3 Pekan Mengungsi, Penyintas Banjir Tapanuli Tengah Hanya Makan Mi Instan, Penyakit Mulai Bermunculan

3 Pekan Mengungsi, Penyintas Banjir Tapanuli Tengah Hanya Makan Mi Instan, Penyakit Mulai Bermunculan, Tiga Minggu Konsumsi Mi Instan, Penyakit Mulai Bermunculan, Keluhan Distribusi Bantuan Tak Merata, Data Korban dan Kerusakan, Rumah Hanyut dan Permukiman Jadi Aliran Sungai, Menunggu Kepastian Hunian Baru, Relokasi Dinilai Terlalu Jauh, 301 Rumah Hilang di Hutanabolon, Pemkab Siapkan Lahan Relokasi

Rasa jenuh dan kekhawatiran mulai menyelimuti para penyintas banjir dan longsor di Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara.

Hingga lebih dari tiga pekan pascabencana, ratusan warga masih bertahan di posko pengungsian, salah satunya di Masjid Al-Musanif Syariful Hasanah, Kelurahan Sibuluan Raya, Kecamatan Pandan.

Para penyintas terpaksa tetap mengungsi karena rumah mereka belum bisa ditempati. Lumpur tebal masih memenuhi permukiman, sementara akses air bersih dan listrik belum sepenuhnya pulih.

Tiga Minggu Konsumsi Mi Instan

Kekhawatiran warga meningkat karena selama 22 hari atau lebih dari tiga minggu, bantuan logistik yang diterima sebagian besar hanya berupa mi instan, tanpa asupan sayur maupun protein.

“Tiga minggu ini pagi, siang, malam ya makan Indomie saja. Tanpa telur. Kalau ada nasi, kita makan pakai nasi,” ujar Syarifah Dewi Panjaitan (33), salah satu penyintas banjir, kepada Tribun Medan, Rabu (17/12/2025).

Ia mengaku pasrah melihat anaknya harus terus-menerus menyantap mi instan demi bertahan hidup di pengungsian. Menurut Syarifah, stok beras bantuan kini mulai menipis, bahkan beberapa hari terakhir posko mereka tidak menerima bantuan sama sekali.

“Mau gimana lagi, harus disyukuri. Bantuan yang datang ya Indomie berkardus-kardus, itulah yang kami olah sampai sekarang,” katanya.

Penyakit Mulai Bermunculan

Akibat pola makan yang minim gizi, sejumlah penyintas mulai mengalami gangguan kesehatan.

anak mulai gatal-gatal. Kami pun mulai diare,” ujar Syarifah.

Kondisi tersebut diperparah dengan belum pulihnya pasokan air bersih. Warga belum bisa membersihkan rumah dari lumpur karena air belum mengalir.

“Kami mau bersihkan rumah juga belum bisa, air belum hidup. Padahal bersihkan lumpur itu harus pakai air,” jelas warga Jalan AR Surbakti, Kelurahan Sibuluan Nauli, Kecamatan Pandan tersebut.

Selain kebutuhan pangan, Syarifah juga kesulitan memenuhi kebutuhan popok anaknya setelah kondisi ekonomi keluarga terpuruk.

“Kalau ada yang ngasih bantuan popok bayi, senang rasanya. Walaupun kadang ukuran enggak pas. Usaha es saya hancur karena banjir, suami juga belum kerja di gudang ikan karena enggak ada ikan masuk,” katanya.

Keluhan Distribusi Bantuan Tak Merata

3 Pekan Mengungsi, Penyintas Banjir Tapanuli Tengah Hanya Makan Mi Instan, Penyakit Mulai Bermunculan, Tiga Minggu Konsumsi Mi Instan, Penyakit Mulai Bermunculan, Keluhan Distribusi Bantuan Tak Merata, Data Korban dan Kerusakan, Rumah Hanyut dan Permukiman Jadi Aliran Sungai, Menunggu Kepastian Hunian Baru, Relokasi Dinilai Terlalu Jauh, 301 Rumah Hilang di Hutanabolon, Pemkab Siapkan Lahan Relokasi

Tumpukan kayu dan lumpur terlihat masih menutup jalan di Lingkungan I, Kelurahan Sibuluan Nauli, Kecamatan Pandan, Kabupaten Tapanuli Tengah, Selasa (16/12/2025).

Menurut Syarifah, bantuan logistik dari pemerintah dinilai belum merata. Ia menyebut bantuan lebih banyak terpusat di Posko Pengungsian GOR Pandan.

“Bantuan dari pemerintah hanya dibagikan di GOR Pandan, sementara kami di sini kadang tidak dapat,” ujarnya.

Ia berharap pemerintah segera membersihkan akses jalan di kawasan Jalan AR Surbakti, agar warga dapat kembali menjangkau rumah mereka.

“Harapan kami, jalan di Sibuluan Indah ini dibersihkan. Sampah dan lumpur di mana-mana. Area kami paling terdampak karena bendungan dibuka, air masuk sampai tinggal atap rumah saja,” ucapnya.

Data Korban dan Kerusakan

Berdasarkan data Info Bencana Tapanuli Tengah, di Kecamatan Pandan tercatat:

  • 25 korban jiwa
  • 678 jiwa masih mengungsi
  • 67.081 jiwa terdampak
  • 1.071 rumah rusak, terdiri atas
  • 368 rumah rusak sedang
  • 150 rumah rusak berat
  • 7 rumah hancur dan hanyut

Secara keseluruhan, hingga lebih dari tiga minggu pascabencana, tercatat 10.887 jiwa masih mengungsi di berbagai posko di Kabupaten Tapanuli Tengah.

