“Bu, Ada Susu?”, Potret Ibu dan Balita Bertahan Hidup Pascabanjir Bandang Tapanuli Tengah

Tapanuli Tengah, “Bu, Ada Susu?”, Potret Ibu dan Balita Bertahan Hidup Pascabanjir Bandang Tapanuli Tengah

Penyintas banjir bandang dan tanah longsor di Kecamatan Tukka, Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, masih berjuang memenuhi kebutuhan dasar, terutama susu anak, popok (pampers), layanan kesehatan ibu hamil, serta air bersih, hampir tiga pekan setelah bencana terjadi.

Kelompok paling rentan adalah ibu hamil, ibu menyusui, dan keluarga dengan anak balita.

Hingga 20 hari pascabanjir bandang, mereka mengaku masih kesulitan mendapatkan susu untuk anak-anak.

Di sejumlah titik jalan yang masih berdebu bekas banjir, para ibu tampak duduk menunggu. Sebagian menggendong anak, sebagian lainnya memperhatikan setiap kendaraan yang melintas.

Setiap kali mobil bak terbuka atau mobil boks yang diduga membawa bantuan lewat, mereka langsung mendekat.

“Bu, ada susu bu?” teriak seorang ibu mengenakan kaus putih dari dalam kios kecil, sambil mengayunkan anaknya yang tertidur, saat mobil Puskesmas Kecamatan Tukka melintas membawa bantuan.

Mobil yang dikemudikan Kepala Puskesmas Tukka, dr Maruli Silalahi, langsung berhenti.

Ibu hamil, ibu menyusui, dan ibu dengan anak balita segera berkumpul. Satu per satu mereka menerima paket bantuan berisi perlengkapan bayi dan anak, termasuk susu bubuk.

“Yang Paling Penting Itu Susu dan Popok”

Salah satu penerima bantuan adalah Lenne (20), ibu muda yang menggendong anak laki-lakinya berusia satu tahun. Wajahnya yang semula murung langsung berubah cerah saat menerima sekotak susu bubuk berwarna merah.

“Kebutuhannya di sini itu susu dan popok. Itu saja yang terpenting untuk anak-anak,” kata Lenne, Minggu (14/12/2025).

Saat ditanya mengenai kebutuhannya sendiri, termasuk makanan bergizi bagi ibu menyusui, raut wajah Lenne kembali muram. Ia mengaku jarang memikirkan dirinya.

“Kebutuhan ibu tidak terlalu dipikirkan. Yang penting anak,” ujarnya lirih.

Diketahui, banjir bandang dan tanah longsor disertai lumpur dan kayu gelondongan melanda Kabupaten Tapanuli Tengah pada Selasa (25/11/2025). Kecamatan Tukka menjadi wilayah terdampak terparah.

Berdasarkan data dari situs infobencana Tapteng, di Kecamatan Tukka tercatat 31 orang meninggal dunia, sementara 26 orang lainnya masih hilang dan belum ditemukan.

Ibu Hamil Keluhkan Minim Pampers dan Layanan Kesehatan

Tapanuli Tengah, “Bu, Ada Susu?”, Potret Ibu dan Balita Bertahan Hidup Pascabanjir Bandang Tapanuli Tengah

Mobil Gubernur Sumatera Utara, Bobby Nasution saat melewati akses jalan yang terdampak banjir di Kecamatan Tukka, Kabupaten Tapanuli Tengah, Selasa (2/12/2025).

Di lokasi pengungsian Gedung Gelanggang Olahraga (GOR) Pandan, Sri Asmara (22), ibu hamil empat bulan, tampak berjalan tertatih menaiki anak tangga.

Meski sedang mengandung anak keempat, ia masih menggendong bayi laki-laki di lengan kiri, sambil menuntun anak balitanya dengan tangan kanan. Seorang anak lainnya, sekitar usia lima tahun, berjalan mengikuti dari belakang.

Sri merupakan perantau asal Medan yang menetap di Kecamatan Tukka dan telah 18 hari mengungsi bersama ratusan warga lainnya akibat rumah mereka terdampak banjir dan longsor.

Ia mengaku kebutuhan pangan selama mengungsi relatif terpenuhi. Namun, persoalan besar justru pada jatah pampers yang dinilainya jauh dari cukup.

“Biasanya per hari diberikan dua pampers. Tapi karena ini sudah diare, jadi butuhnya itu 10 sampai 15 pampers,” kata Sri, Jumat (12/12/2025).

Dua dari tiga anaknya mengalami diare selama dua hari terakhir, sehingga kebutuhan popok meningkat drastis. Namun, permintaan tambahan pampers tak bisa dipenuhi karena jatah tetap dibatasi dua popok per hari.

“Dari tiga, dua anak saya yang diare. Jadi saya kewalahan,” ujarnya.

Selain itu, Sri juga menyoroti minimnya layanan kesehatan bagi ibu hamil. Meski vitamin tersedia, susu khusus ibu hamil tidak diberikan. Ia juga mengaku pernah mengeluh sakit perut dan kram, tetapi hanya diberi obat pereda nyeri tanpa pemeriksaan lanjutan.

“Semalam saya mengeluh sakit hanya diberikan obat saja, tidak diperiksa apa-apa. Kemarin perut saya keram, mules-mules hanya diberi paracetamol,” kata Sri.

Kondisi tersebut membuatnya ingin segera pulang ke Medan dan meninggalkan status sebagai pengungsi.

“Rasanya pengen pulang. Di sini enggak nyaman,” ucapnya.

Ia berharap pelayanan kesehatan untuk ibu hamil dan menyusui ditingkatkan, termasuk penambahan tenaga medis jika diperlukan.

Air Bersih Masih Jadi Masalah Serius

Tapanuli Tengah, “Bu, Ada Susu?”, Potret Ibu dan Balita Bertahan Hidup Pascabanjir Bandang Tapanuli Tengah

Sebanyak 40 personel TNI dari Yonif 122/TS dan Yonif 125/Simbisa menembus jalur longsor dengan berjalan kaki untuk menyalurkan bantuan ke Dusun Lapan Lombu, Kelurahan Nauli, Kecamatan Sitahuis, Kabupaten Tapanuli Tengah, Sabtu (6/12/2025).

Tak hanya di Tukka, warga Sibolga dan Kabupaten Tapanuli Tengah juga masih kesulitan mendapatkan air bersih hampir tiga minggu pascabanjir dan longsor.

Untuk mandi, mencuci pakaian, hingga mencuci peralatan makan, sebagian warga terpaksa menggunakan air banjir yang masih tergenang di pinggir jalan atau air aliran gunung.

Setiap kali relawan datang membawa bantuan, permintaan warga nyaris selalu sama: air mineral dan air bersih.

Perumda Air Minum Tirta Nauli Sibolga memang telah menyediakan sejumlah keran air gratis bagi warga. Namun, antrean panjang tak terhindarkan. Warga harus menunggu 30 menit hingga lebih dari satu jam untuk bisa mengisi air.

Pemandangan itu terlihat ketika Rusma Rini Lumbangaol, warga Jalan Rawang I, Kelurahan Aek Muara Pinang, Sibolga Selatan, datang bersama anak laki-lakinya membawa lima jeriken besar.

Ia tiba pukul 08.00 WIB, baru mulai mengisi air pukul 09.45 WIB, dan selesai sekitar pukul 10.30 WIB.

“Enggak taulah bilang apa, mau nangis atau mau menjerit ke siapa,” kata Rusma saat ditemui, Jumat (12/12/2025).

“Itulah kami minta, kalau bisa Pak Prabowo secepatnya membaguskan air ini agar normal lagi,” lanjutnya.

Rusma mengaku kelelahan harus mengangkat air setiap hari, terlebih karena ia seorang janda yang mengurus semuanya sendiri.

“Udah enggak sanggup mengangkat air ini. Tapi mau gimana, ini kebutuhan,” ujarnya.

Hal serupa dirasakan Hamdan Harahap, warga Kecamatan Pandan, Kabupaten Tapanuli Tengah. Karena jarak ke Sibolga terlalu jauh, ia terpaksa menampung air hujan untuk kebutuhan minum.

“Kalau cuci piring dan nyuci baju, kami cari lokasi aliran banjir atau air gunung,” kata Hamdan.

“Saya berharap sekali air bisa secepatnya hidup dan normal seperti sedia kala.”

Artikel ini telah tayang di Tribun-Medan.com dengan judul Kasih Ibu Sepanjang Masa, Lenne Rela Tak Makan Demi Susu Anak: Bu, Ada Susu Gak Bu,

Ulurkan tanganmu membantu korban banjir di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Di situasi seperti ini, sekecil apa pun bentuk dukungan dapat menjadi harapan baru bagi para korban. Salurkan donasi kamu sekarang dengan klik di sini