Sungai Tempuran Meluap Imbas Hujan Lebat, Banjir Bandang dan Longsor Landa Wilayah Jepara
Banjir bandang dilaporkan menerjang Desa Sumberrejo, Kecamatan Donorojo, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah, sejak Kamis (8/1/2026) hingga Sabtu (10/1/2026).
Peristiwa ini menyebabkan ratusan rumah warga terdampak serta mengganggu aktivitas masyarakat akibat luapan Sungai Tempuran setelah hujan dengan intensitas tinggi mengguyur wilayah tersebut.
Kepala Pelaksana Harian BPBD Kabupaten Jepara, Arwin Noor Isdiyanto, menjelaskan banjir bandang di Desa Sumberrejo terjadi dua kali dalam kurun waktu tiga hari.
Banjir pertama terjadi pada Kamis (8/1/2026) sekitar pukul 20.00 WIB, sementara banjir kedua kembali melanda pada Sabtu (10/1/2026) mulai pukul 09.30 WIB.
"Di Desa Sumberrejo sejak Kamis sore hingga Sabtu telah terjadi banjir bandang sebanyak dua kali yang disebabkan meluapnya Sungai Tempuran. Ketinggian air paling tinggi mencapai 1,5 meter," ujar Arwin, Sabtu dikutip dari Antara.
Mengapa Sungai Tempuran Meluap dan Menyebabkan Banjir Bandang?
Arwin menjelaskan, hujan dengan intensitas tinggi menjadi pemicu utama meluapnya Sungai Tempuran.
Debit air meningkat drastis dalam waktu singkat sehingga tidak mampu tertampung oleh badan sungai. Kondisi geografis wilayah yang berada di dataran rendah dan dekat aliran sungai memperbesar risiko banjir bandang ketika hujan lebat terjadi secara terus-menerus.
Pada banjir pertama, air merendam wilayah Dukuh Tempur dan Dukuh Pendem. Air baru surut pada Jumat (9/1/2026) sekitar pukul 03.00 WIB.
Namun, hujan kembali turun sehingga banjir bandang kembali terjadi keesokan harinya. Pada kejadian kedua, ketinggian air tercatat mencapai sekitar 1 meter di titik terdalam sebelum berangsur surut pada siang hari.
Wilayah Mana Saja yang Terdampak Banjir?
Berdasarkan pendataan sementara BPBD Kabupaten Jepara, banjir bandang berdampak pada ratusan warga di dua dukuh, yakni Dukuh Tempur dan Dukuh Pendem. Rinciannya sebagai berikut:
1. Dukuh Tempur:
- RW 1 RT 1: 11 keluarga, 31 jiwa
- RW 1 RT 2: 51 keluarga, 128 jiwa
- RW 1 RT 3: 33 kepala keluarga, 91 jiwa
- RW 2 RT 1: 9 keluarga, 16 jiwa.
2. Dukuh Pendem:
- RW 2 RT 2: 6 keluarga, 14 jiwa
- RW 2 RT 3: 18 keluarga, 55 jiwa
- Bantaran sungai bawah RT 1 RW 3: 4 keluarga, sekitar 40 jiwa.
Sebagian besar rumah warga terendam air, menyebabkan perabot rumah tangga rusak dan aktivitas memasak tidak dapat dilakukan.
Langkah Darurat Apa yang Dilakukan Pemerintah?
Sebagai langkah penanganan darurat, BPBD Kabupaten Jepara bersama pemerintah desa dan unsur masyarakat setempat membuka dapur umum di aula Balai Desa Sumberrejo sejak Sabtu (10/1) pukul 13.30 WIB. Dapur umum tersebut dikelola oleh anggota PKK dan kader desa.
"Kami menyiapkan sekitar 200 nasi bungkus untuk warga terdampak. Malam ini akan dikirim lagi sekitar 450 bungkus," kata Arwin.
Ia menambahkan, distribusi bantuan makanan akan difokuskan sesuai prioritas wilayah terdampak terparah, mengingat keterbatasan logistik dan kondisi cuaca yang masih berpotensi hujan.
Meski kondisi air telah surut, BPBD Jepara mengingatkan warga agar tetap waspada. Cuaca di wilayah Desa Sumberrejo masih dilaporkan gerimis dan berpotensi hujan, sehingga risiko banjir susulan masih terbuka.
"Kebutuhan darurat saat ini adalah logistik makanan dan minuman bagi warga, karena sebagian besar tidak bisa memasak akibat perabot rumah tangga terendam," ujar Arwin.
BPBD juga mengimbau warga untuk mengikuti arahan petugas di lapangan dan tidak memaksakan diri beraktivitas di area rawan banjir.
Bagaimana Kondisi Longsor di Wilayah Jepara?
Selain banjir bandang, Kabupaten Jepara juga dilanda bencana tanah longsor yang terjadi di Desa Tempur, Kecamatan Keling.
Puluhan titik longsor dilaporkan menutup akses jalan utama menuju Kota Jepara, terutama jalur yang menjadi satu-satunya akses keluar masuk desa.
"Dampak longsor sangat dirasakan warga karena menutupi satu-satunya akses jalan. Untuk sementara, jalur hanya bisa dilalui sepeda motor," kata Arwin.
BPBD mencatat sedikitnya 18 titik longsor besar, dengan panjang material longsoran antara 6 meter hingga lebih dari 100 meter dan ketebalan 0,5 hingga 2 meter.
Di kawasan Kedung Ombo, badan jalan sepanjang 60–70 meter bahkan dilaporkan hanyut terbawa arus sungai.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang