Kronologi Pecahnya Mataram Islam, dari Perjanjian Giyanti hingga Lahirnya Pakualaman

Mataram Islam, Perjanjian Giyanti, Keraton Solo, Keraton Kasunanan Surakarta, Keraton Kasultanan Yogyakarta, pecahnya mataram islam menjadi 4, Kronologi Pecahnya Mataram Islam, dari Perjanjian Giyanti hingga Lahirnya Pakualaman, 1. Masa Amangkurat I: Awal Kemunduran (1645–1677), 2. Perang Takhta Jawa III (1747–1757): Awal Perpecahan, 3. Perjanjian Giyanti (1755): Mataram Resmi Terbelah Dua, 4. Perjanjian Salatiga (1757): Lahirnya Kadipaten Mangkunegaran, 5. 1813: Berdirinya Pakualaman, Mataram Pecah Jadi Empat, 6. Warisan Sejarah

Kerajaan Mataram Islam, yang berdiri pada tahun 1586 oleh Panembahan Senopati, pernah menjadi kekuatan besar di Pulau Jawa.

Di bawah kepemimpinan Sultan Agung (1613–1645), Mataram mencapai puncak kejayaan politik, ekonomi, dan budaya.

Namun, setelah masa keemasan itu berlalu, intrik keluarga, perang saudara, dan campur tangan kolonial Eropa perlahan menggiring kerajaan ini ke jurang perpecahan.

Berikut kronologi lengkap bagaimana Mataram Islam akhirnya pecah menjadi empat kerajaan.

1. Masa Amangkurat I: Awal Kemunduran (1645–1677)

Sepeninggal Sultan Agung, tahta Mataram dipegang Amangkurat I, yang dikenal kejam dan otoriter. Ia menyingkirkan pejabat, bangsawan, bahkan keluarga sendiri yang dianggap mengancam kekuasaan.

Berbeda dengan ayahnya yang berjuang melawan VOC (Belanda), Amangkurat justru menjalin kerja sama dengan VOC, yang kemudian mulai ikut campur dalam urusan politik istana.

Akibatnya, kepercayaan rakyat menurun dan kerusuhan dalam negeri pecah. Perselisihan internal ini menjadi bibit perang saudara yang terus membara hingga generasi berikutnya.

2. Perang Takhta Jawa III (1747–1757): Awal Perpecahan

Perang saudara besar di tubuh Mataram pecah kembali pada masa Pakubuwono II.

Ia berseteru dengan adiknya Pangeran Mangkubumi dan keponakannya Raden Mas Said (Pangeran Sambernyawa).

Konflik ini dikenal sebagai Perang Takhta Jawa III, dan menjadi titik balik sejarah Mataram.

Menjelang wafatnya pada 1749, Pakubuwono II menandatangani perjanjian dengan VOC yang memberi Belanda kuasa besar di Mataram.

Setelah ia meninggal, putranya naik tahta sebagai Pakubuwono III, dan VOC memanfaatkan kesempatan ini untuk memperluas pengaruh.

Mataram Islam, Perjanjian Giyanti, Keraton Solo, Keraton Kasunanan Surakarta, Keraton Kasultanan Yogyakarta, pecahnya mataram islam menjadi 4, Kronologi Pecahnya Mataram Islam, dari Perjanjian Giyanti hingga Lahirnya Pakualaman, 1. Masa Amangkurat I: Awal Kemunduran (1645–1677), 2. Perang Takhta Jawa III (1747–1757): Awal Perpecahan, 3. Perjanjian Giyanti (1755): Mataram Resmi Terbelah Dua, 4. Perjanjian Salatiga (1757): Lahirnya Kadipaten Mangkunegaran, 5. 1813: Berdirinya Pakualaman, Mataram Pecah Jadi Empat, 6. Warisan Sejarah

Keraton Kasunanan Hadiningrat Surakarta

3. Perjanjian Giyanti (1755): Mataram Resmi Terbelah Dua

VOC kemudian memanfaatkan konflik antara Mangkubumi dan Raden Mas Said untuk memecah Mataram dari dalam.

Lewat Perjanjian Giyanti yang ditandatangani pada 13 Februari 1755, Pangeran Mangkubumi bersedia berdamai dengan VOC.

Isi perjanjian tersebut membagi kekuasaan Mataram menjadi dua:

Wilayah timur Sungai Opak diserahkan kepada Pakubuwono III sebagai Kasunanan Surakarta.

Wilayah barat Sungai Opak diberikan kepada Pangeran Mangkubumi, yang bergelar Sultan Hamengkubuwono I, dan mendirikan Kasultanan Yogyakarta.

Sejak itu, Mataram Islam secara resmi pecah menjadi dua kerajaan besar: Surakarta dan Yogyakarta.

4. Perjanjian Salatiga (1757): Lahirnya Kadipaten Mangkunegaran

Perjanjian Giyanti tak menghentikan seluruh konflik. Raden Mas Said, yang tidak diajak berdamai, melanjutkan perang melawan kedua pihak, baik Yogyakarta, Surakarta, maupun VOC.

VOC akhirnya menawarinya perjanjian baru, yaitu Perjanjian Salatiga, yang ditandatangani pada 17 Maret 1757.

Melalui kesepakatan itu, Raden Mas Said diakui sebagai penguasa otonom dengan gelar Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya (KGPAA) Mangkunegara I.

Ia mendirikan Kadipaten Mangkunegaran di Surakarta, menjadikan Mataram kini terbagi menjadi tiga kekuasaan:

  • Kasunanan Surakarta
  • Kasultanan Yogyakarta
  • Kadipaten Mangkunegaran

Mataram Islam, Perjanjian Giyanti, Keraton Solo, Keraton Kasunanan Surakarta, Keraton Kasultanan Yogyakarta, pecahnya mataram islam menjadi 4, Kronologi Pecahnya Mataram Islam, dari Perjanjian Giyanti hingga Lahirnya Pakualaman, 1. Masa Amangkurat I: Awal Kemunduran (1645–1677), 2. Perang Takhta Jawa III (1747–1757): Awal Perpecahan, 3. Perjanjian Giyanti (1755): Mataram Resmi Terbelah Dua, 4. Perjanjian Salatiga (1757): Lahirnya Kadipaten Mangkunegaran, 5. 1813: Berdirinya Pakualaman, Mataram Pecah Jadi Empat, 6. Warisan Sejarah

Pura Pakualaman yang akan digunakan untuk Mlampah Ratri, Kamis (26/6/2025)

5. 1813: Berdirinya Pakualaman, Mataram Pecah Jadi Empat

Setelah setengah abad stabil, campur tangan kolonial kembali mengguncang Jawa.

Pada 1810, Sultan Hamengkubuwono II di Yogyakarta dilengserkan oleh Gubernur Jenderal Belanda Herman Willem Daendels karena menolak kebijakan kolonial.

Namun, situasi berubah setahun kemudian ketika Inggris merebut Jawa dari Belanda.

Gubernur Jenderal Inggris Thomas Stamford Raffles memanfaatkan konflik internal dengan membebaskan Pangeran Notokusumo, saudara tiri Hamengkubuwono II.

Sebagai imbalan atas dukungannya, Notokusumo diangkat sebagai Paku Alam I pada 29 Juni 1812, dan menandatangani perjanjian politik dengan Inggris pada 17 Maret 1813.

Peristiwa itu menandai berdirinya Kadipaten Pakualaman di dalam wilayah Yogyakarta.

Dengan demikian, Kerajaan Mataram Islam resmi terpecah menjadi empat entitas politik:

  • Kasunanan Surakarta
  • Kasultanan Yogyakarta
  • Kadipaten Mangkunegaran
  • Kadipaten Pakualaman

6. Warisan Sejarah

Perpecahan Mataram Islam menandai akhir dari era kerajaan tunggal Jawa, tetapi juga menjadi fondasi politik dan budaya yang bertahan hingga kini.

Empat entitas hasil pecahan Mataram, Surakarta, Yogyakarta, Mangkunegaran, dan Pakualaman, masih berperan penting sebagai penjaga tradisi, seni, dan tata nilai budaya Jawa.

Sebagian artikel ini telah tayang di KOMPAS.com dengan judul

Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com.