Takut Anak Mandul karena Operasi Hernia? Begini Kata Dokter
Hernia merupakan salah satu kondisi medis yang cukup sering dijumpai pada anak-anak dan kerap menimbulkan kekhawatiran bagi orangtua. Di masyarakat, hernia dikenal dengan istilah “turun berok” karena munculnya benjolan di area tertentu, terutama di perut atau selangkangan.
Kondisi ini terjadi akibat adanya bagian organ atau jaringan tubuh yang menonjol keluar melalui dinding rongga yang melemah atau tidak menutup sempurna sejak lahir. Scroll lebih lanjut yuk!
Secara medis, hernia dapat melibatkan jaringan lemak maupun usus, dan keduanya tetap dikategorikan sebagai hernia. Pada anak, kondisi ini tidak boleh dianggap sepele.
Hernia yang tidak segera ditangani berisiko mengalami penjepitan organ, kebocoran jaringan, hingga kematian jaringan. Oleh karena itu, konsultasi dengan dokter menjadi langkah penting agar anak mendapatkan penanganan yang tepat sesuai kondisi medisnya.
Di sisi lain, tidak sedikit orangtua yang merasa cemas terhadap kemungkinan dampak jangka panjang operasi hernia, terutama kekhawatiran terkait risiko kemandulan pada anak laki-laki.
Kekhawatiran ini ternyata bukan tanpa dasar. Dokter spesialis bedah anak, Karmile, dari RS Pondok Indah, menyebut bahwa kekhawatiran tersebut wajar karena lokasi operasi hernia berdekatan dengan saluran sperma.
"Orangtua tuh sering takut kalau anak operasi hernia, nanti mandul. Enggak salah sebenarnya, memang secara teori salah satu komplikasi operasinya adalah terpotong (saluran sperma)," kata Spesialis Bedah Anak RS Pondok Indah, dr. Karmile, Sp. B.A, di Jakarta, Kamis 18 Desember 2025.
Namun demikian, Karmile menegaskan bahwa risiko tersebut sangat kecil. Pada metode bedah terbuka atau open surgery, komplikasi berupa terpotongnya saluran sperma dilaporkan hanya terjadi pada sekitar satu dari seribu kasus. Risiko ini bahkan dapat ditekan lebih jauh dengan penggunaan teknik laparoskopi.
Menurutnya, laparoskopi memungkinkan dokter melihat kondisi organ dengan lebih jelas karena menggunakan kamera dan sayatan yang sangat kecil.
"Dengan laparoskopi ini visualisasi organ itu bisa kelihatan jauh lebih jelas, saluran-saluran yang kecil ini bisa kita lihat dengan jelas, misalnya saluran kecil tapi sangat bermakna yaitu saluran sperma," jelasnya.
"Kepotong itu kalau enggak kelihatan, nah dengan laparoskopi udah jelas gini masa masih kepotong juga kan enggak mungkin ya," tambahnya.
Dokter Karmile menjelaskan bahwa laporan cedera saluran sperma sejauh ini hanya ditemukan pada teknik operasi terbuka.
"Kalau dari laporan kasus yang pernah dilaporkan tentang cedera saluran sperma, dia memang semuanya yang terjadi adalah hanya pada teknik open surgery. Pada laparoskopi belum pernah dilaporkan," ujarnya.
Lebih lanjut, ia menerangkan bahwa teknik laparoskopi tidak menggunakan gunting seperti pada operasi terbuka.
"Karena kita kelihatan kok kalau laparoskopi ini, enggak mungkin kita potong dan kita tidak pakai gunting. Saya hanya pakai jarum buat mengikat (lubang hernia), enggak ada masuk-masukin gunting, beda dengan teknik open (terbuka) yang menggunakan gunting untuk motong kantung hernianya," paparnya.
Apabila dalam kasus tertentu saluran sperma terpotong saat operasi terbuka, dokter umumnya akan langsung melakukan perbaikan.
Meski demikian, Dokter Karmile menegaskan bahwa keberhasilan perbaikan tersebut masih sulit dipastikan.
"Keberhasilannya sulit (diprediksi) sih karena untuk meneliti efek dari kerusakan saluran sperma ini, penelitiannya pasti harus jangka panjang. Dilihat nanti anaknya mandul atau enggak," ungkapnya.
Sebagai informasi, hernia tidak hanya dialami oleh anak usia sekolah. Dokter Karmile mengungkapkan bahwa pasien hernia termuda yang pernah ditangani bahkan berusia dua bulan. Oleh karena itu, deteksi dini dan pemilihan metode operasi yang tepat menjadi kunci penting untuk meminimalkan risiko serta memberikan rasa aman bagi orangtua.