Rumah Hanyut dan Permukiman Jadi Aliran Sungai

Sebagian warga tak bisa kembali karena rumah mereka hanyut atau tak lagi layak huni. Bahkan, beberapa permukiman kini berubah menjadi aliran sungai baru akibat pendangkalan dan timbunan kayu di alur sungai lama.

Berdasarkan data BPBD Kabupaten Tapanuli Tengah yang diterima Tribun Medan:

  • 379 rumah hanyut
  • 752 rumah rusak berat
  • 803 rumah rusak sedang
  • 1.311 rumah rusak ringan

Namun, data tersebut tidak mencantumkan Kecamatan Tukka, padahal wilayah ini disebut sebagai salah satu yang paling terdampak.

Pantauan di lapangan, Rabu (17/12/2025), menunjukkan dua lingkungan di Kelurahan Hutanabolon nyaris hilang tersapu banjir dan longsor.

Kondisi serupa juga terjadi di Kelurahan Sigiring-giring dan Sipange, di mana rumah-rumah tertimbun batu besar dan lumpur.

3 Pekan Mengungsi, Penyintas Banjir Tapanuli Tengah Hanya Makan Mi Instan, Penyakit Mulai Bermunculan, Tiga Minggu Konsumsi Mi Instan, Penyakit Mulai Bermunculan, Keluhan Distribusi Bantuan Tak Merata, Data Korban dan Kerusakan, Rumah Hanyut dan Permukiman Jadi Aliran Sungai, Menunggu Kepastian Hunian Baru, Relokasi Dinilai Terlalu Jauh, 301 Rumah Hilang di Hutanabolon, Pemkab Siapkan Lahan Relokasi

Tumpukan kayu dan lumpur terlihat masih menutup jalan di Lingkungan I, Kelurahan Sibuluan Nauli, Kecamatan Pandan, Kabupaten Tapanuli Tengah, Selasa (16/12/2025).

Salah satu penyintas, Melur Tambunan, tak kuasa menahan tangis saat menceritakan kondisi rumahnya.

“Gimana enggak sedih, rumah kami sekarang jadi aliran sungai. Enggak tahu berapa bulan kami di sini, enggak tahu kapan pulihnya,” katanya sambil menangis.

Meski bangunan rumahnya masih berdiri, seluruh perabot dan sumber penghidupan hanyut terbawa banjir.

“Rumahnya masih ada, tapi buka pintu sudah setara sungai. Semua barang hanyut, usaha hancur. Diperbaiki pun enggak bisa,” ucapnya.

Harapan Melur kini hanya satu, yakni adanya hunian baru dari pemerintah.

“Kalau bisa, pemerintah sediakan rumah untuk kami lagi. Enggak mungkin selamanya kami di pengungsian,” ujarnya.

Relokasi Dinilai Terlalu Jauh

Meski pemerintah menawarkan relokasi, sebagian warga masih ragu karena lokasi hunian baru dinilai terlalu jauh dari sekolah anak dan sumber penghidupan.

“Relokasinya jauh di Lumut sana, sementara anak-anak sekolah di sini. Usaha kami juga hanyut semua,” ujar Melur.

Hal senada disampaikan Juwita, warga Lingkungan III Kelurahan Hutanabolon, yang rumahnya hanyut diterjang banjir.

“Yang paling dibutuhkan itu makanan, sembako, air bersih, dan rumah. Listrik bukan persoalan utama. Kami masak pakai air kotor yang dijaring lalu direbus,” katanya.

Ia juga mengeluhkan minimnya bantuan di wilayahnya.

“Kalau mau dapat makan, kami harus jalan tiga kilometer ke posko bantuan umum. Tapi banyak bantuan ditimbun,” ujarnya.

301 Rumah Hilang di Hutanabolon

Sementara itu, Lurah Hutanabolon, Polman Pakpahan, menyebut terdapat 301 rumah yang hilang, hanyut, dan rusak berat di wilayahnya.

“Sekarang masih ada sekitar 2.700 warga yang mengungsi di Simpang Sipange–Hutanabolon karena belum ada hunian baru,” ujarnya.

Ia menjelaskan, Pemerintah Kabupaten Tapanuli Tengah telah menyiapkan opsi relokasi di Kecamatan Pinang Sori, Sibabangun, dan Hutabalang, namun sebagian warga masih enggan pindah.

“Lokasinya cukup jauh dan beda kecamatan. Warga berharap tetap bisa tinggal di kelurahan ini, tapi di tempat yang aman,” kata Polman.

Menurutnya, hunian relokasi tersebut gratis dan siap ditempati jika warga bersedia pindah.

Pemkab Siapkan Lahan Relokasi

Bupati Tapanuli Tengah Masinton Pasaribu menyatakan, salah satu lokasi relokasi disiapkan di belakang Asrama Haji Kecamatan Pinang Sori.

“Lahan di belakang Asrama Haji Pinangsori disiapkan sebagai salah satu lokasi hunian bagi warga terdampak bencana,” ujar Masinton dalam keterangan tertulis di akun Instagram resmi @Pemkabtapanulitengah, Rabu (17/12/2025).

Hingga berita ini ditulis, Tribun Medan masih berupaya mengonfirmasi lebih lanjut terkait kepastian pembangunan hunian baru bagi penyintas banjir dan longsor di Tapanuli Tengah.

Artikel ini telah tayang di Tribun-Medan.com dengan judul Nestapa Pengungsi Banjir di Tapteng, 22 Hari Bertahan Makan Mi Instan, Bantuan Mulai Berkurang

Ulurkan tanganmu membantu korban banjir di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Di situasi seperti ini, sekecil apa pun bentuk dukungan dapat menjadi harapan baru bagi para korban. Salurkan donasi kamu sekarang dengan klik di sini