Bertahan 1,5 Jam di Atas Ranting, Johanes Selamat dari Banjir Hutanabolon, Ibu dan Neneknya Meninggal

Bertahan 1,5 Jam di Atas Ranting, Johanes Selamat dari Banjir Hutanabolon, Ibu dan Neneknya Meninggal, Awalnya Bertahan di Rumah, Berakhir Hanyut, Terpisah dari Sang Ibu, Sendiri di Pengungsian, Menunggu Kakak Pulang, Menanti Kelahiran di Pengungsian, Lansia Bertahan dari Banjir Setinggi Leher

Keberanian dan semangat hidup Johanes (16) menjadi satu dari sedikit kisah selamat dalam banjir dan longsor di Kelurahan Hutanabolon, Kecamatan Tukka, Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng).

Remaja itu mampu bertahan selama sekitar 1,5 jam di atas ranting dan kayu yang hanyut terseret arus banjir. Namun, keselamatan Johanes harus dibayar mahal: ibunya dan sang nenek meninggal dunia.

Saat ditemui di Posko Pengungsian Simpang Kelurahan Hutanabolon–Sipange, Johanes tampak murung.

Ia lebih banyak duduk di dalam tenda, enggan bermain dengan anak-anak seusianya. Johanes memilih menunggu kedua kakaknya yang masih merantau untuk pulang ke kampung halaman.

Awalnya Bertahan di Rumah, Berakhir Hanyut

Johanes bercerita, ketika hujan deras mengguyur kawasan Hutanabolon, ia bersama ibu dan neneknya sempat bertahan di rumah. Sang ibu mengira banjir yang datang hanya banjir biasa.

Namun, air terus meninggi dan mulai memasuki rumah. Mereka bertiga pun bergegas naik ke atap.

“Ternyata banjir semakin tinggi. Rumah kami roboh, kami naik ke atas genteng. Ternyata air semakin deras. Akhirnya hanyutlah nenek,” ujar Johanes, mengenang detik-detik mencekam itu.

Tak lama setelah neneknya terseret arus, atap rumah yang mereka tumpangi juga ikut terbawa banjir. Johanes dan ibunya pun hanyut bersama derasnya arus.

Terpisah dari Sang Ibu

Di tengah arus banjir, Johanes masih sempat menggenggam tangan ibunya. Namun, pusaran air deras dan hantaman kayu besar membuat mereka terpisah.

“Gak lama hanyutlah kami. Itu masih sama, tapi ada pusaran air deras ditambah ada kayu. Di situlah aku sama mamak terpisah,” ucap Johanes dengan suara pelan.

Dalam kondisi penuh ketakutan, Johanes berusaha tetap tenang. Ia kemudian berpegangan pada ranting dan kayu yang hanyut, meski tubuh dan kakinya terluka akibat benturan.

“Saya bertahan di atas ranting-ranting pohon dan kayu itu. Kaki sudah luka-luka kena kayu. Saya lihat gak ada orang, takutlah. Tapi sekitar 1,5 jam saya bertahan, sampai melihat orang yang masih bertahan di atas genteng,” katanya.

Johanes kemudian berusaha menepi dan dibantu warga lain untuk naik ke genteng. Mereka menunggu hingga sekitar tiga jam sampai air surut sebelum mencari bantuan.

Sendiri di Pengungsian, Menunggu Kakak Pulang

Bertahan 1,5 Jam di Atas Ranting, Johanes Selamat dari Banjir Hutanabolon, Ibu dan Neneknya Meninggal, Awalnya Bertahan di Rumah, Berakhir Hanyut, Terpisah dari Sang Ibu, Sendiri di Pengungsian, Menunggu Kakak Pulang, Menanti Kelahiran di Pengungsian, Lansia Bertahan dari Banjir Setinggi Leher

Tumpukan kayu dan lumpur terlihat masih menutup jalan di Lingkungan I, Kelurahan Sibuluan Nauli, Kecamatan Pandan, Kabupaten Tapanuli Tengah, Selasa (16/12/2025).

Setelah dievakuasi, Johanes dibawa ke posko pengungsian. Ayah Johanes telah lama meninggal dunia. Kedua kakaknya merantau, masing-masing ke Jakarta dan Medan.

“Saya ke posko. Tapi di situ saya sendirian, kakak-kakak belum datang karena merantau semua,” ujarnya.

Selama di posko, Johanes diasuh oleh adik ayahnya. Sambil menunggu kakaknya tiba, ia ikut membantu pencarian korban banjir, berharap menemukan ibunya.

“Kalau ada orang mencari keluarganya, saya pun ikut,” katanya.

Pada hari ketiga pascabencana, jasad sang nenek akhirnya ditemukan dan dimakamkan. Namun hingga 21 hari pencarian, ibunya belum juga ditemukan.

“Nenek ketemu di hari ketiga. Tapi untuk mamak, sudah 21 hari belum juga ketemu,” ucap Johanes.

Saat ditanya pesan terakhir sang ibu, Johanes terdiam cukup lama.

“Pesan mamak, jangan ke mana-mana, di sini aja, karena musim banjir. Itu aja terakhir ngobrolnya,” katanya lirih.

satunya harapan Johanes adalah agar jasad ibunya segera ditemukan. Ia dan keluarganya masih berharap tim SAR terus melanjutkan pencarian.

Menanti Kelahiran di Pengungsian

Di tempat lain, Gor Pandan, Kabupaten Tapanuli Tengah, suasana pilu juga menyelimuti Monalisa (26), seorang ibu hamil yang tengah menanti kelahiran anaknya. Sudah 10 hari ia tinggal di pengungsian bersama anak balitanya.

Dari kejauhan, Monalisa tampak murung, sesekali mengelus perutnya yang membesar. Tim kesehatan memprediksi ia akan melahirkan pada 20 Desember 2025.

“Sempat stres, nangis, mengadu ke suami lewat telepon. Mau lahiran ini. Suami saya gak bisa pulang dari laut karena badai,” ucapnya sambil menahan tangis.

Saat banjir datang, Monalisa awalnya mengira air tidak akan setinggi itu.

“Bangun tidur air sudah setinggi selutut. Kami pikir enggak terlalu besar. Tapi gak berapa lama, air sudah sepinggang masuk rumah,” katanya.

Dengan menggendong anaknya, Monalisa berpindah-pindah tempat pengungsian, mulai dari sekolah dekat rumah hingga rumah mertua. Karena kondisi mertua yang sakit, ia akhirnya memilih bertahan di pengungsian agar dekat dengan layanan medis.

“Sedihnya saya di sini bertiga sama anak-anak, suami enggak ada. Mudah-mudahan bisa lahiran di rumah nanti,” ujarnya.

Lansia Bertahan dari Banjir Setinggi Leher

Kisah selamat lainnya datang dari Usy Tambunan (60). Meski usianya tak lagi muda, Usy berhasil selamat dari maut meski kakinya sempat tertimpa runtuhan tembok rumah ibunya.

“Banjir sudah seleher saya. Rumah roboh, temboknya kena pahaku. Aku panggillah Tuhan, Tuhan gerakkan kakiku ini,” ujar Usy.

Ia sempat kembali ke rumah ibunya untuk mengambil baju hangat karena sang ibu kedinginan. Saat banjir semakin deras, Usy berenang selama sekitar 1 hingga 1,5 jam menuju gereja.

“Sepanjang berenang aku panggil Tuhan. Sampai di gereja, mamakku sudah meninggal. Tapi aku tetap di sana dua hari tiga malam,” katanya.

Usy menuturkan, selama 60 tahun tinggal di Hutanabolon, ia belum pernah mengalami banjir dan longsor separah ini.

“Ini seperti mimpi di siang bolong. Banjir bawa kayu dan batu besar. Bagaimana rumah tidak hanyut semua,” tuturnya.

  • Baca juga:

Ia juga menilai kerusakan lingkungan menjadi salah satu penyebab bencana.

“Ini ulah manusia. Tebang kayu, tanam sawit. Kami dari nenek moyang enggak pernah nanam sawit,” ujarnya.

Tiga minggu pascabanjir dan longsor, penyintas banjir Hutanabolon masih berjuang memulihkan hidup. Sebagian kembali ke rumah untuk menyelamatkan sisa barang, sementara lainnya bertahan di pengungsian, menanti bantuan dan kepastian.

Meski trauma masih membekas, para korban berusaha bangkit, berharap bencana banjir dan longsor Tapanuli Tengah tak kembali terulang.

Artikel ini telah tayang di Tribun-Medan.com dengan judul Terpisah dari Ibu, Johanes Bertahan 1,5 Jam di Atas Ranting Melawan Banjir di Hutanabolon Tapteng

Ulurkan tanganmu membantu korban banjir di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Di situasi seperti ini, sekecil apa pun bentuk dukungan dapat menjadi harapan baru bagi para korban. Salurkan donasi kamu sekarang dengan klik di sini