Banjir Bandang di Kawasan Guci Disebut yang Terparah Sejak 1969–1971

kawasan Wisata Guci, banjir bandang, Tegal, Banjir Bandang di Kawasan Guci Disebut yang Terparah Sejak 1969–1971

Banjir bandang menerjang kawasan DTW Guci, Kabupaten Tegal, pada Sabtu (24/1/2026).

Bencana ini disebut sebagai yang terbesar dalam puluhan tahun terakhir, melampaui kejadian serupa pada 1969 dan 1971.

Meski luapan Sungai Gung kerap terjadi saat hujan berintensitas tinggi, dampak kali ini dinilai jauh lebih parah.

Kerusakan infrastruktur dan aktivitas ekonomi warga menjadi perhatian utama pascabencana.

Tokoh yang dituakan di kawasan Wisata Guci, Dakot, mengatakan banjir bandang 2026 merupakan peristiwa terburuk yang pernah terjadi di wilayah tersebut.

Ia menyebut skala kerusakan kali ini tidak sebanding dengan luapan yang biasanya terjadi.

“Dari tahun 1969–1971, baru pernah terjadi lagi peristiwa banjir bandang yang sangat besar. Biasanya ya meluap biasa saja. Tahun 2026 peristiwa banjir paling parah karena mengakibatkan kerusakan bahkan tiga jembatan hilang terbawa arus,” ungkap Dakot, Senin (26/1/2026), seperti dikutip dari Tribun Jateng.

Dampak Lebih Luas dari Kejadian Sebelumnya

Menurut Dakot, banjir bandang bukan kejadian baru di kawasan Guci. Namun, dampak yang ditimbulkan kali ini jauh lebih luas dan berat dibandingkan peristiwa sebelumnya.

Kerusakan infrastruktur dan fasilitas wisata berdampak langsung pada aktivitas warga.

Ia menekankan, bencana ini sangat memukul perekonomian masyarakat yang menggantungkan hidup pada sektor pariwisata.

Pedagang, pengelola penginapan, pengusaha destinasi wisata, hingga paguyuban setempat terdampak dan mengalami penurunan pendapatan.

Harapan Kepedulian Pemerintah

Sebagai tokoh masyarakat, Dakot berharap adanya kepedulian dan langkah nyata dari pemerintah daerah, khususnya pimpinan Kabupaten Tegal saat ini.

Ia menilai dukungan pemulihan sangat dibutuhkan agar roda ekonomi warga dapat kembali bergerak.

“Kami berharap kepada orang tua kita (pemimpin saat ini yang berkuasa), mari bersama-sama memberi kepedulian kepada warga yang terdampak bencana khususnya di kawasan Guci,” harap Dakot.

Gotong Royong untuk Percepat Pemulihan

Dakot menambahkan, saat ini proses pembersihan dilakukan secara gotong royong oleh karyawan Dinas Pemuda, Olahraga dan Pariwisata Kabupaten Tegal, warga setempat, dan unsur terkait lainnya. Fokus pembersihan dipusatkan di sekitar Pancuran 13.

Upaya tersebut dilakukan agar fasilitas dasar dapat kembali digunakan, setidaknya warga bisa beraktivitas di sekitar Pancuran 5 dan Pancuran 13.

“Ya terpenting saat ini kita fokus gotong royong. Harapannya tentu kondisi bisa segera pulih dan perekonomian juga kembali seperti semula,” ujar Dakot.

Artikel ini telah tayang di TribunJateng.com dengan judul “Tokoh Wisata Guci Tegal Sebut Banjir Bandang Kali Ini Paling Parah Sejak Tahun 1969”.

Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang