Motif Cemburu, Ibu Tiri Resmi Jadi Tersangka dalam Kasus Kematian Balita di Bandung

Satuan Reserse Kriminal Polrestabes Bandung menetapkan SM (26), ibu tiri balita RAF (4), sebagai tersangka dalam kasus dugaan penganiayaan yang menyebabkan kematian anak tersebut.
Keputusan itu diambil setelah polisi melakukan serangkaian pemeriksaan, termasuk autopsi, olah tempat kejadian perkara (TKP), hingga pemeriksaan saksi.
“Sudah tersangka,” ujar Kasatreskrim Polrestabes Bandung, Kompol Anton, saat dikonfirmasi wartawan, Selasa (25/11/2025).
RAF meninggal dunia pada Sabtu (22/11/2025) setelah menjalani perawatan intensif di RSUD Ujungberung. Ayah kandung RAF, Anton, langsung melaporkan SM ke polisi atas dugaan penganiayaan.
SM kini telah ditahan. “Dilakukan penahanan,” kata Anton.
Polisi juga berencana memeriksa kondisi psikologis tersangka. “Iya, itu akan dilakukan pemeriksaan psikologis,” ujarnya.
Otopsi Ungkap Banyak Luka Baru dan Lama
Kasus ini bermula ketika RAF dibawa ke RSUD Ujungberung pada Jumat (21/11/2025) dengan kondisi tidak sadarkan diri.
Awalnya, keluarga ayah menyebut RAF jatuh di kamar mandi. Namun keterangan itu dinilai janggal oleh ibu kandung RAF, Titawati (29), setelah ia melihat langsung kondisi anaknya di rumah sakit.
Otopsi mengungkap fakta lain.
“Ditemukan banyak luka, baik luka baru maupun luka lama. Tampak kekerasan benda tumpul di kepala bagian depan, belakang, serta memar di tubuh, tangan, kaki, dan dada,” jelas Kompol Anton, Senin (24/11/2025).
Hingga kini, polisi telah memeriksa lima saksi, termasuk ayah kandung RAF dan sejumlah pihak terkait.
Dugaan Kekerasan Terjadi di Kontrakan Cipadung
Polisi menyimpulkan dugaan tindak pidana kekerasan terhadap anak terjadi Jumat (21/11/2025) di kontrakan keluarga di Cipadung, Gang Gagak, Kecamatan Cibiru, Kota Bandung.
“Memang benar diduga adanya tindak pidana kekerasan terhadap anak yang menyebabkan korban meninggal dunia,” ucap Anton.
SM, ibu tiri korban, ditetapkan sebagai pelaku tunggal sementara. Motif awal yang terungkap adalah kecemburuan.
“Dari keterangan, ada rasa cemburu karena ayah korban dianggap lebih sayang kepada RAF dibandingkan anak-anaknya sendiri,” kata Anton.
Ibu Kandung: Saya Syok Melihat Banyak Luka
Di rumah duka di Kampung Baeud, Desa Samida, Kecamatan Selaawi, Garut, suasana duka masih menyelimuti keluarga. Titawati (29), ibu kandung RAF, tampak masih terpukul.
Ia bercerita bahwa Jumat sore (21/11/2025) ia menerima kabar anaknya masuk rumah sakit. Ia langsung berangkat dari Depok menuju Bandung dan tiba sekitar pukul 23.00 WIB.
Sesampainya di IGD, ia diminta memberi persetujuan operasi besar. Saat itulah ia mulai curiga.
“Waktu itu perawat tanya ini anak kenapa sampai harus operasi besar. Mantan suami bilangnya jatuh. Tapi saya lihat kepala, kuping, kaki, betis banyak luka memar,” ujarnya.
Setelah RAF dipindahkan ke ruang PICU, Tita baru mengetahui kondisi sebenarnya.
Ada tulang dada kanan-kiri patah, tengkorak depan retak, pendarahan otak, luka bakar di dada, serta bekas cakaran di telinga. Bagian belakang kepala juga lembek.
“Makanya jam 2 malam saya minta visum. Banyak luka-luka yang tidak wajar,” ungkapnya.
Sabtu pukul 03.30 WIB, RAF mengalami penurunan kondisi dan akhirnya dinyatakan meninggal pukul 04.00 WIB.
Laporan Polisi dan Pemeriksaan
Tita langsung melapor ke Polsek Panyileukan pada pukul 07.00 WIB. Setelah mendapatkan petunjuk medis, ia kembali ke RSUD Ujungberung untuk mengambil dokumen dan foto-foto luka RAF.
Polisi kemudian membawa jenazah RAF ke RS Sartika Asih untuk autopsi. Proses pemakaman dilakukan di Garut pada Minggu siang, 23 November 2025.
Tita mengungkapkan bahwa keterangan ayah RAF berubah ketika diperiksa polisi.
“Ada dua penjelasan dari dia. Ke saya bilang jatuh di kamar mandi, sadar, dibawa ke klinik. Tapi ke polisi bilang dari rumah sudah tidak sadar dan langsung ke RSUD Ujungberung,” kata Tita.
Ia juga mengaku mantan suami belakangan mengakui bahwa RAF dianiaya oleh istri barunya.
Keluarga Minta Keadilan, Kasus Viral di Media Sosial
Kasus ini viral pertama kali melalui unggahan akun Facebook Petualangan Teh Mayang, yang menyebut RAF mengalami sejumlah luka mencurigakan seperti bekas setrika, cakaran, dan pendarahan otak.
Keluarga meminta masyarakat tidak berspekulasi berlebihan, namun tetap mengawal proses hukum.
“Kami serahkan sepenuhnya kepada polisi agar kasus ini terang benderang,” kata Supian (60), kerabat korban.
Kompol Anton memastikan pihaknya bergerak cepat. Pemeriksaan saksi, TKP, serta penelusuran rekam medis menjadi dasar penetapan tersangka.
“Mohon doa secepatnya kasus ini terang benderang,” ucapnya.
Hingga kini, SM masih menjalani pemeriksaan lebih lanjut di bagian Unit PPA Polrestabes Bandung.
Sebagian Artikel Telah Tayang di Kompas. com dengan Judula dan TribunJabar.id dengan judul Ibu Tiri Diduga Aniaya Balita Garut hingga Tewas karena Cemburu pada Ayah Korban
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih. Berikan apresiasi sekarang