Kisah Adi Bertahan Hidup di Bali: Gaji Bengkel, Kos Sempit, dan Hidup Bertiga

Di tengah mahalnya biaya hidup dan sulitnya mencari hunian di Bali, Adi Dwi Cahyo (33) memilih bertahan di sebuah kamar kos sederhana di kawasan pusat Kota Denpasar.
Ukurannya hanya sekitar 2 x 3 meter, nyaris tak menyisakan ruang selain kasur dan lemari kecil. Bahkan pintu lemari tak bisa dibuka penuh karena langsung berbenturan dengan ujung kasur.
Kamar itu tidak dilengkapi dapur maupun kamar mandi dalam. Meski begitu, pria yang akrab disapa Dwi ini tidak tinggal sendirian.
Berbagi ruang dengan istri dan putrinya
Ia berbagi ruang sempit tersebut bersama istri dan seorang putrinya.
Di tengah keterbatasan itu, Dwi tetap merasa beruntung karena masih memiliki tempat bernaung di kota yang biaya sewanya kian melambung.
“Untuk makan di kamar saja susah. Tapi saya beruntung sekali di sini. Dapat kos paling murah, Rp 500.000, sudah termasuk listrik dan air,” ujarnya dikutip , Senin (5/1/2026) petang.
Pendapatan pas-pasan, pengeluaran tak bisa menunggu
Sehari-hari, Dwi bekerja di sebuah bengkel dengan penghasilan berkisar Rp 4 juta hingga Rp 5 juta per bulan.
Ia mulai bekerja sejak pukul 08.00 hingga sekitar pukul 17.00 Wita, meski tak jarang harus lembur demi menambah pemasukan.
Sementara itu, istrinya fokus mengurus anak di kos.
Dengan kondisi tersebut, mengatur keuangan menjadi tantangan tersendiri.
Dwi mengakui, sering kali penghasilan yang diterima tidak sebanding dengan kebutuhan keluarga.
“Kalau dipikir-pikir, tidak masuk akal perbandingan jumlah pendapatan dan pengeluaran. Yang penting bisa makan dulu, lainnya bisa dihemat. Saya baru ngebon Rp 4,7 juta untuk sekolah anak. Syukur bos baik. Kata dia, tenang saja, rezeki pasti ada,” ujarnya.
Meski nominal gaji terlihat cukup, realitanya uang yang diterima setiap akhir bulan tidak pernah utuh.
Potongan dari bon yang diambil lebih awal membuat sisa uang semakin menipis.
“Pernah hanya beberapa ratus ribu saja. Bahkan pernah sampai nol. Jadi akhirnya bon dulu sementara. Dalam sehari, kadang ada saja ngebon Rp 50.000,” imbuh dia sembari tertawa.
Bertahan dengan kesederhanaan
Dwi mengaku, penghasilannya dari tahun ke tahun tak banyak berubah.
Menurutnya, gaji sebesar itu mungkin cukup untuk hidup sendiri, namun belum memadai bagi mereka yang telah berkeluarga di Bali.
Ia memperkirakan, penghasilan ideal untuk menghidupi satu keluarga kecil di Pulau Dewata berada di kisaran Rp 8 juta hingga Rp 9 juta per bulan.
“Memang selama ini pas-pasan terus. Tapi saya tidak akan pernah kekurangan di sini. Ada bos yang baik sekali dan selalu mendukung. Dia jadi penolong saya. Di sini teman baik semua. Tidak ada kekurangan di sini. Meskipun mereka baik, tapi saya tidak mau memanfaatkan teman,” jelasnya.
Sempat terlintas di benaknya untuk mencari penghasilan tambahan sebagai pengemudi ojek daring.
Namun, rencana itu urung dilakukan karena keterbatasan ponsel yang sering bermasalah.
Ia pun memilih tidak memaksakan diri mengambil banyak pekerjaan.
Baginya, hidup sederhana sudah cukup. Makan dengan lauk tempe dan tahu pun sudah menjadi kebahagiaan tersendiri.
Pernah berada di puncak, kini memilih bertahan
Kehidupan Dwi saat ini sangat berbeda dengan masa lalunya.
Sebelum merantau ke Bali, ia mengaku pernah hidup berkecukupan saat tinggal di Lamongan, Jawa Timur.
Saat itu, ia dan istrinya bekerja di bidang pengurusan sertifikat tanah.
Pendapatan besar bukan hal sulit baginya kala itu.
Dalam sehari, ia bisa meraih Rp 5 juta hingga Rp 10 juta, bahkan pernah mencapai Rp 30 juta.
“Akhirnya semua habis. Benar-benar habis. Semua terjual. Saya terlalu berfoya-fota. Anak minta jajan sampai tak bisa belikan. Sampai keluar air mata sendiri. Saya utang ke tetangga. Dulu saya tidak pernah utang sama sekali,” ungkapnya.
Di titik terendah itulah, Dwi memutuskan mengadu nasib ke Bali.
Sejak menginjakkan kaki di Pulau Dewata, ia tak pernah terpikir untuk kembali menetap di Jawa.
“Pikiran saya damai kerja di sini. Walau hidup pas-pasan, tidak apa-apa. Tapi bagi orang-orang di rumah (di Jawa), saya pergi kerja di Bali, artinya saya banyak uang, hehe,” katanya berseloroh.
Dwi berharap pemerintah dapat lebih memperhatikan kondisi masyarakat kecil dan membuka lebih banyak lapangan pekerjaan. Namun, ia menegaskan satu hal yang pasti: bekerja adalah keharusan untuk bertahan hidup.
“Saya sudah pernah merasakan hidup bergelimang harta, sekarang yang penting bisa makan saja, cukup, sudah bersyukur,” pungkasnya.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang