Hidup Tanpa Listrik dan Air Bersih Pascabanjir, Warga Pidie Tetap Jaga Adat Memuliakan Tamu

Pidie Jaya, Pidie, Hidup Tanpa Listrik dan Air Bersih Pascabanjir, Warga Pidie Tetap Jaga Adat Memuliakan Tamu

Dalam sepekan terakhir, kondisi di Kabupaten Pidie Jaya, Provinsi Aceh, masih belum pulih semenjak diterjang banjir bandang pada 26 November 2025 lalu.

Kondisi di Pidie Jaya, tepatnya di beberapa pelosok desa, masih banyak yang terisolir dengan aliran bantuan yang belum maksimal.

Salah satunya adalah Desa Beurawang, Kecamatan Meureubo, Kabupaten Pidie Jaya.

Meski akses menuju ke desa tersebut sudah cukup lancar, namun ribuan pengungsi masih bertahan di masjid dan mushala. 

Hanya segelintir warga saja yang sudah kembali ke rumah masing-masing, bahu-membahu membersihkan rumah mereka agar bisa segera didiami kembali bersama keluarga yang tersisa.

Cerita relawan masuk Pidie

Fahmi Yunus, dosen Fakultas Ekonomi & Bisnis Islam (FEBI) UIN Ar-Raniry, Banda Aceh, menceritakan kondisi terkini Desa Beurawang kepada Kompas.com pada Senin (15/12/2025) melalui pesan singkat.

Untuk kedua kalinya, Fahmi Yunus mengumpulkan donasi dan menyalurkannya ke lokasi bencana.

Bantuan yang dibawanya berupa makanan siap makan seperti kurma, biskuit, susu kotak, juga peralatan shalat (sajadah, mukena, sarung), pembalut wanita, dan masker. 

Bantuan pertama telah ia kirimkan pada Senin (1/12/2025) lalu ke Pidie Jaya dan Bireuen.

Kemudian pada Kamis (11/12/2025), ia kembali lagi ke Pidie Jaya untuk menyalurkan bantuan kedua dari para mahasiswa dan warga negara Indonesia (WNI) yang bermukim di Inggris.

Mengendarai mobil Innova, Fahmi melaju dari Banda Aceh dan menurunkan bantuan di Desa Beurawang. 

Perjalanan yang normalnya bisa ditempuh selama 2 jam. Fahmi menempuhnya hingga kurang lebih 3 jam.

Hal ini lantaran beberapa jalan masih rusak, terimbas banjir bandang beberapa waktu lalu.

Budaya memuliakan tamu itu tetap ada

Menurut Fahmi, warga Pidie terlihat berbinar setiap ada bantuan dari relawan datang.

"Mereka tak henti mengucapkan terima kasih karena kami sudah datang menjenguk mereka. Ketua posko/kepala desa sempat menawarkan kami singgah lebih lama untuk minum-minum. Tapi kami tak ingin memberatkan mereka," ujar Fahmi.

Banyak relawan terharu dengan keramahan warga yang masih terbaca jelas, padahal luka bencana yang mereka derita belum pulih benar.

"Saya terharu, di tengah kesusahan dan musibah, mereka masih sempat menawarkan tamu untuk minum ala kadarnya. Seingat saya ini adalah salah satu tradisi Aceh, peumulia jamee, yaitu adat memuliakan tamu," papar Fahmi.

Di sela-sela menerima bantuan, banyak warga yang mengenang peristiwa banjir yang "melahap" sebagian kampung halaman dan orang-orang yang mereka sayangi.

Menurut penuturan warga, pada tanggal 25 November 2025, air sudah mulai naik ke permukiman warga. Tapi mereka tidak pernah menyangka, banjir akan menjadi seganas itu.

"Karena sebelumnya juga langganan banjir, palingan semata kaki. Tapi banjir kali ini mencapai 2 meter dan membawa kayu gelondongan dari hutan, dan meninggalkan sisa lumpur yang mengeras menjadi tanah," paparnya.

Tak ada listrik dan air bersih memadai

Menurut Fahmi, listrik di Pidie Jaya masih padam hingga Kamis (11/12/2025).

"Listrik masih off. Air bersih juga tidak ada, bahkan di posko pengungsi juga tidak ada air bersih yang cukup," ujarnya.

Pengungsi hanya mendapatkan air bersih dari jatah yang digilir oleh penyedia air bersih (relawan) yang kemudian dimasukkan ke toren atau tandon air.

"Air ini digilir per kampung. Jadi untuk air bersih, warga belum bisa sediakan sendiri, masih tergantung dari bantuan relawan yang datang," paparnya.

Meski tidak sempat menanyakan dengan detail soal ketersediaan air di Pidie, namun menurut pengamatan Fahmi, dengan jumlah pengungsi yang lebih dari seribuan orang, air 1 toren jelas tidak akan bisa mencukupi.

"Tidak mungkin bisa digunakan untuk mandi warga. Paling hanya untuk kebutuhan essential yang  urgent seperti makan dan minum," kisahnya.

"Terus terang kita hopeless ke pemerintahan (pusat). Syukur korban banyak dibantu sesama warga baik dari dalam dan luar negeri," pungkasnya.

Ulurkan tanganmu membantu korban banjir di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Di situasi seperti ini, sekecil apa pun bentuk dukungan dapat menjadi harapan baru bagi para korban. Salurkan donasi kamu sekarang dengan klik di sini