Bertahan 8 Jam di Atas Kulkas, Juwita Selamat dari Banjir Bandang di Tapanuli Tengah

Tapanuli Tengah, Bertahan 8 Jam di Atas Kulkas, Juwita Selamat dari Banjir Bandang di Tapanuli Tengah, Delapan Jam Berdiri di Atas Kulkas, Gereja Menjadi Penahan Banjir, Berenang Menyelamatkan Diri, Bertahan di Rumah Rusak, Enggan Mengungsi, Hidup dalam Trauma dan Gelap Gulita, Kondisi Memprihatinkan di Posko Pengungsian

Banjir bandang datang tanpa aba-aba dari arah perbukitan belakang permukiman warga di Lorong 4, Kelurahan Hutanabolon, Kecamatan Tukka, Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng).

Dalam situasi antara hidup dan mati, Juwita, suami, dan anak lelakinya hanya bisa bertahan di dalam rumah, berdiri di atas sebuah kulkas, sambil terus berdoa agar selamat.

Peristiwa banjir bandang Tapanuli Tengah itu terjadi pada Selasa, 25 November 2025, setelah hujan deras mengguyur wilayah tersebut sejak pagi hari.

Sekitar pukul 09.30 WIB, air sungai yang berjarak kurang lebih 100 meter dari rumah Juwita mulai naik. Namun, mereka tidak menduga air akan berubah menjadi banjir bandang yang membawa lumpur, kayu gelondongan, dan batu-batu gunung.

“Air datang tiba-tiba, langsung besar. Kami sudah tidak bisa keluar rumah,” kata Juwita saat ditemui Minggu (14/12/2025).

Delapan Jam Berdiri di Atas Kulkas

Saat air terus meninggi, Juwita dan keluarganya sempat mengeluarkan sebuah kulkas dua pintu berwarna merah hitam dan meletakkannya di dekat pintu samping rumah. Bersama beberapa rak kayu, kulkas itu menjadi satu-satunya tempat berpijak untuk menyelamatkan diri.

Selama lebih dari delapan jam, ketiganya berdiri di atas kulkas dan rak kayu, dikelilingi derasnya arus air bercampur lumpur, kayu, dan bebatuan.

“Kami mengadu nasib di atas kulkas bertiga. Saya, suami, dan anak. Kami berdoa terus supaya tidak kena kayu atau batu,” ujar Juwita.

Ia mengaku, jika salah satu dari kayu atau batu gunung itu menghantam tubuh mereka, kemungkinan besar tidak ada yang selamat.

“Seandainya kami terkena kayu dan batu, mungkin sudah meninggal bertiga,” katanya mengenang.

Gereja Menjadi Penahan Banjir

Tapanuli Tengah, Bertahan 8 Jam di Atas Kulkas, Juwita Selamat dari Banjir Bandang di Tapanuli Tengah, Delapan Jam Berdiri di Atas Kulkas, Gereja Menjadi Penahan Banjir, Berenang Menyelamatkan Diri, Bertahan di Rumah Rusak, Enggan Mengungsi, Hidup dalam Trauma dan Gelap Gulita, Kondisi Memprihatinkan di Posko Pengungsian

Betty Trifena Ritonga bersama keluarganya saat mencari mamanya yang belum ditemukan pascabanjir dan longsor di Lorong IV, Desa Hutanabolon, Kecamatan Tukka, Kabupaten Tapanuli Utara, Sumatera Utara, Selasa (25/11/2025)

Juwita menyebut, salah satu alasan keluarganya selamat dari maut adalah keberadaan bangunan Gereja Kristen Protestan Indonesia (GKPI) yang berdiri tepat di samping rumahnya.

Bangunan gereja tersebut menahan derasnya arus air, kayu gelondongan, dan batu-batu besar, sehingga aliran banjir terpecah ke kanan dan kiri, tidak langsung menghantam rumah Juwita.

“Air yang harusnya menghantam rumah kami, terbelah karena tertahan di gereja,” ujarnya.

Pantauan di lokasi menunjukkan, bangunan GKPI masih berdiri kokoh meski bagian dalamnya dipenuhi lumpur. Sementara di bagian luar gereja, tampak kayu-kayu gelondongan menumpuk di sisi belakang dan samping bangunan.

Berenang Menyelamatkan Diri

Sekitar pukul 18.00 WIB, saat air mulai surut, Juwita dan keluarganya akhirnya meninggalkan rumah. Namun, untuk mencapai daratan yang lebih tinggi, mereka harus berenang menyeberangi permukiman yang berubah menjadi aliran sungai, masih dipenuhi kayu-kayu hanyut.

“Sore harinya sekitar pukul 18.00, barulah kami ke arah Sigiring-giring. Kami berenang menyeberang sungai untuk menyelamatkan diri,” ucapnya.

Setelah tiba di tempat yang lebih tinggi, rasa lega sempat muncul karena wilayah di atas permukiman mereka tidak terdampak banjir. Namun, penderitaan belum usai. Akses jalan yang terputus membuat mereka kesulitan mendapatkan makanan dan bantuan.

Bertahan di Rumah Rusak, Enggan Mengungsi

Tapanuli Tengah, Bertahan 8 Jam di Atas Kulkas, Juwita Selamat dari Banjir Bandang di Tapanuli Tengah, Delapan Jam Berdiri di Atas Kulkas, Gereja Menjadi Penahan Banjir, Berenang Menyelamatkan Diri, Bertahan di Rumah Rusak, Enggan Mengungsi, Hidup dalam Trauma dan Gelap Gulita, Kondisi Memprihatinkan di Posko Pengungsian

Foto udara kondisi sekitar jembatan darurat di Desa Aek Garoga, Kecamatan Batang Toru, Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, Kamis (11/12/2025). Warga masih melintasi jembatan darurat dari batang kayu akibat jalan dan jembatan penghubung antara Kabupaten Tapanuli Selatan menuju Tapanuli Tengah-Sibolga serta Medan putus diterjang banjir bandang pada Selasa (29/11).

Meski banjir bandang hampir meluluhlantakkan satu perkampungan, Juwita memilih tetap bertahan di rumahnya yang rusak. Bersama keluarga, ia mendirikan tenda darurat di samping rumah, menggunakan terpal sebagai alas dan atap.

Selama hampir tiga pekan pascabencana, mereka menjalani kehidupan seadanya. Tumpukan mi instan, pakaian bekas, dan peralatan rumah tangga terlihat berada di bawah tenda.

Di dalam rumah, anak Juwita dan beberapa kerabat tampak membersihkan sisa lumpur menggunakan mesin pembersih yang merupakan sumbangan dari pihak gereja.

Juwita mengaku hanya sempat mengungsi satu hari. Ia memilih kembali karena tenda pengungsian di Simpang Jalan Sipange dinilai penuh dan tidak nyaman.

“Satu hari mengungsi, kami kembali ke rumah pakai tenda. Bagaimana lagi, pengungsian sudah penuh,” katanya.

Hidup dalam Trauma dan Gelap Gulita

Selama tinggal di tenda, rasa trauma terus menghantui. Setiap hujan turun dan debit air meningkat, Juwita dan keluarganya langsung bergegas menuju perkampungan di dataran lebih tinggi.

Selain itu, mereka harus hidup tanpa listrik selama hampir tiga minggu. Untuk memasak, Juwita terpaksa menggunakan kayu bakar sisa-sisa banjir, karena gas LPG sulit didapat.

“Kami hampir tiga minggu gelap-gelapan. Mudah-mudahan ada pembangunan untuk korban banjir,” ujar Juwita.

Ia berharap pemerintah segera membantu perbaikan rumah, pemulihan listrik, serta menghidupkan kembali roda perekonomian warga terdampak banjir bandang Tapanuli Tengah.

Kondisi Memprihatinkan di Posko Pengungsian

Sementara itu, kondisi berbeda dialami penyintas banjir lainnya yang mengungsi di Posko Pengungsian Simpang Kelurahan Hutanabolon–Sipange.

Pantauan di lokasi, terdapat sembilan tenda bantuan Kementerian Sosial (Kemensos) yang berdiri di area rawan longsor.

Satu tenda bahkan dihuni hingga 30 orang, terdiri dari anak-anak, perempuan, laki-laki, dan lansia. Tidak terlihat persediaan makanan, camilan, maupun air bersih yang memadai. Kipas angin tersedia, tetapi tidak bisa digunakan karena listrik belum menyala.

Salah seorang penyintas, Melur Tambunan, ibu tiga anak, mengaku rumah dan usahanya habis tersapu banjir.

“Hanya baju di badan yang tersisa,” ujarnya sambil menangis.

Ia mengeluhkan kebutuhan anak-anak yang tidak terpenuhi, mulai dari popok bayi hingga makanan bergizi.

“Anak-anak gak bisa makan indomie telur. Popok habis, minyak kayu putih juga gak ada,” katanya.

Berdasarkan data Website Info Bencana Tapteng, tercatat 270 penyintas banjir dan longsor masih mengungsi di posko tersebut hingga Minggu (14/12/2025).

Melur berharap pemerintah segera menyediakan rumah atau lahan relokasi, agar para penyintas bisa kembali menjalani kehidupan dengan layak.

“Kalau bisa dibangunlah rumah untuk kami. Mata pencarian hilang, entah dari mana kami mulai lagi,” tuturnya.

Artikel ini telah tayang di Tribun-Medan.com dengan judul Keluarganya Hampir Tewas Disapu Banjir, Juwita Tetap Bertahan Tanpa Listrik di Tenda Samping Rumah

Ulurkan tanganmu membantu korban banjir di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Di situasi seperti ini, sekecil apa pun bentuk dukungan dapat menjadi harapan baru bagi para korban. Salurkan donasi kamu sekarang dengan klik di sini