Korban Banjir Tapanuli Tengah: Kami dari Nenek Moyang Tak Pernah Menanam Sawit...

Tiga minggu pascabanjir dan longsor yang melanda Kelurahan Hutanabolon, Kecamatan Tukka, Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng), Sumatera Utara, luka mendalam masih membekas di hati para penyintas.
Meski bencana banjir dan longsor itu telah berlalu, ribuan warga masih bertahan di pengungsian, mencoba melanjutkan hidup di tengah trauma, kehilangan orang tercinta, serta ketidakpastian hunian.
Di antara para penyintas banjir Tapteng, sosok Usy Tambunan (60) tampak duduk terpaku di pinggir lokasi bencana.
Perempuan lanjut usia itu mengenakan tudung kepala bermotif kotak-kotak biru putih, bertopang pada tongkat kayu. Tatapannya kosong, seolah kembali mengingat detik-detik ketika banjir nyaris merenggut nyawanya.
Bertarung 1,5 Jam Melawan Arus Banjir Setinggi 2 Meter
Usy adalah satu dari sekian banyak korban banjir dan longsor Tapteng yang selamat dari maut. Ia mengaku bertarung melawan arus banjir setinggi sekitar dua meter selama kurang lebih 1,5 jam, dengan kondisi kaki tertimpa runtuhan tembok rumah ibunya.
“Saat itu banjir sudah seleher saya. Tiba-tiba rumah roboh dihantam banjir. Temboknya kena pahaku. Enggak bisa kuperkirakan kekmana. Tapi kupanggil Tuhan, ‘Tuhan gerakkan kakiku ini’,” kata Usy kepada Tribun Medan, Rabu (17/12/2025).
Awalnya, Usy sempat melarikan diri ke gereja untuk mencari tempat aman. Namun, ia kembali ke rumah sang ibu yang sudah stroke karena khawatir ibunya kedinginan dan ingin mengambil pakaian hangat.
“Setelah kupanggil Tuhan, seperti ada yang menggerakkan kakiku dan tembok itu. Terus aku berenang. Kulihat sudah enggak ada orang, semuanya kayu. Aku berenang hampir satu jam untuk menyebrang ke gereja,” ujarnya.
Selamat, namun Kehilangan Ibu
Foto udara sejumlah warga melintasi jembatan Aek Garoga 2 di Desa Aek Garoga, Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, Kamis (11/12/2025). KLH memeriksa delapan perusahaan di DAS Batang Toru yang diduga melanggar aturan lingkungan dan memperparah banjir bandang Sumatera Utara.
Bagi Usy, keselamatan dirinya terasa seperti mukjizat. Namun kebahagiaan itu tak berlangsung lama. Saat ia tiba di gereja, sang ibu ternyata telah meninggal dunia.“Aku panggil Tuhan sepanjang berenang itu, sekitar 1,5 jam. Sampai di gereja, mamakku sudah meninggal. Tapi aku enggak mau tinggalkan mamakku. Dua hari tiga malam aku di gereja tanpa makan dan minum, biar sama mamakku,” tutur Usy dengan suara bergetar.
Ia baru menguburkan jenazah ibunya setelah air mulai surut. Selama di gereja, Usy terus berdoa agar diberi keselamatan dan kekuatan menghadapi cobaan.
Menurut Usy, bencana banjir dan longsor di Kelurahan Hutanabolon kali ini adalah yang terparah sepanjang hidupnya.
“Sudah 60 tahun aku tinggal di sini, enggak pernah banjir dan longsor separah ini. Hujan tiba-tiba, kayak mimpi di siang bolong. Dari nenek moyang sampai sekarang, baru kali ini kejadian,” ujarnya.
Ia menyebut, banjir datang membawa kayu dan batu-batu besar sehingga menghancurkan rumah warga.
Dengan nada getir, Usy menuding kerusakan lingkungan sebagai salah satu penyebab utama bencana banjir dan longsor di Tapteng.
“Inikan ulah manusia. Menanam sawit, tebang kayu. Kalau nenek moyang dulu, ambil kayu cuma buat rumah. Sekarang kayu dijual. Kami dari nenek moyang enggak pernah nanam sawit. Karena ulah manusia, saya ikut menderita,” kata janda itu.
Pernyataan Usy mencerminkan kegelisahan warga yang merasa perubahan tata guna lahan telah memperparah dampak bencana alam di wilayah mereka.
10.887 Warga Masih Mengungsi, Ratusan Rumah Hanyut
Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Tapanuli Tengah mencatat, hingga tiga minggu pascabencana, 10.887 jiwa masih bertahan di sejumlah posko pengungsian.
Sebagian warga tak bisa kembali ke rumah karena hunian mereka hanyut atau rusak berat, bahkan berubah menjadi aliran sungai baru akibat material kayu dan lumpur.
BPBD Tapteng mencatat:
- 379 rumah hanyut
- 752 rumah rusak berat
- 803 rumah rusak sedang
- 1.311 rumah rusak ringan
Namun, Kecamatan Tukka tidak tercatat dalam data rumah rusak BPBD. Padahal, pantauan Tribun Medan menunjukkan dua lingkungan di Kelurahan Hutanabolon nyaris hilang disapu banjir dan longsor, termasuk wilayah Sigiring-giring dan Sipange.
Harapan Warga: Hunian Baru yang Aman
Ribuan korban bencana dari Tapanuli Tengah berjalan kaki mencari bantuan ke Tapanuli Utara, Sumut, Rabu (3/12/2025). Warga berjalan kaki selama 5-6 jam karena sudah kehabisan bahan pokok. Sudah lebih sepekan Kota Sibolga dan Tapanuli Tengah terisolasi dan tidak bisa diakses dari jalur darat.
Salah seorang pengungsi, Melur Tambunan, tak kuasa menahan tangis melihat rumahnya kini menjadi aliran sungai.“Gimana enggak sedih, enggak bisa lagi ditempati rumah. Enggak tahu berapa bulan kami di sini. Enggak tahu kapan pulihnya,” ujarnya.
Melur berharap pemerintah segera menyediakan hunian baru agar ia bersama suami dan tiga anaknya bisa memulai hidup kembali.
Hal serupa disampaikan Juwita, warga Lingkungan III Hutanabolon. Menurutnya, kebutuhan paling mendesak saat ini adalah makanan, air bersih, dan rumah layak.
“Yang paling dibutuhkan rumah. Kami enggak selamanya bisa di posko. Kalau ada rumah, kami bisa cari nafkah lagi,” katanya.
Pemkab Tapteng Siapkan Relokasi, Warga Masih Bimbang
Lurah Hutanabolon, Polman Pakpahan, mengatakan terdapat 301 rumah di Lingkungan III dan IV yang hilang, hanyut, atau rusak berat. Saat ini sekitar 2.700 warga masih mengungsi di kawasan Simpang Sipange–Hutanabolon.
Pemerintah Kabupaten Tapanuli Tengah telah menyiapkan rencana relokasi ke Kecamatan Pinang Sori, Sibabangun, dan Hutabalang. Namun, sebagian warga masih enggan pindah karena lokasinya jauh dari tempat tinggal semula.
“Gratis hunian dari pemerintah. Tapi warga masih berharap bisa tetap tinggal di kelurahan ini, asal hunian yang aman,” ujar Polman.
Sementara itu, Bupati Tapanuli Tengah Masinton Pasaribu menyebut lahan di belakang Asrama Haji Kecamatan Pinang Sori disiapkan sebagai salah satu lokasi relokasi warga terdampak banjir, sebagaimana disampaikan melalui akun Instagram resmi Pemkab Tapteng.
Hingga kini, para penyintas banjir dan longsor di Tapteng masih menunggu kepastian: apakah janji hunian baru akan segera terwujud, atau mereka harus terus bertahan di pengungsian dengan trauma yang belum pulih.
Artikel ini telah tayang di Tribun-Medan.com dengan judul Kisah Usy Lolos dari Banjir dan Longsor di Tapteng, Tertimpa Robohan Tembok: Ku Panggil Tuhan Terus
Ulurkan tanganmu membantu korban banjir di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Di situasi seperti ini, sekecil apa pun bentuk dukungan dapat menjadi harapan baru bagi para korban. Salurkan donasi kamu sekarang dengan klik di sini