Flat Foot pada Bayi, Wajar atau Perlu Diwaspadai? Ini Kata Dokter

flat foot, Flat Foot pada Bayi, Wajar atau Perlu Diwaspadai? Ini Kata Dokter, Mayoritas bayi memiliki flat foot, Tak perlu khawatir jika tanpa keluhan, Memilih sepatu anak, adakah anjuran khusus?, Kapan flat foot perlu dievaluasi dokter?

Telapak kaki bayi yang terlihat datar atau flat foot sering kali membuat orangtua cemas. 

Tak sedikit yang mulai bingung memilih sepatu, khawatir anak akan mengalami gangguan berjalan di kemudian hari. Namun, kondisi ini ternyata tidak selalu menandakan masalah serius.

Dokter Spesialis Ortopedi Konsultan Ortopedi Anak, dr. Mohammad Aulia Herdiyana, Sp.OT, Subsp. A(K) menyatakan, flat foot pada bayi dan balita umumnya merupakan bagian dari proses tumbuh kembang yang normal. Dalam banyak kasus, kondisi ini akan membaik seiring bertambahnya usia anak.

Apakah orangtua perlu waspada dengan flat foot pada bayi?

Mayoritas bayi memiliki flat foot

Menurut dr.Aulia, sebagian besar bayi yang baru lahir memang tampak memiliki telapak kaki yang datar. Hal ini sering disalahartikan sebagai kelainan, padahal kondisi tersebut wajar terjadi.

“Sebab kaki anak saat bayi lebih fleksibel dan lemak bawah kulitnya lebih tebal, sehingga terlihat seperti flat feet. Kondisi ini akan membaik biasanya di usia 2 sampai4 tahun, kecuali si anak punya keturunan,” ujar dr.Aulia dalam diskusi media, belum lama ini.

Pada fase awal kehidupan, struktur tulang kaki anak belum terbentuk sempurna. Lengkungan kaki masih tertutup jaringan lemak, sehingga telapak kaki tampak rata saat berdiri. 

Seiring pertumbuhan, jaringan tersebut akan berkurang dan lengkungan kaki mulai terbentuk secara alami.

Tak perlu khawatir jika tanpa keluhan

Ditegaskan oleh dr.Aulia, flat foot tidak selalu membutuhkan penanganan medis. Jika anak dapat berjalan, berlari, dan beraktivitas tanpa rasa nyeri, maka orangtua tidak perlu melakukan intervensi khusus.

“Mayoritas biasanya tidak ada keluhan apa-apa, tapi biasanya orangtuanya yang khawatir. Saya biasanya tidak melakukan tindakan, kecuali ada keluhan di kaki anak,” jelasnya.

Ia menambahkan, faktor keturunan juga berperan cukup besar dalam menentukan bentuk kaki anak.  Anak dengan riwayat keluarga flat foot berisiko memiliki kondisi serupa, tetapi tetap tidak selalu menimbulkan masalah fungsional.

Memilih sepatu anak, adakah anjuran khusus?

Kekhawatiran lain yang sering muncul adalah soal pemilihan alas kaki. Banyak orangtua merasa harus memilih sepatu tertentu agar telapak kaki anak bisa dibentuk sejak dini. 

Namun, dr.Aulia menegaskan hal tersebut tidak sepenuhnya tepat. Kenyamanan jadi kunci utama dalam pemilihan sepatu anak.

“Biasanya anak-anak yang kakinya datar, orangtua jadi khawatir dan ragu memilah-milih alas kaki anak. Tapi sebetulnya tidak ada aturan khusus dalam memilih sepatu anak,” ujarnya.

Selama anak tidak memiliki keluhan, sepatu yang nyaman dan sesuai ukuran sudah cukup.  Yang terpenting, sepatu tidak terlalu sempit, tidak kaku, dan memungkinkan kaki anak bergerak dengan bebas.

“Jika anak tidak ada keluhan apa-apa ketika berjalan, maka utamakan pilih yang nyaman saja, kecuali anak punya keluhan saat berjalan atau punya flat feet,” kata dr.Aulia.

Kapan flat foot perlu dievaluasi dokter?

Meski umumnya normal, ada kondisi tertentu yang perlu diwaspadai orangtua. Evaluasi lanjutan diperlukan jika flat foot disertai keluhan nyeri, cepat lelah saat berjalan, atau gangguan aktivitas.

“Jika usianya sudah di atas 6 tahun dan ada rasa sakit di telapak kaki atau saat berjalan, maka akan diintervensi lebih lanjut,” jelasnya.

Intervensi bisa berupa pemeriksaan lanjutan untuk menilai struktur kaki, hingga penanganan sesuai kebutuhan anak. 

Maka dari itu, orangtua disarankan untuk tetap memantau perkembangan anak tanpa panik berlebihan.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang