Hidup di Pengungsian, Warga Desa Meuse Bireuen Bertahan dengan Mi Instan dan MBG

Bireuen, Aceh, Hidup di Pengungsian, Warga Desa Meuse Bireuen Bertahan dengan Mi Instan dan MBG

Sudah 20 hari berlalu sejak banjir bandang menerjang sejumlah daerah di Sumatera, namun kondisi belum sepenuhnya pulih.

Warga masih belum bisa tidur nyenyak di rumah masing-masing. Sebagian besar tetap bertahan di titik-titik pengungsian.

Sejumlah rumah masih terendam air dan tertutup lumpur tebal yang mulai mengeras.

Untuk membersihkannya, warga membutuhkan tenaga ekstra serta waktu yang tidak singkat agar hunian kembali layak ditempati.

Gambaran kehidupan di pengungsian mencerminkan beratnya dampak banjir yang masih dirasakan warga.

Seperti di Desa Meuse, Kecamatan Kuta Blang, Kabupaten Bireuen, Provinsi Aceh, ribuan warga hingga kini masih hidup di pengungsian karena rumah mereka terkoyak air bah.

Warga tersangkut di pohon

Zahrul Fuadi, sekretaris desa yang akrab disapa Fuad, menceritakan bahwa hingga kini ribuan warga desanya masih bertahan di titik-titik pengungsian yang ada di mushala dan toko-toko.

"Warga Desa Meuse berjumlah total 1.024 orang. Dan hampir sebagian besar masih tidur di pengungsian, hanya beberapa orang saja yang sudah berhasil membersihkan rumahnya dan kembali ke rumah," paparnya kepada Kompas.com melalui sambungan telepon, Selasa (16/12/2025) pagi.

Fuad sempat menceritakan bagaimana banjir menerjang desanya pada akhir November lalu.

Waktu itu, tanggal 26 November pagi, air mulai naik. Perlahan, namun mengalir semakin deras dan semakin tinggi.

"Dari hanya beberapa sentimeter, menjadi 2 hingga 3 meter. Untungnya, air datang tak langsung tinggi, jadi warga sempat mengungsi ke tempat lebih aman," paparnya.

Meski begitu, ada beberapa warga yang ditemukan tersangkut di pohon-pohon. Selama hampir 24 jam, baru mereka bisa dievakuasi ke titik pengungsian.

"Ada yang tersangkut pohon kelapa, ada juga yang berpegangan di pohon rambutan. Tapi alhamdulillah semua warga desa kami selamat, tidak ada korban jiwa," paparnya penuh syukur.

Mi instan jadi menu "wajib" di sela-sela MBG

Bireuen, Aceh, Hidup di Pengungsian, Warga Desa Meuse Bireuen Bertahan dengan Mi Instan dan MBG

Kondisi dapur umum Desa Meuse yang sederhana.

Semenjak banjir menerjang dan merendam hunian, sebagian besar warga desa bertahan di pengungsian hingga hari ini.

"Pakaian seadanya. Ada yang pakaiannya sudah tidak bisa diselamatkan, ada yang masih bisa dicuci dan dibersihkan dari lumpur. Untungnya banyak relawan yang datang dan memberikan bantuan berupa pakaian," ujarnya.

Di Desa Meuse, ada dua dapur umum yang tiap hari kompornya tak pernah padam demi melayani kebutuhan pangan ratusan warga. 

Empat orang bertugas di masing-masing dapur umum, mengolah beras dan lauk pauk yang dikirim oleh para relawan.

Stok beras cukup melimpah, kata Fuad. Namun sayang, tidak begitu dengan stok lauk pauk yang sering menipis.

Tapi warga bersyukur, karena beberapa hari terakhir, mereka terbantu makanan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) pemerintah.

Jadi selama sekolah belum aktif akibat bencana, MBG disalurkan ke desa-desa, termasuk ke Meuse.

Pada Senin (15/12/2025), bantuan MBG datang dengan lauk ayam, sedikit menghalau bosan pada mi instan, yang seakan menjadi menu "wajib" selepas bencana,

"Jadi menu harian kami ya mi instan. Semalam agak istimewa, karena selain mi instan, juga ada ikan asin yang kami beli sendiri di pasar. Tapi menu ini tak setiap hari ada karena keterbatasan dana," ujar Fuad.

Setiap hari, dua dapur umum Desa Meuse memasak untuk hampir 750 orang. Mereka menyediakan makan siang dan makan malam. Jika stok tengah banyak, ada pula menu makan pagi.

Panen gagal karena sawah hilang

Bireuen, Aceh, Hidup di Pengungsian, Warga Desa Meuse Bireuen Bertahan dengan Mi Instan dan MBG

Kondisi di Desa Meuse, BIreuen, Aceh pascabanjir bandang.

Dua pekan selepas banjir menerjang, banyak warga Meuse mulai terserang banyak penyakit, terutama gatal-gatal dan demam.

"Untungnya, sampai hari ini, sudah tiga kali tim medis datang dan membekali kami stok obat-obatan. Kemarin, Senin, juga ada dokter yang datang. Mereka ada di sini 2 hingga 3 jam memeriksa warga yang sakit," papar Fuad.

Aliran listrik di Meuse sendiri sudah perlahan pulih, meski beberapa kali padam hingga 24 jam.

Sedangkan untuk kebutuhan air bersih, warga menggantungkan stok dari sebuah sumur yang masih bisa digunakan.

"Air sumur itulah yang digunakan untuk makan, minum, dan mandi warga sehari-hari," kata Fuad.

Hingga kini, warga masih berusaha membersihkan rumah yang masih bisa diselamatkan. Belum ada satu pun yang kembali bekerja, karena sawah-sawah rusak, bahkan hilang tersapu banjir.

Menurut Fuad, sebelum banjir bandang menerjang, warga sebenarnya tengah bersiap memanen padi. Mereka menunda panen karena hujan turun berhari-hari.

"Bukannya reda, malah banjir menerjang. Jadi sawah warga sekitar 17 hektar yang siap panen, hilang semuanya. Beberapa warga yang sudah memanen sawahnya sebelum banjir, juga akhirnya kehilangan hasil panennya, karena semua beras terendam banjir," pungkas Fuad menceritakan penderitaan warga desanya.

Ulurkan tanganmu membantu korban banjir di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Di situasi seperti ini, sekecil apa pun bentuk dukungan dapat menjadi harapan baru bagi para korban. Salurkan donasi kamu sekarang dengan klik di sini