Mau Tahu Skincare yang Kamu Pakai Efektif atau Tidak? Begini Kata Dokter
Di tengah maraknya produk skincare dengan klaim beragam, pertanyaan paling mendasar yang sering muncul di benak konsumen adalah: apakah skincare yang digunakan benar-benar bekerja dan aman untuk jangka panjang?
Pertanyaan ini menjadi semakin relevan, terutama bagi konsumen di negara beriklim tropis seperti Indonesia, di mana panas, kelembapan tinggi, dan paparan polusi dapat memengaruhi kondisi kulit secara signifikan. Scroll untuk info lengkapnya, yuk!
Menurut para ahli, efektivitas skincare tidak semata ditentukan oleh banyaknya bahan aktif atau tren yang sedang viral. Justru, kunci utamanya terletak pada keseimbangan formulasi, stabilitas bahan, serta kemampuan produk untuk bekerja tanpa merusak skin barrier.
Dermatolog dan Skin Expert, Dr. Claudia Christin, MBBS, PhD, menjelaskan bahwa kesalahan umum dalam pemilihan skincare adalah menganggap produk dengan kandungan aktif tinggi selalu memberikan hasil lebih cepat.
“Dari perspektif dermatologi, efektivitas skincare sangat ditentukan oleh bagaimana bahan aktif dipadukan dalam formula yang stabil, seimbang, dan dapat ditoleransi kulit. Banyak permasalahan kulit di iklim tropis muncul akibat formulasi yang terlalu kuat atau tidak stabil sehingga memicu sensitivitas dan melemahkan skin barrier,” ujar Dr Claudia dalam keterangannya, dikutip Jumat 19 Desember 2025.
“Pendekatan yang digunakan Sungboon Editor, yaitu pemilihan bahan yang purposeful dan tidak berlebihan, membantu kulit merespons dengan lebih konsisten. Formula yang seimbang memungkinkan kulit mempertahankan tekstur yang halus, hidrasi yang stabil, serta barrier yang lebih kuat,” sambungnya.
Pendekatan berbasis sains inilah yang belakangan semakin dicari konsumen Indonesia. Mereka tidak lagi sekadar mengikuti tren, tetapi mulai mempertanyakan bagaimana sebuah produk bekerja di kulit mereka. Hal ini juga tercermin dari meningkatnya minat terhadap skincare dengan klaim clean ingredients, dermatologist tested, serta fokus pada penguatan skin barrier.
Perubahan perilaku konsumen tersebut turut diamati oleh pelaku industri kecantikan. Chrisanti Indiana, Co founder dan CMO Social Bella Indonesia, mengungkap adanya pergeseran signifikan dalam cara konsumen memilih produk perawatan kulit.
“Sepanjang tahun ini, kami melihat perubahan menarik dalam cara konsumen memilih skincare. Mereka tidak lagi hanya mencari apa yang sedang tren, tetapi semakin memahami pentingnya formulasi yang benar-benar bekerja dan aman untuk digunakan jangka panjang. Hal ini juga tercermin dari performa kategori Korean skincare di Sociolla yang tahun ini mengalami pertumbuhan 55 persen dari 2024. Temuan dari SOCO Insight Factory pun menunjukkan pola serupa, di mana pencarian terbanyak terhadap produk dengan klaim skin barrier strengthening, clean ingredients, dan dermatologist tested,” bebernya.
Kecenderungan ini membuat pendekatan skincare berbasis clean science semakin relevan. Salah satu brand Korea yang membawa filosofi tersebut ke Indonesia adalah Sungboon Editor, yang mengusung prinsip ‘Fine Ingredients. Definite Effect.’ Filosofi ini menekankan pemilihan bahan yang jelas fungsinya, seimbang, dan telah melalui pengujian dermatologi.
Yewon Wang, Brand Director Sungboon Editor, menjelaskan bahwa pendekatan tersebut bukan sekadar konsep pemasaran.
“Filosofi ‘Fine Ingredients. Definite Effect.’ menjadi dasar setiap formulasi karena kami percaya bahwa hasil terbaik selalu berawal dari bahan terbaik. Nama Sungboon sendiri berarti raw ingredient dalam bahasa Korea, yang mencerminkan komitmen kami terhadap pemilihan komponen yang berfungsi jelas dan tidak berlebihan,” ungkapnya.
Dengan formulasi yang dirancang agar tetap ringan, stabil, dan nyaman digunakan sehari-hari, pendekatan seperti ini dinilai lebih sesuai untuk kulit di iklim tropis. Skincare tidak hanya dituntut memberikan hasil instan, tetapi juga menjaga kesehatan kulit dalam jangka panjang.