Kisah Pilu Umar Gayam, Anak Yatim Berkebutuhan Khusus yang Jadi Korban Pembunuhan Sadis di Sorong

Distrik Aimas, Kisah Pilu Umar Gayam, Anak Yatim Berkebutuhan Khusus yang Jadi Korban Pembunuhan Sadis di Sorong, Pekerja Keras dengan Keterbatasan Mental, Kronologi Hilangnya Korban, Berawal dari Tagih Utang, Polisi Tangkap Dua Pelaku di Bawah Umur, Keluarga Tuntut Hukuman Mati

Isak tangis menyelimuti kediaman keluarga Umar Gayam alias Cecep, pemuda yang menjadi korban kasus pembunuhan tragis di Distrik Aimas, Kabupaten Sorong, Papua Barat Daya.

Di balik peristiwa penemuan jasad terbungkus karung yang menggegerkan warga pada Selasa (17/2/2026) sore tersebut, tersimpan kisah pilu tentang perjuangan seorang pemuda dengan keterbatasan mental yang menjadi tumpuan hidup keluarganya.

Umar Gayam ditemukan tak bernyawa di kawasan Jalan Kontainer, Distrik Aimas, setelah dinyatakan hilang selama 10 hari sejak Sabtu (7/2/2026).

Kondisinya sangat mengenaskan; jasadnya dimasukkan ke dalam tas belanja lalu dibungkus karung putih.

Pekerja Keras dengan Keterbatasan Mental

Sosok Umar Gayam bukanlah pemuda biasa. Di tengah keterbatasan komunikasi dan mental yang dimilikinya, ia dikenal sebagai pribadi yang sangat ulet. Sehari-harinya, Cecep bekerja sebagai buruh bangunan untuk mencukupi kebutuhan keluarganya.

Paman korban, Maulud Yapono, mengungkapkan bahwa keponakannya yang sudah yatim itu adalah sosok yang tidak pernah mengeluh meski harus bekerja kasar.

"Dia sudah saya anggap seperti anak sendiri. Saya bawa dari kampung, saya jaga, saya sekolahkan sampai dia kerja," ujar Maulud dengan suara bergetar kepada wartawan, Rabu (18/2/2026).

Meski memiliki kebutuhan khusus yang membuatnya sulit berkomunikasi secara lancar, Cecep tidak berpangku tangan.

Ia bahkan sempat membantu pekerjaan di salah satu rumah sakit di wilayah Mariat demi membiayai pendidikan adiknya.

"Dia bukan orang kaya. Dia kerja bangunan, tapi dia tulang punggung keluarga. Sekarang kalau dia sudah tidak ada, siapa yang mau tanggung keluarga?" ucap Maulud sambil meneteskan air mata.

Kronologi Hilangnya Korban, Berawal dari Tagih Utang

Distrik Aimas, Kisah Pilu Umar Gayam, Anak Yatim Berkebutuhan Khusus yang Jadi Korban Pembunuhan Sadis di Sorong, Pekerja Keras dengan Keterbatasan Mental, Kronologi Hilangnya Korban, Berawal dari Tagih Utang, Polisi Tangkap Dua Pelaku di Bawah Umur, Keluarga Tuntut Hukuman Mati

Ilustrasi garis polisi.

Kronologi pembunuhan ini bermula ketika Cecep berpamitan meninggalkan rumah pada Sabtu malam (7/2/2026) sekitar pukul 23.00 WIT. Tujuan korban saat itu adalah untuk menagih utang sebesar Rp 2 juta kepada terduga pelaku di sebuah rumah kos.

Namun, sejak malam itu, Cecep tidak pernah kembali ke rumah. Keluarga sempat melakukan pencarian mandiri selama berhari-hari sebelum akhirnya melapor ke pihak kepolisian.

Kecurigaan keluarga menguat saat mengetahui keluarga terduga pelaku juga melaporkan kehilangan orang pada waktu yang sama.

Pencarian yang dibantu oleh aparat kepolisian akhirnya membuahkan hasil pahit.

Berdasarkan petunjuk intelijen, jasad korban ditemukan di semak-semak belakang Jalan Kontainer dalam kondisi terikat.

"Korban diikat tangan dan kaki, lalu dipukul di bagian kepala dan rahang hingga hancur, kemudian dimasukkan ke dalam karung," beber Maulud menggambarkan aksi penganiayaan yang dialami keponakannya.

Polisi Tangkap Dua Pelaku di Bawah Umur

Merespons laporan keluarga dan temuan jasad korban, Tim Satreskrim Polres Sorong bergerak cepat. Kapolres Sorong, AKBP Edwin Parsaoran, mengonfirmasi bahwa pihaknya telah mengamankan dua orang terduga pelaku.

Keduanya adalah MFLO (18) dan seorang anak yang berhadapan dengan hukum (ABH) berinisial SA (17). Mereka ditangkap di tempat persembunyiannya di Kampung Meyaup, Distrik Salawati Tengah, setelah sebelumnya sempat melarikan diri dari rumah kos di Jalan Tuturuga.

"Kami memastikan seluruh proses penanganan perkara sesuai ketentuan hukum yang berlaku," tegas Edwin, Rabu (18/2/2026).

Polisi juga menyita barang bukti berupa satu unit telepon genggam dan satu unit sepeda motor yang diduga berkaitan dengan tindak pidana tersebut. Kasus ini kini terdaftar dengan nomor laporan LP/B/73/II/2026/SPKT-1/Polres Sorong.

Keluarga Tuntut Hukuman Mati

Kepergian Cecep yang tragis memicu gelombang protes dari pihak keluarga. Pada Rabu dini hari, keluarga sempat membawa keranda jenazah ke depan ruang SPKT Polres Sorong dan membakar ban bekas sebagai bentuk desakan agar hukum ditegakkan seadil-adilnya.

Maulud menegaskan bahwa keluarga tidak akan membuka ruang kompromi atau diversi, meskipun salah satu pelaku masih di bawah umur.

"Secara mental sudah tega menghabisi nyawa orang dengan cara sadis. Jangan bersembunyi di bawah payung perlindungan anak. Kami minta hukuman mati karena pembunuhan ini sudah keterlaluan dan terencana," tegas Maulud.

Kini, keluarga harus menelan pil pahit menyambut bulan suci Ramadan tanpa sosok Cecep. Bagi mereka, keadilan adalah satu-satunya pelipur lara atas hilangnya nyawa pemuda yang mereka sayangi.

Artikel ini telah tayang di Tribunsorong.com dengan judul Sosok Korban Pembunuhan di Sorong yang Jasadnya Termutilasi di Karung: Berjuang Demi Sekolah Adik

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang