Pascabencana di Tapanuli Tengah, Ratna Terharu saat Video Call Anak: Hemat-Hematlah Dulu ya Mang’

Di tengah hamparan lumpur yang belum sepenuhnya kering dan aroma kayu basah yang terbawa angin, warga Desa Aek Tolang Induk, Kecamatan Tukka, menyambut kabar yang sudah dua minggu mereka tunggu.
Bukan bantuan logistik, bukan pula alat berat. Melainkan sesuatu yang sederhana namun berarti, jaringan telekomunikasi kembali pulih.
Bagi sebagian orang, sinyal mungkin hanya sekadar bar kecil di layar. Namun bagi warga yang dihantam banjir bandang Tapanuli Tengah, sinyal adalah harapan yang tak ternilai.
Ratna Berteriak Gembira: Sudah Ada Jaringan We!
Ratna, seorang ibu rumah tangga, adalah orang pertama yang menyadari layar ponselnya kembali menangkap sinyal. Ia langsung berteriak ke warga sekitar.
“Sudah ada jaringan we, sudah ada jaringan!” serunya dengan napas terengah.
Seketika itu pula ia menekan nomor anaknya di pesantren Padang Sidimpuan. Dua minggu ia hanya bisa mengirim pesan melalui ponsel milik guru anaknya.
Telepon tersambung. Suaranya bergetar.
“Sehat kau ya, Mang? Masih ada uangmu? Hemat-hematlah dulu ya, Mang… Yang penting rumah sudah dibersihkan. Tanggal 20 Mamak jemput ya, Mang,” ucapnya, menahan tangis.
Di balik percakapan itu, ada kecemasan yang ia pikul sejak 5 Desember, tanggal ketika seharusnya anaknya pulang. Namun banjir bandang dan longsor Tapanuli Tengah menghancurkan akses jalan, menyapu sawah, dan merendam ratusan rumah.
Dua Minggu Tanpa Suara Anak
Sejak bencana, Ratna dan suaminya hanya sesekali mendapat pembaruan lewat WhatsApp guru pesantren.
“Dari bencana gak bisa komunikasi. Waktu dapat kabar di Pandan ada sinyal, pergilah ke sana. Tapi cuma bisa chat, gak bisa telepon,” kisahnya.
Keresahan itu bertambah karena rumah mereka tak lagi layak huni. Ratna bahkan mengaku sempat berniat berjalan kaki ke Padang Sidimpuan untuk menjemput anaknya.
"Udah nekat kian kami tanggal 5 itu jalan kaki saja… karena semua akses jalan tertutup. Tapi ternyata ujian diperpanjang sampai 20 Desember,” katanya lega.
Di tengah tekanan ekonomi pasca banjir bandang Tapanuli Tengah yakni harga barang naik, pendapatan seret, Ratna hanya bisa meminta anaknya berhemat.
“Saya guru honorer, suami kerja bangunan. Tapi kalau banjir begini, kalau tidak berhemat gimana,” ujarnya.
Anak-Anak Diselamatkan di Atap Rumah
Kondisi di Tapanuli Tengah.
Ratna masih mengingat betul bagaimana air tiba-tiba naik. Saat itu ia dan suami berada di sekolah. Tiga anak balitanya dititipkan di rumah mamaknya.Mendengar informasi banjir menerjang Kelurahan Hutanabolon, ia langsung menelepon keluarga. Jawabannya membuat lututnya lemas: rumahnya sudah terendam.
“Rupanya sampai Jalan Tanah Merah gak bisa lewat. Saya dan suami terobos banjir sampai sepinggang… sekitar setengah jam jalan kaki,” kenangnya.
Ketika tiba, tiga anaknya sudah dinaikkan ke atap rumah. Hanya atap yang tampak, dinding telah tertutup air.
Begitu malam tiba dan air mulai surut, Ratna sekeluarga mengungsi ke sekolah tempat ia mengajar, lalu ke rumah adiknya.
“Pagi sampai sore bersihin rumah. Malam tidur di tempat adek yang lebih aman,” ungkapnya.
Yang kini paling ia harapkan hanyalah air bersih dan alat berat untuk membuka akses jalan.
“Itu yang paling dibutuhkan warga,” ujarnya lirih.
Hutanabolon: 20 Meninggal, 11 Masih Hilang
Bencana banjir bandang Tapanuli Tengah paling parah menghantam Kelurahan Hutanabolon, Kecamatan Tukka.
Babinsa Kecamatan Tukka, Koptu Holmes Padang, menyampaikan bahwa 20 warga meninggal, 9 ditemukan dan 11 orang masih hilang
“Kalau korban jiwa di Hutanabolon 20 orang, yang ditemukan 9,” katanya, Sabtu (6/12/2025).
Kelurahan ini dihuni 874 kepala keluarga atau sekitar 2.927 jiwa Kerusakan hunian juga masif:
- 301 rumah rusak berat (hilang, tinggal atap, atau hanya lantai 2)
- 54 rumah rusak sedang
- 66 rumah rusak ringan
Listrik dan air bersih belum pulih. Warga terpaksa memanfaatkan air banjir untuk mandi, mencuci piring, hingga mencuci pakaian.
Akses menuju lokasi hanya bisa ditembus mobil double cabin atau motor trail karena kanan-kiri jalan dipenuhi lumpur dan kayu besar.
19 Desa/Kelurahan Masih Terisolasi di Tapanuli Tengah
Menurut data terbaru Pemkab Tapanuli Tengah, 19 desa dan kelurahan masih terisolasi akibat banjir bandang dan longsor.
Wilayah terisolasi tersebar di tujuh kecamatan, antara lain:
Kecamatan Kolang
- Simarpinggan
- Pargaringan
Kecamatan Lumut
- Sialogo
Kecamatan Pinangsori
- Panjalihotan Baru
- Danau Pandan
Kecamatan Sibabangun
- Muara Sibuntuon
- Sibio-Bio
Kecamatan Sitahuis
- Bonandolok
- Made
- Naga Timbul
- Rampah
- Simaninggir
- Desa Nauli
Kecamatan Tapian Nauli
- Bair
- Aloban Bair
- Mela Dolok
Kecamatan Tukka
- Tapian Nauli Saurmanggita
- Sait Kalangan II
- Hutanabolon
- Sipange
Berdasarkan laporan Posko Bencana hingga Minggu (7/12/2025):
- 102 orang meninggal dunia
- 33 orang hilang
- 18.331 warga mengungsi
Logistik cukup untuk kebutuhan tiga hari, namun air bersih dan LPG terbatas BBM kini mulai lancar distribusinya dan sarana komunikasi sudah tersambung, meski belum stabil.
Selain itu listrik menyala bertahap. Sementara hujan masih turun, membuat potensi banjir dan longsor tetap tinggi.
Tujuh sungai di Tapanuli Tengah juga dipenuhi kayu besar, berpotensi memicu banjir bandang baru dan distribusi ke Sitahuis dilakukan lewat helikopter.
Ada ancaman baru dari luapan bendungan PLTA Sipulak yang dapat memicu banjir bandang di sepanjang aliran Sungai Aek Sirahar.
Bupati Tapanuli Tengah, Masinton Pasaribu, turun langsung menemui warga terdampak di Hutanabolon. Ia menyampaikan duka dan memberikan bantuan berupa beras dan logistik lain.
“Mari kita bersama-sama mendoakan agar Tapanuli Tengah cepat pulih dan bangkit dari bencana ini,” ujarnya.
“Pemerintah dan masyarakat terus berupaya memberikan penanganan terbaik demi keselamatan warga.”
Artikel ini telah tayang di Tribun-Medan.com dengan judul Kala Jaringan Pulih di Kecamatan Tukka, Ibu Telepon Anaknya yang di Pesantren: Hemat-hemat Ya Mang
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang