Mengapa Kerajaan Mataram Islam Pecah Menjadi Empat? Ini Sejarah Lengkapnya

Perjanjian Giyanti, Mataram Islam, Keraton Kasunanan Surakarta, Keraton Kasultanan Yogyakarta, pecahnya mataram islam menjadi 4, Mengapa Kerajaan Mataram Islam Pecah Menjadi Empat? Ini Sejarah Lengkapnya, Awal Keruntuhan: Kekuasaan Amangkurat I dan Campur Tangan Belanda, Perang Takhta Jawa III dan Perjanjian Giyanti: Mataram Terbelah Dua, Perjanjian Salatiga: Munculnya Mangkunegaran, Campur Tangan Belanda dan Inggris: Lahirnya Pakualaman, Warisan Sejarah Mataram Islam

Kerajaan Mataram Islam pernah menjadi salah satu kerajaan terbesar di Nusantara, berpusat di Jawa Tengah dengan pengaruh yang meluas ke seluruh Jawa.

Didirikan oleh Panembahan Senopati pada 1586, kerajaan ini mencapai puncak kejayaannya di masa Sultan Agung (1613–1645).

Di bawah kepemimpinannya, Mataram dikenal kuat secara militer, politik, dan budaya.

Namun setelah Sultan Agung wafat, kejayaan itu perlahan memudar, dan dalam waktu dua abad, kerajaan besar ini terpecah menjadi empat kekuasaan berbeda.

Awal Keruntuhan: Kekuasaan Amangkurat I dan Campur Tangan Belanda

Kemunduran Mataram dimulai saat Amangkurat I (1645–1677) naik takhta menggantikan ayahnya, Sultan Agung.

Berbeda dengan pendahulunya, Amangkurat I dikenal kejam dan otoriter, bahkan tak segan membunuh keluarga serta pejabat kerajaan yang dianggap mengancam kekuasaannya.

Kekejaman itu membuat Mataram kehilangan dukungan rakyat dan bangsawan.

Lebih buruk lagi, Amangkurat I bersekutu dengan VOC (Belanda) yang kala itu mulai memperluas pengaruhnya di Jawa.

Melalui berbagai perjanjian politik, VOC perlahan-lahan ikut campur dalam urusan kerajaan. Dari sinilah benih perpecahan dan perang saudara di tubuh Mataram mulai tumbuh.

Perang Takhta Jawa III dan Perjanjian Giyanti: Mataram Terbelah Dua

Konflik keluarga kerajaan mencapai puncaknya dalam Perang Takhta Jawa III (1747–1757).

Pertikaian ini melibatkan Pakubuwono II, Pangeran Mangkubumi (adiknya), dan Raden Mas Said alias Pangeran Sambernyawa (keponakannya).

Sebelum meninggal pada 1749, Pakubuwono II sempat menandatangani perjanjian dengan VOC, yang memberi Belanda pengaruh besar atas pemerintahan Mataram.

Setelah ia wafat, putranya Raden Mas Suryadi dinobatkan menjadi Pakubuwono III, dan melanjutkan perang melawan Mangkubumi serta Raden Mas Said dengan bantuan VOC.

VOC kemudian memanfaatkan perpecahan ini dengan mengundang Pangeran Mangkubumi untuk berdamai melalui Perjanjian Giyanti pada 13 Februari 1755.

Isi perjanjian itu sangat penting dalam sejarah Jawa:

  • Mataram dibagi menjadi dua wilayah.
  • Wilayah timur Sungai Opak dikuasai oleh Pakubuwono III dan menjadi Kasunanan Surakarta.
  • Wilayah barat Sungai Opak diserahkan kepada Pangeran Mangkubumi, yang dinobatkan sebagai Sultan Hamengkubuwono I dan mendirikan Kasultanan Yogyakarta.

Perjanjian Giyanti menjadi titik resmi runtuhnya Kerajaan Mataram Islam dan kelahiran dua kerajaan besar di Jawa, yakni Surakarta dan Yogyakarta.

Perjanjian Giyanti, Mataram Islam, Keraton Kasunanan Surakarta, Keraton Kasultanan Yogyakarta, pecahnya mataram islam menjadi 4, Mengapa Kerajaan Mataram Islam Pecah Menjadi Empat? Ini Sejarah Lengkapnya, Awal Keruntuhan: Kekuasaan Amangkurat I dan Campur Tangan Belanda, Perang Takhta Jawa III dan Perjanjian Giyanti: Mataram Terbelah Dua, Perjanjian Salatiga: Munculnya Mangkunegaran, Campur Tangan Belanda dan Inggris: Lahirnya Pakualaman, Warisan Sejarah Mataram Islam

Putra mahkota Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, KGPAA Hamengkunegoro, atau yang akrab disapa Gusti Purboyo, menyatakan diri sebagai Paku Buwono (PB) XIV. Pernyataan tersebut disampaikan Gusti Purboyo menjelang pemberangkatan jenazah PB XIII ke Makam Raja-Raja Mataram di Imogiri, Bantul, Yogyakarta, Rabu (5/11/2025).

Perjanjian Salatiga: Munculnya Mangkunegaran

Meski Perjanjian Giyanti menghentikan perang antara Mangkubumi dan VOC, Raden Mas Said (Pangeran Sambernyawa) menolak hasil perjanjian karena tidak dilibatkan.

Ia melanjutkan perlawanan hingga akhirnya Perjanjian Salatiga disepakati pada 17 Maret 1757.

Dalam perjanjian itu, Raden Mas Said diakui sebagai penguasa otonom dengan wilayah tersendiri, bergelar Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya (KGPAA) Mangkunegara I.

Ia mendirikan Praja Mangkunegaran di Banjarsari, Surakarta. Dengan demikian, wilayah kekuasaan Mataram kini terbagi tiga:

  • Kasunanan Surakarta (Pakubuwono III)
  • Kasultanan Yogyakarta (Hamengkubuwono I)
  • Kadipaten Mangkunegaran (Mangkunegara I)

Campur Tangan Belanda dan Inggris: Lahirnya Pakualaman

Setengah abad setelah situasi politik mulai stabil, Mataram kembali diguncang konflik akibat intervensi kolonial Eropa.

Pada 1810, Sultan Hamengkubuwono II dilengserkan oleh Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels karena menentang kebijakan Belanda.

Takhta kemudian diberikan kepada putranya, GRM Soerojo (Hamengkubuwono III).

Namun situasi berubah pada 1811 saat Inggris mengambil alih kekuasaan Belanda di Jawa.

Gubernur Jenderal Inggris Thomas Stamford Raffles berupaya menarik dukungan bangsawan lokal dengan membebaskan Pangeran Notokusumo, saudara tiri Hamengkubuwono II, dan menjanjikan posisi politik baru.

Atas bantuannya kepada Inggris, Notokusumo diangkat menjadi Pangeran Mardiko dengan gelar Paku Alam I pada 29 Juni 1812.

Setahun kemudian, ia menandatangani perjanjian politik dengan pemerintah Inggris (17 Maret 1813), menandai berdirinya Praja Pakualaman di dalam wilayah Kasultanan Yogyakarta.

Dengan berdirinya Pakualaman, Kerajaan Mataram Islam akhirnya terpecah menjadi empat entitas politik:

  • Kasunanan Surakarta
  • Kasultanan Yogyakarta
  • Kadipaten Mangkunegaran
  • Kadipaten Pakualaman

Warisan Sejarah Mataram Islam

Perpecahan ini menandai berakhirnya era Mataram sebagai kerajaan tunggal di Jawa, tetapi warisannya tetap hidup hingga kini.

Baik Surakarta, Yogyakarta, Mangkunegaran, maupun Pakualaman masih menjadi pusat budaya dan adat Jawa yang memiliki nilai historis penting dalam perjalanan bangsa Indonesia.

Mataram mungkin telah terpecah, tetapi semangat dan kebudayaan yang ditinggalkannya masih menjadi fondasi identitas Jawa hingga hari ini.

Sebagian artikel ini telah tayang di KOMPAS.com dengan judul .

Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com.