Terpaksa Amputasi Kaki Demi Selamat: Kisah Pilu Santri Ponpes Al Khoziny yang Ambruk
Reruntuhan bangunan Pondok Pesantren Al Khoziny, Sidoarjo, Jawa Timur, tidak hanya menyisakan duka mendalam, tetapi juga kisah heroik dan penuh haru dari para santri yang berhasil selamat.
Mereka yang terjebak di balik tumpukan beton bercerita bagaimana detik-detik bangunan itu ambruk saat salat asar berjamaah, hingga perjuangan bertahan hidup dengan segala keterbatasan.
Salah satunya adalah Muhammad Ali Zainal Abidin, delapan korban awal yang berhasil dievakuasi tim SAR gabungan. Ia sempat dirawat di RSUD RT Notopuro, Sidoarjo, sebelum akhirnya diperbolehkan pulang. Ali mengingat jelas momen ketika mushalla pesantren ambruk menimpanya.
“Saya ingat itu ada suara seperti batu-batu yang jatuh. saat salat jamaah, Kemudian teman-teman itu ada yang lari, saya fokus ke salat saya. Karena ya enggak tahu, karena fokus apa ya. Teman-teman lari itu, saya masih salat. (tiba-tiba) Sudah tidur, orang tahu itu karena saya masih belum sadar. Pikiran saya itu masih waktu di ambulans setengah sadar,” ujarnya sambil masih berbaring di kasur rumah sakit dikutip tvOne.
Ali memilih tetap khusyuk melanjutkan salat meski guncangan terasa seperti gempa. Hingga akhirnya, saat ia sujud, tubuhnya tertimpa reruntuhan bangunan dan tidak sadarkan diri.
Bertahan Tiga Hari di Balik Reruntuhan
Cerita lain datang dari dua santri muda, Taufan Saputra dan Syaifur Rosi. Keduanya sempat terjebak selama tiga hari penuh di balik reruntuhan bangunan.
Taufan, menjadi korban pertama yang berhasil ditemukan setelah tiga hari pencarian. Saat terjebak, ia terus berusaha berkomunikasi dengan tim SAR. Bekal roti dan minuman yang diberikan melalui celah reruntuhan membuatnya bisa bertahan hidup.
“Bertahan tiga atau dua hari, dikasih roti. Posisi terlentang. sama itu yang biar bisa minum?” tutur Taufan. Ia menambahkan, “Pas hari Rabu itu baru bisa dengar.”
Berbeda dengan Taufan, perjuangan Syaifur Rosi jauh lebih berat. Ia bertahan tiga hari tanpa makanan, tanpa tidur, hanya berpegang pada udara dari celah sempit sambil terus berzikir dan berselawat.
korban santri selamat Ponpes Al Khoziny, Syaifur Rosi
Namun nasib tragis menimpanya, karena kaki kanannya terjepit beton besar. Demi menyelamatkan nyawanya, tim medis akhirnya harus mengambil keputusan pahit, yaitu amputasi.
“Di sini cor-coran besar. Pertama tim enggak tahu. Pas ada tim yang bilang apakah ada orang? saya (bunyikan) Tok tok tok tok. Karena enggak bisa ngomong ya, cuma tok-tok,” cerita Syaifur.
Tangis haru pun pecah ketika ia berhasil dievakuasi. Meski harus amputasi, nyawanya bisa terselamatkan.
Jumlah Korban Terus Bertambah
Hingga sabtu malam, proses evakuasi masih berlangsung intensif. Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) Surabaya mencatat jumlah korban selamat bertambah menjadi 104 orang, sementara 14 santri dinyatakan meninggal dunia.
Kepala Basarnas Surabaya, Nanang Sigit, menjelaskan bahwa salah satu santri yang sebelumnya dilaporkan hilang, ternyata selamat setelah lari ke rumah rekannya tanpa memberi kabar.
“Jumlah total sekarang 118 orang, dengan rincian 14 meninggal dunia dan 104 selamat,” kata Nanang.
Ia menegaskan bahwa operasi pencarian akan terus dilakukan dengan hati-hati menggunakan alat berat, tanpa membahayakan korban yang kemungkinan masih tertimbun. Hingga kini, laporan sementara menunjukkan ada puluhan santri yang belum diketahui keberadaannya.
“Tujuan utama bukan merobohkan seluruh bangunan, melainkan membuka akses untuk mempercepat evakuasi. Kalau sudah ada tanda-tanda korban, proses akan langsung dihentikan untuk dilakukan evakuasi,” jelasnya.