Korban Banjir Tapteng: 6 Jam Bertahan di Atas Bak Air, 10 Hari Hidup Tanpa Air Bersih

banjir bandang, bencana banjir, Banjir Sumut, Banjir Tapanuli Tengah, korban banjir tapteng, banjir sumatera, Korban Banjir Tapteng: 6 Jam Bertahan di Atas Bak Air, 10 Hari Hidup Tanpa Air Bersih, Menyelamatkan Diri di Atas Bak Air, 10 Hari Tanpa Air Bersih, Makanan Pun Terkadang Hanya Nasi Putih, Harapan Terakhir pada Pemerintah

Kondisi warga terdampak banjir bandang di Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, masih jauh dari normal meskipun bencana telah terjadi lebih dari sepekan lalu.

Tidak hanya kehilangan rumah dan harta benda, para penyintas kini hidup dalam keterbatasan air bersih, makanan, dan akses logistik.

Di Kelurahan Lopian, Kecamatan Badirik, jejak kehancuran masih terlihat jelas. Rumah-rumah warga tertimbun lumpur yang mengeras, sementara kayu gelondongan yang terseret arus banjir masih menumpuk di halaman permukiman.

Sepanjang kurang lebih satu kilometer, bangunan tampak rusak parah akibat terjangan banjir bandang yang membawa kayu besar dari hulu sungai.

Jalan menuju pemukiman pun masih dipenuhi bekas lumpur. Walaupun sebagian sudah disingkirkan dari badan jalan, gundukan lumpur setinggi hampir satu meter masih terlihat di sisi kiri dan kanan jalur lintas Kecamatan Pinangsori menuju Badirik.

Menyelamatkan Diri di Atas Bak Air

Misriani Lubis menjadi salah satu saksi hidup bagaimana air bercampur lumpur dan kayu gelondongan menerjang pemukiman mereka pada Selasa (25/11/2025) sekitar pukul 08.30 WIB.

Saat itu, ia berada di rumah bersama anak lelakinya serta sang suami yang lumpuh.

Dalam hitungan detik, air bah datang tanpa peringatan.

"Kami menyelamatkan diri ke bagian bak mandi di belakang ya bersama anak, suami saya yang lumpuh," kata Misriani saat ditemui di Kelurahan Lopian, Jumat (5/12/2025) sore.

Dengan kondisi air yang sudah sepinggang, ia dan anaknya mendorong kursi roda sang suami menuju area belakang rumah, lalu berupaya mengangkatnya naik ke atas bak penampungan air setinggi tiga meter.

Anaknya terlebih dahulu naik, kemudian Misriani dari bawah mengangkat suaminya—sebuah tindakan yang ia sendiri mengaku mustahil dilakukan pada keadaan normal.

Selama enam jam, sejak pukul 09.00 hingga 15.00 WIB, mereka bertahan di atas bak beton sambil melihat air terus menghantam rumah dan tempat usaha mereka.

"Air datang beserta batang kayu yang kecil maupun besar-besar, ditambah lumpur. Yang evakuasi kami warga juga dari kampung sebelah," ujarnya mengenang.

10 Hari Tanpa Air Bersih

Kesulitan tidak berhenti setelah banjir surut. Sejak hari pertama bencana, warga tidak lagi memiliki akses air bersih.

"Air minum kami menggunakan air hujan. Air hujan itu kami tampung kemudian kami masak," ungkapnya.

Karena listrik juga padam selama lebih dari 10 hari, warga memasak menggunakan kayu bakar.

Kondisi serupa terjadi di Desa Hutanabolon, Kecamatan Tukka, yang hingga Kamis (4/12/2025) masih terisolasi akibat banjir setinggi 70 sentimeter hingga 1 meter di akses jalan utama. Ribuan warga di wilayah tersebut bahkan dilaporkan mengonsumsi air parit karena tidak ada opsi lain.

"Ah dari parit lah airnya, mana ada yang bersih di sana? Di sini (Desa Tukka) yang ditaruh air bersih. Di sana (Hutanabolon) enggak ada. Makanya bingung kami, masyarakat Hutanabolon," kata Samirin Sitompul, warga setempat.

Makanan Pun Terkadang Hanya Nasi Putih

Untuk makanan, warga Lopian mengandalkan dapur umum pemerintah. Namun suplai terbatas dan hanya dibagikan dua kali sehari.

"Alhamdulillah, di tempat kami ini ada dapur umum sudah ada 5 hari pagi dan malam bisa makan. Tetapi, itupun kadang cuma nasi putih," kata Misriani.

"Terkadang kalau ada yang membantu Indomie ya maksa Indomie. Namanya kami ratusan orang ya seadanya," lanjutnya.

Sementara itu di Hutanabolon, sejumlah warga terpaksa berjalan kaki hingga berjam-jam melewati banjir hanya untuk membeli bahan pangan. Bantuan belum menjangkau banyak wilayah karena akses jalan terputus.

Harapan Terakhir pada Pemerintah

Kedua wilayah terdampak kini sama-sama berharap pemerintah bergerak lebih cepat. Selain bahan makanan dan air bersih, alat berat dibutuhkan segera untuk menyingkirkan timbunan lumpur dan kayu.

"Ya harapannya, kalau bisa dibaguskan oleh pemerintah lah. Biar bisa bangun rumah lagi di situ. Itu saja," ujar Samirin.

Misriani pun menyampaikan hal serupa.

"Kami membutuhkan air bersih kemudian bahan pokok makanan. Makan mie terus rasanya sudah Indomie sudah bosan," ujarnya pelan.

Hingga berita ini diturunkan, ribuan warga di Tapanuli Tengah masih bertahan dalam kondisi darurat, hidup tanpa air bersih, listrik, dan pasokan logistik memadai, sambil menunggu bantuan yang bisa menjangkau seluruh wilayah terdampak.

Artikel ini tayang di Tribun-Medan.com dengan judul Rumah Hancur Kena Banjir di Tapteng, Misriani Lubis Minum Air Hujan selama 10 Hari

Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang