kering, kelelahan, nyeri otot, sakit tenggorokan, dan sakit kepala. Namun, tidak semua orang menunjukkan gejala khas tersebut.
Anak-anak diketahui lebih sering mengalami gejala saluran cerna seperti mual, muntah, dan diare. Sementara lansia dapat menunjukkan gejala yang tidak khas, seperti kehilangan nafsu makan, pusing, atau lemas.
Menurut catatan CDC, lansia dan bayi juga bisa tidak mengalami demam.
Yang perlu diwaspadai, komplikasi dapat berkembang dengan cepat pada kelompok berisiko tinggi dan rentan (usia di atas 64 tahun, anak sangat kecil, orang dengan penyakit kronis, atau ibu hamil), termasuk pneumonia yang disebabkan langsung oleh influenza atau infeksi bakteri sekunder.
Flu juga dapat memperburuk penyakit kronis yang sudah ada, seperti gagal jantung, diabetes, atau penyakit paru kronis.
Bagi pasien, tantangannya adalah membedakan apakah gejala disebabkan oleh super flu atau penyakit lain dengan gejala serupa, seperti Covid-19, RSV, atau bahkan pilek biasa.
2. Apakah vaksin flu membantu di musim ini?
Formulasi vaksin flu setiap tahun dibuat berdasarkan prediksi, biasanya tujuh hingga delapan bulan sebelum musim flu dimulai.
Untuk musim 2025–2026, vaksin flu dirancang untuk menargetkan strain H3N2 yang beredar, di antara strain lainnya.
Namun, subklade H3N2 K yang dominan memiliki sejumlah mutasi yang tidak sepenuhnya sesuai dengan target vaksin flu tahun ini.
Meski demikian, data lapangan dari Inggris menunjukkan bahwa vaksin tetap memberikan perlindungan bermakna, dengan efektivitas 72–75 persen dalam mencegah kunjungan ke unit gawat darurat dan rawat inap pada anak dan remaja, serta 32–39 persen pada orang dewasa.
Karena itu, vaksinasi pada musim ini, meski tidak sepenuhnya cocok, tetap menjadi pilar utama pencegahan terhadap dampak berat, meskipun efektivitasnya terhadap infeksi ringan berkurang.
Vaksinasi influenza rutin direkomendasikan bagi semua orang berusia di atas 6 bulan yang tidak memiliki kontraindikasi.
3. Langkah yang perlu dilakukan jika mengalami gejala flu
Ilustrasi flu. Musim hujan dan kebiasaan beraktivitas di ruang tertutup membuat penularan superflu lebih mudah terjadi, sehingga pakar mengingatkan pentingnya ventilasi dan perilaku sehat sehari-hari.
Saat mencurigai terkena flu, respons cepat sangat penting. Prioritas utama bagi individu berisiko tinggi adalah segera menghubungi tenaga kesehatan untuk membahas pemberian obat antivirus resep.Oseltamivir (Tamiflu) dan baloxavir (Xofluza) menjadi pilihan utama.
Obat-obatan ini dapat memperpendek durasi gejala, dan yang lebih penting, mencegah komplikasi seperti pneumonia jika diberikan lebih awal.
Pada pasien rawat jalan berisiko tinggi, Tamiflu terbukti menurunkan kemungkinan rawat inap hingga 76 persen dibandingkan tanpa pengobatan.
Pengobatan paling efektif bila dimulai dalam 48 jam sejak gejala muncul. Namun, obat ini masih dapat memberikan manfaat klinis bila diberikan dalam empat hingga lima hari, bahkan hingga tujuh hari setelah awal sakit pada pasien yang dirawat di rumah sakit.
Perawatan suportif di rumah juga sangat penting. Lakukan isolasi ketat untuk mencegah penularan dalam rumah tangga, cukupi cairan dengan air dan larutan elektrolit, serta berikan waktu istirahat yang cukup bagi tubuh.
Obat penurun demam dan pereda nyeri yang dijual bebas, seperti parasetamol atau ibuprofen, dapat digunakan untuk kenyamanan.
Namun, hindari pemberian aspirin pada anak-anak dan remaja.
4. Kapan harus mencari perawatan medis tingkat lanjut?
Sebagian besar orang dapat pulih dari flu dengan perawatan di rumah.
Namun, mengetahui kapan harus mencari bantuan medis dapat mencegah penyakit yang awalnya ringan berkembang menjadi kondisi yang mengancam jiwa.
Tanda peringatan yang memerlukan kunjungan ke fasilitas layanan kesehatan meliputi demam yang berlangsung lebih dari empat hingga lima hari atau gejala yang sempat membaik tetapi kemudian memburuk secara tiba-tiba, disertai demam tinggi kembali atau batuk yang semakin parah.
Kondisi ini bisa menjadi tanda pneumonia bakteri sekunder.
Sementara itu, individu dengan gejala tertentu harus segera ke unit gawat darurat.
Gejala tersebut antara lain kesulitan bernapas atau sesak napas, nyeri atau tekanan menetap di dada, kebingungan mendadak atau pusing, serta muntah hebat atau berkepanjangan hingga menyebabkan dehidrasi.
Pada anak-anak, gejala yang mengkhawatirkan meliputi bibir atau wajah kebiruan, rewel berlebihan, lesu, atau demam disertai ruam.
5. Mengelola kelelahan pasca-flu
Tahap pemulihan flu sering kali diremehkan. Padahal dampak sistemik virus yang cukup besar dapat memicu sindrom “post-viral”.
Kelelahan, rasa tidak enak badan, dan batuk sisa dapat berlangsung selama dua hingga tiga minggu setelah fase akut.
Kesalahan paling umum yang dilakukan pasien pada fase ini adalah kembali terlalu cepat ke aktivitas fisik dan pekerjaan penuh, yang justru dapat memperlambat pemulihan dan memperparah kelelahan.
Pendekatan terbaik adalah kembali ke rutinitas secara bertahap, dimulai dengan aktivitas ringan dan meningkatkan intensitas secara perlahan dalam beberapa minggu berikutnya.
Langkah suportif lain yang membantu antara lain menjaga kecukupan cairan, memastikan asupan kalori dan protein untuk mendukung pemulihan sistem imun, serta tidur berkualitas.
6. Jawaban atas pertanyaan yang sering diajukan masyarakat
Setiap musim flu, sejumlah pertanyaan kerap muncul. Salah satunya adalah berapa lama seseorang menularkan virus.
Penularan biasanya paling tinggi satu hari sebelum gejala muncul hingga lima sampai tujuh hari setelah sakit.
Sedangkan anak-anak dapat menularkan virus lebih lama.
Pertanyaan terkait lainnya adalah masa inkubasi, yang umumnya berlangsung antara satu hingga empat hari.
Pertanyaan ketiga adalah apakah seseorang masih bisa terkena flu meski sudah divaksin. Hal ini sangat mungkin terjadi, karena tidak ada vaksin yang memberikan perlindungan 100 persen.
Namun, imunisasi secara signifikan menurunkan risiko penyakit berat.
Terakhir, mengenai apakah antibiotik diperlukan untuk gejala flu atau pada kasus influenza yang terdiagnosis, jawabannya adalah tidak.
Antibiotik tidak efektif melawan virus influenza dan hanya diberikan bila terjadi infeksi bakteri sekunder, seperti pneumonia atau infeksi sinus.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang