Kisah Ikrom, Perantau di Surabaya yang Bertahan Hidup dengan Transportasi Umum Rp 5.000

Malang, Surabaya, Kisah Ikrom, Perantau di Surabaya yang Bertahan Hidup dengan Transportasi Umum Rp 5.000, Tahun keempat menetap di Surabaya, Cara menghemat pengeluaran, Rencana ke depan, Alasan menggunakan transportasi umum

Sejak menetap dan bekerja di Surabaya, Ikrom Zain (34) menjadikan transportasi umum sebagai bagian tak terpisahkan dari hidupnya.

Selama tiga tahun terakhir, pekerja swasta asal Malang itu memilih bertahan dengan angkutan publik untuk menunjang seluruh aktivitasnya di Kota Pahlawan.

Ikrom bekerja di sebuah Lembaga Bimbingan Belajar (LBB) di Surabaya.

Selain mengurus administrasi, ia juga mengajar mata pelajaran Kimia.

Tahun keempat menetap di Surabaya

Tahun 2026 menjadi tahun keempat baginya merantau, meninggalkan istri dan satu anak yang menetap di Malang.

Dengan pendapatan bulanan di kisaran Rp 4,8 juta hingga Rp 5,5 juta, Ikrom harus pandai mengatur keuangan.

Gaji tersebut ia bagi untuk memenuhi kebutuhan hidupnya di Surabaya, menafkahi keluarga di Malang, sekaligus menyisihkan tabungan untuk masa depan anaknya.

“Sebenarnya kalau dibilang cukup ya dicukupin. Karena di Surabaya juga biaya hidupnya tinggi,” kata Ikrom dikutip , Minggu (4/1/2026).

Cara menghemat pengeluaran

Malang, Surabaya, Kisah Ikrom, Perantau di Surabaya yang Bertahan Hidup dengan Transportasi Umum Rp 5.000, Tahun keempat menetap di Surabaya, Cara menghemat pengeluaran, Rencana ke depan, Alasan menggunakan transportasi umum

Pekerja di Surabaya, Ikrom Zain saat menaiki Suroboyo Bus, Minggu (4/1/2026)

Jarak yang memisahkan Ikrom dengan keluarga membuatnya menjalani kehidupan long distance marriage (LDM).

Istrinya bekerja sebagai guru sekaligus ibu rumah tangga.

Meski demikian, Ikrom berupaya tetap hadir untuk keluarganya dengan pulang ke Malang secara berkala.

“Paling tidak kalau pulang ke Malang seminggu dua kali. Misalkan Senin dari Malang ke Surabaya, Rabu pulang lagi, Kamis balik ke Surabaya,” katanya lagi.

Pengeluaran untuk kebutuhan anak, khususnya pendidikan, menjadi perhatian utama.

Ikrom dan istrinya berusaha menyisihkan sebagian penghasilan setiap bulan meski harus mengurangi frekuensi pulang kampung.

“Anak kan mau sekolah, jadi otomatis ada pengeluarannya. (Biar hemat) Jarang pulang. Maksudnya kalau seminggu gak dua kali ya sekali,” ungkapnya.

Untuk menekan biaya hidup, Ikrom memanfaatkan fasilitas mess karyawan yang disediakan tempat kerjanya. Dengan tinggal di mess, ia tidak perlu mengeluarkan biaya tambahan untuk sewa tempat tinggal.

“Di mess itu aja, sebenarnya bentuknya ya kayak kontrakan gitu. Jadi disediakan biar gak mengeluarkan banyak biaya pokoknya yang kerja di situ,” tuturnya.

Rencana ke depan

Malang, Surabaya, Kisah Ikrom, Perantau di Surabaya yang Bertahan Hidup dengan Transportasi Umum Rp 5.000, Tahun keempat menetap di Surabaya, Cara menghemat pengeluaran, Rencana ke depan, Alasan menggunakan transportasi umum

Ilustrasi rumah tinggal

Ikrom belum berniat membawa istri dan anaknya menetap di Surabaya.

Ia menargetkan dalam dua hingga tiga tahun ke depan bisa kembali bekerja di Malang agar tidak lagi menjalani hidup bolak-balik antarkota.

“Nanti rencananya dua sampai tiga saya balik lagi ke Malang, maksudnya nyari kerja di sana saja daripada bolak balik Malang Surabaya,” bebernya.

Dalam kesehariannya, Ikrom mengandalkan Suroboyo Bus dan feeder Wira Wiri sebagai moda transportasi utama.

Letak kantor yang berada di pusat kota memudahkannya menjangkau halte maupun titik pemberhentian bus.

“Kalau di Surabaya naik Suroboyo Bus dan feeder Wira Wiri (jenis transportasi umum). Kebetulan tempat kerja saya dekat dengan halte dan bus stop Wira Wiri,” ujarnya.

Saat hendak pulang ke Malang, Ikrom memanfaatkan sistem transportasi yang telah terintegrasi.

Dari tempat kerja, ia bisa langsung menuju Terminal Bungurasih, Sidoarjo, tanpa harus berganti moda transportasi tambahan.

“Kalau mau ke Bungurasih itu aku bisa naik Suroboyo Bus kemudian oper naik Wira Wiri nanti pas (turun) di depan tempat kerja jadi gak perlu naik ojek lagi,” kata dia.

Alasan menggunakan transportasi umum

Malang, Surabaya, Kisah Ikrom, Perantau di Surabaya yang Bertahan Hidup dengan Transportasi Umum Rp 5.000, Tahun keempat menetap di Surabaya, Cara menghemat pengeluaran, Rencana ke depan, Alasan menggunakan transportasi umum

Penumpang Suroboyo Bus, Rabu (19/11/2025).

Malang, Surabaya, Kisah Ikrom, Perantau di Surabaya yang Bertahan Hidup dengan Transportasi Umum Rp 5.000, Tahun keempat menetap di Surabaya, Cara menghemat pengeluaran, Rencana ke depan, Alasan menggunakan transportasi umum

Penumpang Suroboyo Bus, Rabu (19/11/2025).

Alasan utama Ikrom setia menggunakan transportasi umum adalah efisiensi biaya.

Dengan tarif Rp 5.000 sekali perjalanan, ia merasa mobilitas di Surabaya menjadi jauh lebih terjangkau.

“Biar hemat. Soalnya jauh banget range harganya, Rp 5.000 udah bisa ke mana-mana kan,” imbuhnya.

Dalam satu hari, terutama ketika harus mengunjungi beberapa kantor cabang, Ikrom menghabiskan sekitar Rp 20.000 untuk ongkos pulang-pergi.

Menurutnya, angka tersebut jauh lebih rendah dibandingkan menggunakan ojek atau taksi daring.

“Rata-rata sehari kira-kira Rp 20.000 PP dari tempat kantor cabang ke kantor tempat saya kerja,” tuturnya.

Ikrom menilai keberadaan transportasi umum yang terintegrasi sangat membantu masyarakat, terutama pekerja perantau, untuk menekan beban biaya hidup di Surabaya.

“Sekarang transumnya di Surabaya lebih baik daripada dulu. Udah lumayan menjangkau kampus, sekolah, mall. Tapi kadang ada daerah belum terjangkau seperti ke kawasan Ampel dan Keputih,” katanya.

Ia juga menyoroti sejumlah kawasan yang belum dilalui angkutan umum, seperti Jalan Diponegoro hingga Pasar Kembang.

Ikrom berharap layanan transportasi publik di Surabaya terus dibenahi.

“Jadi harapan saya semoga haltenya diperbaiki, ditambah lagi rutenya dan jam operasionalnya itu maksimal jangan 9 malam, paling enggak jam 10 atau 11 malam,” pintanya.

Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang