Hilang 20 Hari Saat Banjir Tapanuli Tengah, Jenazah Pendeta Lea Felanie Ditemukan 3 Kilometer dari Rumah

Pendeta Lea Felanie, Tapanuli Tengah, Hilang 20 Hari Saat Banjir Tapanuli Tengah, Jenazah Pendeta Lea Felanie Ditemukan 3 Kilometer dari Rumah, Ditemukan di Sekitar Pasar Tukka, Detik-Detik Banjir Bandang Menyeret Korban, Terpisah Saat Menyelamatkan Diri, Kisah Warga Bertahan Hidup di Tengah Terjangan Banjir, Bertahan di Rumah Pascabencana

Pencarian terhadap Pendeta Lea Felanie (59) yang hilang terseret banjir bandang di Kelurahan Hutanabolon, Kecamatan Tukka, Kabupaten Tapanuli Tengah, akhirnya membuahkan hasil.

Jenazah korban ditemukan sejauh sekitar 3 kilometer dari rumahnya, tepatnya di sekitar pasar tradisional Tukka, pada Minggu (14/12/2025) sore.

Penemuan ini mengakhiri pencarian tragis pendeta perempuan yang menjadi korban bencana banjir bandang disertai lumpur, kayu gelondongan, dan bebatuan yang meluluhlantakkan kawasan permukiman warga di Kecamatan Tukka.

Ditemukan di Sekitar Pasar Tukka

Anak ketiga korban, Betty Trifena Ritonga, membenarkan penemuan jenazah ibunya tersebut. Setelah mendapat informasi, keluarga langsung mendatangi rumah sakit untuk memastikan identitas korban.

“Puji Tuhan. Mama kami sudah ditemukan hari ini di Pasar Tukka, sekitar 3 kilometer dari rumah,” kata Betty kepada wartawan, Minggu (14/12/2025).

Menurut Betty, jenazah Pendeta Lea Felanie akan dimakamkan pada Senin (15/12/2025) pukul 09.30 WIB.

“Mama sudah bersama Bapa di surga. Akan dimakamkan besok pagi,” ujarnya.

Pemakaman akan dilangsungkan di pemakaman depan Gereja GPDI, Kelurahan Sibuluan Nalambok, Kecamatan Sarudik, Kabupaten Tapanuli Tengah.

Detik-Detik Banjir Bandang Menyeret Korban

Peristiwa banjir bandang terjadi pada Selasa (14/12/2025) pagi. Saat itu, Pendeta Lea Felanie dan suaminya, Pendeta Irwanner Muda Ritonga (57), sedang sarapan pagi di rumah yang berdampingan langsung dengan bangunan gereja.

Wilayah tersebut diketahui telah diguyur hujan deras selama beberapa hari sebelumnya.

Usai sarapan, Lea Felanie beres-beres rumah, sementara sang suami masih duduk. Tak lama kemudian, Pendeta Irwanner mendengar suara keras seperti kayu menghantam pintu gereja.

Ketika dicek, kayu besar dari arah perbukitan sudah merusak pintu bangunan. Tak berselang lama, air bah disertai lumpur, kayu, dan bebatuan datang dengan sangat cepat.

Terpisah Saat Menyelamatkan Diri

Dalam kondisi darurat tersebut, Pendeta Irwanner berusaha menyelamatkan diri.

“Bapak melompat ke rumah sebelah dan manggil mama, ‘Ayok, sudah banjir!’,” tutur Betty menirukan kesaksian ayahnya.

Namun nahas, sesaat setelah sang suami berhasil menyeberang, rumah yang berdempetan dengan gereja itu langsung terseret banjir bandang, bersama Pendeta Lea Felanie yang masih berada di dalam rumah.

Pendeta Irwanner kemudian kembali melompat dan memanjat pohon bersama seorang anak laki-laki. Pohon yang mereka panjat ikut tumbang, membuat keduanya sempat terhanyut ke seberang sungai.

“Bapak selamat pun itu mukjizat, karena situasinya begitu parah,” kata Betty.

Keduanya akhirnya berhasil naik ke perbukitan dan kembali menyeberang ke permukiman warga dengan selamat.

Kisah Warga Bertahan Hidup di Tengah Terjangan Banjir

Pendeta Lea Felanie, Tapanuli Tengah, Hilang 20 Hari Saat Banjir Tapanuli Tengah, Jenazah Pendeta Lea Felanie Ditemukan 3 Kilometer dari Rumah, Ditemukan di Sekitar Pasar Tukka, Detik-Detik Banjir Bandang Menyeret Korban, Terpisah Saat Menyelamatkan Diri, Kisah Warga Bertahan Hidup di Tengah Terjangan Banjir, Bertahan di Rumah Pascabencana

Juwita Simamora, seorang ibu rumah tangga selamat dari bencana banjir bandang, longsor di Lorong 4, Kelurahan Hutanabolon, Kecamatan Tukka, Kabupaten Tapanuli Tengah, Minggu (14/12/2025). Selama 8 jam ia berdiri di atas kulkas dan rak kayu saat banjir disertai kayu, maupun batu menerjang perkampungan mereka.

Selain menelan korban jiwa, banjir bandang Tukka juga meninggalkan kisah mencekam warga lainnya. Juwita, bersama suami dan anaknya, menjadi salah satu penyintas.

Saat air datang tanpa aba-aba dari arah perbukitan, mereka tak sempat menyelamatkan diri keluar rumah. Ketiganya kemudian berdiri di atas kulkas dua pintu dan rak kayu di dalam rumah.

Selama lebih dari delapan jam, mereka bertahan di tengah derasnya arus air, lumpur, kayu, dan batu sambil terus berdoa.

“Kami berdoa terus agar selamat. Seandainya kami kena kayu dan batu, mungkin kami sudah meninggal bertiga,” kata Juwita, Minggu (14/12/2025).

Menurut Juwita, bangunan Gereja Kristen Protestan Indonesia (GKPI) yang berdiri tepat di samping rumahnya menjadi penyelamat. Gereja tersebut menahan laju air dan material banjir sehingga arus terpecah ke kanan dan kiri.

Bertahan di Rumah Pascabencana

Hingga hampir tiga minggu pascabencana, Juwita dan keluarganya memilih bertahan di rumah dengan mendirikan tenda karena lokasi pengungsian penuh dan tidak nyaman.

Mereka hidup dalam keterbatasan, tanpa listrik, memasak dengan kayu bakar sisa banjir, serta menghadapi trauma setiap kali hujan turun.

“Kami hampir tiga minggu gelap-gelapan. Mudah-mudahan ada pembangunan di sini untuk korban banjir. Pemerintah terbuka hati membantu masyarakat,” ujar Juwita.

Banjir bandang di Lorong 4, Kelurahan Hutanabolon, Kecamatan Tukka, hampir meluluhlantakkan satu perkampungan. Warga berharap pemulihan rumah, listrik, akses jalan, dan perekonomian dapat segera dilakukan.

Artikel ini telah tayang di Tribun-Medan.com dengan judul Hilang 20 Hari Usai Rumah dan Gereja Disapu Bandang, Pendeta Lea Ditemukan Meninggal 3 Km dari Rumah

Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang