Kisah Ketut Anik selamat dari Banjir Bandang Bali, Tersangkut Akar Pohon setelah Hanyut

Ketut Anik Martini (38), warga Banjar Dakdakan, Peguyangan, Gianyar, Bali, selamat dari terjangan banjir bandang yang meluluhlantakkan rumah kontrakannya pada Rabu (10/9/2025) dini hari.
Saat air bah datang, ia sempat hanyut terbawa arus sebelum akhirnya tersangkut di akar pohon dan berhasil menyelamatkan diri.
Hanyut dan Tersangkut Akar Pohon
Ketut Anik menuturkan, ia dan tiga anggota keluarganya sudah terjaga sejak pukul 02.30 Wita karena melihat air sungai di belakang rumah mulai membesar.
Namun, sekitar pukul 04.00 Wita, air bah mendadak menerjang dari depan rumah dan merobohkan tembok kontrakannya.
“Saya hanyut. Sudah pasrah saya, nggak bisa berkata-kata saat itu,” ujarnya saat ditemui di pengungsian Banjar Dakdakan, Kamis (11/9/2025).
Beruntung, tubuhnya tersangkut di akar pohon. Dari sana, ia meraih batang pohon dan berusaha menepi dari derasnya air banjir bandang.
“Saya ingat bagaimana tetangga saya di atap rumahnya dan keluarga saya juga di atap rumah,” tutur perempuan asal Sudaji, Buleleng, itu.
Ketut kemudian berteriak minta tolong hingga akhirnya didengar oleh tetangganya. Ia pun dievakuasi ke tempat aman.
“Kaki saya luka, tangan lecet. Saya tidak bisa berkata-kata,” katanya sembari menunjukkan perban di kakinya.
Barang-barang Hanyut, Rumah Kontrakan Rusak
Hampir seluruh barang di rumah kontrakannya hanyut terbawa banjir. Hanya pakaian di badan serta dua unit sepeda motor yang tersisa. Anak perempuannya bahkan harus mendapat empat jahitan akibat luka di kaki.
Anak lelakinya, I Gde Agus Fery Adnya, menambahkan bahwa kontrakan mereka sudah tergerus banjir di bagian belakang dan hanya menyisakan sedikit bangunan di bagian depan.
“Yang sekarang kami sangat membutuhkan tempat tinggal. Karena tidak mungkin kembali ke kontrakan,” ujarnya.
Menurutnya, saat evakuasi, seluruh anggota keluarga terpaksa naik ke atap rumah. “Kami semua naik ke atap kemarin, dan evakuasinya juga lewat atap,” imbuhnya.
48 Warga Masih Mengungsi
Hingga Kamis (11/9/2025), sebanyak 48 warga masih mengungsi di Banjar Dakdakan, Kelurahan Peguyangan, Denpasar. Mereka mengungsi sejak Rabu sore sekitar pukul 16.00 Wita.
Kaling Banjar Dakdakan, Wayan Rustika Darma, mengatakan jumlah pengungsi sebelumnya mencapai 75 orang. “Sekarang masih 48 orang. Kemarin 75 orang sudah pindah beberapa,” ujarnya.
Menurutnya, kebutuhan dasar pengungsi sejauh ini sudah tercukupi.
“Bantuan banyak, ada dari masyarakat sekitar, kapolsek, juga dari perusahaan,” ucapnya.
Meski begitu, ia menyebut masih ada kebutuhan khusus seperti vitamin dan kompor untuk memasak mie instan.
“Kondisi warga sudah sehat. Ada dinas kesehatan yang melakukan pengecekan,” katanya.
Ia menambahkan, selain rumah warga yang rusak, terdapat lima mobil dan delapan sepeda motor yang hanyut akibat banjir.
BNPB: Banjir Bali Akibat Curah Hujan Ekstrem
Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Suharyanto mengatakan, banjir di Bali dipicu oleh curah hujan ekstrem yang sulit diprediksi.
“Prediksi BMKG memang sudah menyebutkan, tetapi tiba-tiba ada gelombang Rossby dan Kevin. Sehingga tumpah hujan yang sangat deras 385 mm,” jelas Suharyanto saat meninjau Posko Bencana Banjir Tohpati, Kamis (11/9/2025).
Ia menjelaskan, curah hujan yang mengguyur Bali bahkan lebih besar dibanding bencana banjir di Bekasi pada 3 Maret 2025 lalu.
“Hujan 24 jam ini tidak bisa diprediksi sehingga melumpuhkan beberapa kota dan kabupaten,” ujarnya.
Data BNPB mencatat, 14 orang meninggal dunia akibat banjir bandang Bali, sementara dua korban lainnya masih dalam pencarian.
“Yang paling berat memang di Kota Denpasar. Ini korban meninggal dunia ada 14, ada dua yang masih dicari,” ujarnya.
Status Tanggap Darurat Ditetapkan
Pemerintah Provinsi Bali telah menetapkan status tanggap darurat selama sepekan. BNPB memastikan dukungan penuh dari pemerintah pusat untuk memenuhi kebutuhan warga terdampak.
“Kami pastikan kebutuhan logistik dipenuhi. Tidak hanya makanan, tetapi juga pakaian dalam, susu untuk anak-anak, hingga kebutuhan perempuan,” ujar Suharyanto.
Ia meminta masyarakat tidak ragu menyampaikan kebutuhan mereka kepada pemerintah daerah maupun pusat.
“Silakan jangan ragu-ragu, sampaikan apapun terkait bencana ini kepada kami,” tutupnya.
Sebagian Artikel ini telah tayang di Tribun-Bali.com dengan judul Kisah Korban Banjir Bandang Denpasar Bali, Ketut Anik Sempat Hanyut dan Tersangkut di Akar
Di saat situasi tidak menentu, Kompas.com tetap berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update terkini dan notifikasi penting di Aplikasi Kompas.com.