Krisis Air Bersih di Padang Pascabanjir Bandang, Warga Ubah Pola Hidup

Krisis air bersih, pascabanjir bandang, Krisis Air Bersih di Padang Pascabanjir Bandang, Warga Ubah Pola Hidup, Sumur mengering sejak banjir, Pola hidup warga terpaksa berubah, Distribusi terbatas picu antrean dan keluhan, BPBD kewalahan, warga patungan bertahan

Krisis air bersih di Padang terus menekan kehidupan warga pasca banjir bandang November 2025. 

Sumur galian warga mengering, memaksa masyarakat mengubah pola hidup harian dan bergantung penuh pada distribusi air bersih di Padang yang masih terbatas. 

Kondisi ini tidak hanya memengaruhi kebutuhan sanitasi, tetapi juga aktivitas dasar seperti memasak dan persiapan sekolah. 

Hingga kini, warga belum melihat tanda pemulihan sumber air secara permanen.

Sumur mengering sejak banjir

Krisis air bersih pascabanjir bandang di Kota Padang paling terasa di Kelurahan Pasar Ambacang, Kecamatan Kuranji. 

Sejak banjir bandang Padang November 2025, aliran air dari Sungai Gunuang Nago dan Batang Kuranji tidak lagi mencapai permukiman warga.

Akibatnya, sumur galian warga Padang kering sejak November 2025. 

Ratusan kepala keluarga kehilangan sumber air mandiri dan sepenuhnya bergantung pada bantuan air bersih pemerintah.

Pola hidup warga terpaksa berubah

Warga Pasar Ambacang kini mengatur ulang penggunaan air setiap hari. Mereka membatasi mandi, mencuci, dan membersihkan rumah agar stok air cukup hingga distribusi berikutnya.

Yuhendri Syaf (53) mengatakan air di rumahnya hanya diprioritaskan untuk anak-anak dan kebutuhan dapur.

"Air yang ada hanya cukup untuk mandi dua anak saya dan kebutuhan dapur. Kalau saya dan istri, kami pergi ke sungai yang jaraknya sekitar 500 meter untuk membersihkan badan," ujar Yuhendri saat mengantre air, dikutip dari , Rabu (28/1/2026).

Ia menyebut kini hanya mandi satu kali sehari demi memastikan air tidak habis untuk kebutuhan yang lebih mendesak.

Distribusi terbatas picu antrean dan keluhan

Distribusi air bersih di Padang masih berlangsung terbatas. 

Armada dari BPBD, PMI, Dinas PU, Damkar, hingga Baznas umumnya hanya mampu menyalurkan air satu kali sehari, bahkan terkadang dua hari sekali.

Kondisi ini memicu antrean panjang bantuan air bersih di Padang. Air yang didistribusikan pada pagi hari sering kali habis sebelum sore.

Keluhan juga muncul terkait teknis pembagian air di lapangan. Syamsul Bahri menilai distribusi belum berjalan merata.

"Hari ini hanya tangki berlogo sama dengan mobil tangki itu yang diisi. Padahal banyak tangki lain dan ember warga yang sudah kosong menunggu antrean," keluh Syamsul, dikutip dari , Rabu.

BPBD kewalahan, warga patungan bertahan

BPBD Kota Padang mengakui keterbatasan armada menjadi kendala utama.

Kepala Pelaksana BPBD Kota Padang, Hendri Zulviton, menyebut krisis air di Kecamatan Kuranji terus meluas.

"Akibat cuaca panas beberapa pekan terakhir, dampak kekeringan sudah sampai ke Kecamatan Koto Tangah dan Kecamatan Padang Selatan," papar Hendri. 

Di tengah keterbatasan bantuan, warga Padang patungan beli air tangki swasta untuk bertahan. 

Dina Gusrita (21) mengatakan langkah ini terpaksa dilakukan saat distribusi tersendat.

"Kami sudah dua bulan hanya bisa berharap pada bantuan pemerintah. Tapi distribusinya hanya sekali sehari, itu pun habis sebelum sore," keluh Dina, sebagaimana dikutip dari , Rabu.

Krisis air bersih di Padang kini tidak hanya soal pasokan air, tetapi juga perubahan pola hidup warga yang menunggu pemulihan infrastruktur pascabencana.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang