4 Kelompok Anak yang Berisiko Tinggi jika Terkena Superflu, Ini Kata Dokter
Masyarakat diimbau mewaspadai superflu atau influenza yang dapat menyebabkan infeksi saluran pernapasan akut, termasuk varian H3N2.
Imbauan ini disampaikan Anggota Unit Kerja Koordinasi Respirologi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Nastiti Kaswandani saat merespons peningkatan laporan kasus superflu dalam beberapa hari terakhir.
Ia menjelaskan, superflu memiliki tingkat penularan yang sangat cepat, terutama di wilayah atau negara dengan suhu dingin.
Superflu tergolong berbahaya karena gejalanya dapat bervariasi, mulai dari ringan hingga berat, serta mudah menular melalui droplet atau air liur saat batuk maupun bersin.
Penularan juga dapat terjadi ketika seseorang melakukan kontak langsung dengan cairan pernapasan dari orang yang telah terinfeksi.
“Nah, masalahnya mungkin salah satu jadi penyebab istilah ‘superflu’ ini karena penularannya cepat,” ujar Nastiti dikutip dari Antara, Senin (29/12/2025).
“Jadi, satu orang itu bisa menulari 2-3 orang sekitarnya, diperkirakan varian ini mungkin bisa menulari lebih tapi belum ada penelitiannya,” tambahnya.
4 Kelompok Anak yang Berisiko Tinggi Jika Terkena Superflu
Menurut Ketua Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Pripim Basarah Yanuarso, istilah superflu merujuk pada infeksi influenza H3N2 subclade K.
Virus tersebut dinilai sukar diidentifikasi dan bisa melewati kekebalan walau sebelumnya sudah terbentuk.
Pripim menambahkan, superflu termasuk jenis influenza yang tidak biasa dan berisiko tinggi bagi anak-anak dengan komorbid atau penyakit bawaan.
Dilansir dari , Selasa (30/12/2025), beberapa kelompok anak yang berisiko tinggi jika terinfeksi superflu adalah:
- Penyakit jantung bawaan
- Diabetes
- Obesitas
- Asma.
Cara Mencegah Superflu
Nastiti menjelaskan, meski superflu mudah menular, risiko penularannya dapat ditekan dengan disiplin menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat dalam aktivitas sehari-hari masyarakat.
Upaya pencegahan tersebut meliputi penggunaan masker, rajin mencuci tangan, menjaga jarak dari orang sakit, serta melengkapi perlindungan diri melalui imunisasi sesuai anjuran tenaga kesehatan.
Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO juga menyarankan penerapan etika batuk yang benar, seperti menutup mulut dan hidung dengan lengan atau tisu, lalu segera membuangnya ke tempat sampah.
Ia menegaskan, berdasarkan berbagai pedoman internasional, vaksinasi influenza terbukti efektif menurunkan risiko komplikasi dan kematian, terutama pada anak-anak, kelompok rentan, dan tenaga kesehatan.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang