Ngerasa Stres Emosional dan Gampang Marah Termasuk Gejala Tumor Otak? Begini Kata Dokter

Ilustrasi Stres Kerja di Hari Senin
Ilustrasi Stres Kerja di Hari Senin

 Tekanan pekerjaan yang tinggi sering kali membuat seseorang mengalami stres emosional, mudah marah, sulit berkonsentrasi, hingga merasa kelelahan sepanjang hari. Kondisi tersebut umumnya dianggap sebagai dampak normal dari aktivitas yang padat. Namun, tahukah Anda bahwa dalam beberapa kasus, gejala serupa juga dapat muncul pada penderita tumor otak?

Meski tidak selalu menjadi tanda adanya penyakit serius, para ahli mengingatkan bahwa perubahan emosional dan gangguan fungsi kognitif yang berlangsung terus-menerus tidak boleh dianggap sepele. Terlebih jika keluhan tersebut disertai gejala neurologis lainnya seperti sakit kepala berkepanjangan, gangguan penglihatan, atau masalah keseimbangan tubuh.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Secara global, tumor otak masih menjadi tantangan besar dalam dunia kesehatan. Data GLOBOCAN mencatat lebih dari 321.000 kasus baru kanker otak dan sistem saraf pusat (SSP) terjadi setiap tahun di seluruh dunia, dengan hampir 248.000 kematian akibat penyakit tersebut.

Walaupun jumlah kasusnya relatif kecil dibandingkan jenis kanker lain, dampak yang ditimbulkan sangat besar karena otak merupakan pusat pengendali seluruh aktivitas tubuh. Bahkan, tumor otak diketahui memberikan kontribusi yang tinggi terhadap hilangnya kualitas hidup dan produktivitas penderitanya.

Salah satu masalah utama dalam penanganan tumor otak adalah gejala awalnya yang kerap menyerupai keluhan sehari-hari. Akibatnya, banyak penderita tidak menyadari adanya gangguan serius hingga penyakit berkembang ke tahap yang lebih lanjut.

Menurut Dr. Aditya Gupta, Direktur Bedah Saraf dan Cyberknife di Artemis Hospital, Gurugram, kondisi ini sering menyebabkan keterlambatan diagnosis.

Selain gejala fisik, tumor otak juga dapat memengaruhi kondisi psikologis dan kemampuan berpikir seseorang. Inilah yang membuat banyak orang keliru mengira gejala tersebut hanya berkaitan dengan tekanan pekerjaan atau masalah emosional biasa.

"Tumor otak juga dapat memengaruhi kondisi emosional, daya ingat, dan perilaku seseorang. Gejalanya dapat berupa mudah marah, kecemasan, kebingungan, kesulitan berkonsentrasi, atau perubahan kepribadian yang sering kali dikaitkan dengan tekanan pekerjaan maupun stres emosional," kata Dr. Gupta, seperti dilansir dari The Times of India, Rabu 10 Juni 2026.

Perubahan suasana hati yang tidak biasa, menurunnya kemampuan fokus, hingga gangguan memori dapat berdampak langsung pada performa kerja dan kehidupan sosial seseorang. Tidak sedikit penderita yang mulai kesulitan menjalankan tanggung jawab profesional karena kemampuan kognitifnya perlahan menurun.

"Tumor otak dapat menimbulkan gejala awal yang halus dan sering kali disalahartikan sebagai stres, migrain, kurang tidur, atau kelelahan akibat pekerjaan yang berlebihan. Banyak orang awalnya menganggap gejala tersebut sebagai konsekuensi dari aktivitas sehari-hari sehingga mengabaikannya hingga kondisinya menjadi lebih serius," ujarnya.

Salah satu gejala yang paling sering luput dari perhatian adalah sakit kepala kronis yang terus muncul dan semakin memburuk.

"Sakit kepala yang berlangsung terus-menerus, terutama yang terasa lebih parah pada pagi hari atau semakin memburuk dari waktu ke waktu, merupakan salah satu tanda tumor otak yang paling sering terlewatkan. Berbeda dengan migrain biasa, sakit kepala ini mungkin tidak merespons pengobatan standar," jelasnya.

Selain itu, terdapat sejumlah gejala lain yang perlu diwaspadai.

"Tanda-tanda lain dapat mencakup mual dan muntah tanpa sebab yang jelas, gangguan penglihatan seperti pandangan kabur atau ganda, masalah keseimbangan, pusing, kelemahan pada lengan atau kaki, serta kejang pada seseorang yang sebelumnya tidak pernah mengalaminya," paparnya.

"Selain itu, tergantung pada lokasi tumor di otak, penderita juga dapat mengalami gangguan pendengaran, kesulitan berbicara, dan perubahan kemampuan merasakan sensasi."

Meski demikian, dokter menegaskan bahwa stres emosional atau kecemasan bukan berarti seseorang pasti mengidap tumor otak. Banyak faktor lain yang dapat memicu kondisi tersebut, mulai dari beban kerja hingga gangguan kesehatan mental.

Karena itu, yang perlu diperhatikan adalah pola gejalanya. Jika keluhan berlangsung lama, semakin berat, atau muncul bersamaan dengan tanda neurologis lainnya, pemeriksaan medis sebaiknya segera dilakukan.

"Dalam banyak kasus, gejala-gejala ini tidak serta-merta berarti Anda memiliki tumor otak. Namun, jika gejala tersebut terus berlanjut, semakin memburuk, atau muncul secara bersamaan, sebaiknya segera berkonsultasi dengan dokter untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut," katanya.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Dr. Gupta juga menekankan pentingnya diagnosis dini agar penyebab keluhan dapat diketahui dengan pasti.

"Evaluasi dini terhadap gejala yang Anda alami, disertai pemeriksaan pencitraan otak yang tepat, dapat membantu mengidentifikasi penyebab yang mendasarinya. Diagnosis yang tepat waktu sangat penting karena dalam banyak kasus, diagnosis dini memungkinkan pengobatan yang lebih berhasil, hasil yang lebih baik, dan kualitas hidup yang jauh lebih meningkat," ujar Dr. Gupta.