Bencana Terparah sejak 1936, Desa Bair Tapanuli Tengah Rata dengan Tanah, 27 Rumah Hilang

Tapanuli Tengah, Banjir Tapanuli, Banjir Tapanuli Tengah, banjir sumatera, banjir sumatera 2025, tapanuli tengah lumpuh total, Bencana Terparah sejak 1936, Desa Bair Tapanuli Tengah Rata dengan Tanah, 27 Rumah Hilang

Desa Bair, Kecamatan Tapian Nauli, Tapanuli Tengah, yang dulu dikenal sebagai kawasan wisata Air Terjun Aloban Bair dan sentra buah durian, kini berubah menjadi hamparan tanah merah kering usai dilanda banjir bandang dan longsor pada Selasa (25/11/2025).

Bencana tersebut meluluhlantakkan satu perkampungan, merenggut tujuh nyawa, dan membuat sungai jernih di wilayah itu berubah menjadi aliran material kayu dan lumpur.

Hingga Senin (8/12/2025), suasana di Desa Bair masih dipenuhi ketegangan.

Warga tampak duduk lemas menyaksikan tim Search and Rescue (SAR) gabungan yang terdiri dari Basarnas, BPBD, Polri, dan TNI, melanjutkan pencarian empat korban yang belum ditemukan.

Oloan Hutagalung, salah satu korban selamat sekaligus saksi mata, mengisahkan detik-detik saat longsor menghantam permukiman mereka.

"Awalnya di malam yang tenang hari Selasa 25 November dini hari, sekitar pukul 01.00 WIB, longsor datang dari belakang rumah. Dua jam kemudian longsor yang jauh lebih besar menyusul hingga meratakan perkampungan kami," tutur Oloan.

Sebanyak 27 rumah warga hilang terbawa banjir dan longsor.

Satu kampung praktis lenyap seketika.

Drama pencarian korban yang menguras emosi

Pencarian korban meninggalkan suasana haru.

Elisabet Hutabarat (20) tampak duduk termangu di batu bekas longsor, menatap tim SAR dan anjing pelacak yang menggali puing-puing.

Teriakan petugas, “Kursi roda, kursi roda!” memutus keheningan.

Elisabet sontak berdiri dan menangis histeris. Kursi roda itu milik ayahnya yang hingga hari ini belum ditemukan.

Harapan tipis yang sempat muncul kembali pupus. Elisabet dan ibunya hanya bisa saling menguatkan di tengah penderitaan yang menimpa keluarga mereka.

Kisah serupa dialami Irma Yanti, yang datang bersama anaknya untuk melihat lokasi rumah abang kandung dan kakak iparnya.

"Saya kemari melihat rumah Abang dan kakak ipar. Cuma sekarang sudah tidak ada lagi, sudah rata dengan tanah," ucap Irma lirih.

Meskipun jenazah kerabatnya telah ditemukan sehari sebelumnya, Irma mengaku tak pernah membayangkan perpisahan mereka berlangsung sedemikian tragis.

Medan sulit dan cuaca buruk hambat pencarian

Babinsa Tapian Nauli, Serda Armin Simanjuntak, mengatakan pencarian yang telah berlangsung 13 hari sangat terhambat akses yang rusak dan medan yang berbahaya.

"Jalan menuju ke desa ambles dan tertutup kayu gelondongan yang dibawa banjir," ujar Serda Armin.

Kondisi tanah yang lembek serta cuaca yang tidak bersahabat memperbesar risiko bagi petugas yang terus mencari empat korban yang masih hilang.

Pantauan Tribun Medan pada Senin (8/12/2025) menunjukkan bahwa nyaris seluruh Desa Bair hilang rata dengan tanah. Kantor desa ikut hancur diterjang banjir bandang.

Bekas aliran sungai dan material longsor tampak berserakan di berbagai titik. Desa yang selama ini menjadi kebanggaan warga Tapanuli Tengah karena keindahan alam dan hasil buah duriannya kini berubah menjadi wilayah bencana.

Bencana terburuk sejak 1936, air terjun Aloban Bair hancur

Desa Bair dikenal luas sebagai destinasi wisata Air Terjun Aloban Bair dan daerah penghasil durian.

Banyak wisatawan bahkan datang dari luar negeri.

“Yang datang ke sini kadang ada dari luar negeri untuk berkunjung ke tempat wisata air terjun itu. Ya tanahnya cukup subur,” ujar Kepala Dusun II Desa Bair, Holoan Hutagalung.

Namun, seluruh kawasan wisata tersebut kini rusak berat. Holoan menyebut tanah tempat mereka bekerja telah rata selama 14 hari terakhir.

Holoan mengatakan bahwa bencana kali ini merupakan yang terparah sepanjang sejarah desa.

"Iya hanyut semua terbawa banjir dan longsor. Dari sana longsor semua. Kalau sejak dari nenek moyang nyaman terus. Dulu kata orang tua kami ada bencana di tahun 1936, tapi tidak segini besarnya. Yang jadi korban itu kampung bawah," ungkapnya.

Ia juga memaparkan kronologi lengkap longsor yang terjadi empat kali dalam sehari pada Selasa itu.

"Kejadian hari Selasa pagi mulai longsor di Dusun II, sehingga kami mengungsi ke Dusun Satu. Lalu pukul 12.00 WIB longsor lagi. Tak lama pukul 15.00 longsor lagi bersamaan dengan tumbangnya pohon durian yang cukup besar," ujar Holoan.

Karena situasi semakin memburuk, warga diminta mengungsi ke Gereja HKBP Bair pukul 17.00 WIB.

“Setelah mengungsi kami nggak tidur satu malam. Kami senteri saja sepanjang malam. Taunya selamat,” katanya.

Namun keesokan harinya, pada Rabu (26/11/2025) pukul 04.00 WIB, warga mendengar suara seperti petir panjang.

"Kami dengar deruh, petir yang panjang dan dahsyat. Kami sudah pasrah. Pagi harinya pukul 06.00 WIB matahari sudah terlihat, ternyata kampung kami rata semua dengan tanah dan banjir," ujar Holoan.

Holoan berharap pemerintah segera menurunkan alat berat dan memperbaiki akses jalan ke desa tersebut agar pencarian dan penataan kembali wilayah dapat dilakukan.

“Biar kami tinggal di sini, kalau tidak kami tinggal di mana. Kami berharap besar,” ujarnya.

Artikel ini telah tayang diTribun-Medan.comdengan judul Derai Tangis Elisabet Hutabarat kala Kursi Roda Didapat tapi Jasad Ayah masih Hilang Terbawa Banjir

Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang