Duka di Sukabumi, Kisah Pilu NS, Santri yang Tewas di Tangan Ibu Tiri dan Dugaan Penelantaran Ayah

Sukabumi, Duka di Sukabumi, Kisah Pilu NS, Santri yang Tewas di Tangan Ibu Tiri dan Dugaan Penelantaran Ayah, "Mau Pulang ke Mana, Bu?", Sosok "Raja" yang Ingin Menjadi Kiai, Ibu Kandung Laporkan Ayah Kandung atas Penelantaran, Polisi Janji Profesional

Isak tangis Arini Novita Sari (36) pecah saat ia mencoba merangkai kembali ingatan tentang momen-momen terakhir bersama NS (13).

Bocah malang asal Jampangkulon, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat itu meninggal dunia dengan kondisi tubuh penuh luka yang diduga kuat akibat penganiayaan oleh ibu tirinya, TR (47).

Sambil berulang kali menyeka air mata dengan kerudungnya, Arini mengungkap sisi kelam yang selama ini dipendam oleh NS.

Bagi NS, yang merupakan teman sekamar anak Arini di pesantren, rumah Arini bukan sekadar tempat singgah, melainkan ruang perlindungan dari kenyataan pahit di rumahnya sendiri.

"Tangan saya gemetar kalau ingat itu," ujar Arini terisak saat ditemui di kediamannya, Rabu (25/2/2026).

"Mau Pulang ke Mana, Bu?"

Dua minggu sebelum masa libur pondok pesantren, Arini mendapati NS sedang melamun di kamar. Saat ditanya mengapa tidak bersiap pulang seperti santri lainnya, jawaban bocah itu meremukkan hati Arini.

"Dia bilang, 'Mau pulang ke mana bu, saya gak ada tempat pulang'. Saya tanya kenapa, katanya ibu (tiri) saya galak. Air mata saya langsung tumpah dengar itu," kenang Arini.

Tak hanya itu, sebulan sebelum kejadian, NS seolah memberikan isyarat perpisahan. Ia memberikan sarung kesayangannya kepada anak Arini sebagai tanda terima kasih.

"Dia bilang buat kenang-kenangan. Saya tidak menyangka itu benar-benar jadi tanda perpisahan selamanya," ucapnya dengan suara bergetar.

Sosok "Raja" yang Ingin Menjadi Kiai

Di Pondok Pesantren Darul Ma'arif, tempatnya menimba ilmu selama tujuh bulan terakhir, NS dikenal dengan nama panggilan "Raja". Pengasuh Ponpes, Ustaz Abdurrahman, mengenang NS sebagai salah satu santri terbaik yang tidak pernah melanggar aturan.

"Dia itu anak baik, kategori terbaik. Selama 7 bulan di sini belum pernah ada kesalahan. Setiap mengaji, dia duduk paling depan dan menyimak dengan seksama," kata Abdurrahman, Selasa (24/2/2026).

Menurut Abdurrahman, ayah NS, Anwar Satibi, menitipkan anaknya dengan harapan besar agar NS bisa mengaji hingga menjadi kiai. Namun, di balik keceriaannya saat bermain bola bersama teman-temannya sebelum libur Ramadhan pada 3 Februari 2026, NS menyimpan duka yang dalam.

Kecurigaan muncul saat NS tidak kembali ke pondok pada 18 Februari 2026.

Saat diabsen, tidak ada satu pun santri yang tahu keberadaannya. Hingga akhirnya, pada 1 Ramadhan, sebuah video memperlihatkan kondisi NS yang memprihatinkan di rumah sakit beredar.

"Saya syok melihat videonya. Kakinya sampai melepuh, hidungnya rusak. Padahal saat pulang dari sini dia sehat walafiat," tutur Abdurrahman.

Ibu Kandung Laporkan Ayah Kandung atas Penelantaran

Sukabumi, Duka di Sukabumi, Kisah Pilu NS, Santri yang Tewas di Tangan Ibu Tiri dan Dugaan Penelantaran Ayah, "Mau Pulang ke Mana, Bu?", Sosok "Raja" yang Ingin Menjadi Kiai, Ibu Kandung Laporkan Ayah Kandung atas Penelantaran, Polisi Janji Profesional

Jenazah NS berada dalam mobil ambulans untuk dibawa ke rumah duka usai menjalani autopsi di RS Bhayangkara TK II Setukpa Polri Kota Sukabumi, Jumat (20/2/2026) siang.

Kasus ini memasuki babak baru. Setelah TR (ibu tiri) ditetapkan sebagai tersangka penganiayaan maut, ibu kandung korban, Lisnawati, resmi melaporkan mantan suaminya, Anwar Satibi (AS), ke Polres Sukabumi.

Lisnawati, yang mengaku telah dibatasi aksesnya untuk bertemu NS selama empat tahun terakhir, melaporkan AS atas dugaan penelantaran anak dan pembiaran.

Kuasa hukum Lisnawati, Krisna Murti, mengungkapkan adanya bukti pesan singkat (SMS) yang sangat menyakitkan dari AS kepada kliennya dua hari sebelum NS meninggal.

"Isinya menyampaikan bahwa Nizam sakit di rumah. Saat Ibu (Lisnawati) tanya kenapa tidak dibawa ke rumah sakit, ayahnya jawab 'biarin aja, kalaupun dia meninggal tinggal dikit (dimakamkan) di pemakaman keluarga'. Ini adalah bentuk pembiaran yang nyata," tegas Krisna.

Krisna menambahkan bahwa kondisi fisik NS berubah drastis sejak dirawat oleh ayahnya. Saat masih bersama ibu kandungnya hingga usia 7 tahun, NS dalam kondisi sehat tanpa penyakit paru-paru maupun luka fisik.

Polisi Janji Profesional

Kapolres Sukabumi, AKBP Samian, memastikan pihaknya akan menindaklanjuti laporan Lisnawati terkait dugaan penelantaran sesuai Pasal 76B Jo Pasal 77B UU Perlindungan Anak.

"Setiap laporan masyarakat pasti kita tindak lanjuti secara profesional dan independen. Kami akan meminta keterangan semua pihak dan mengumpulkan bukti-bukti," tegas Samian, Rabu (25/2/2026).

Kini, di balik tembok Pondok Pesantren Darul Ma'arif, hanya doa bersama yang terdengar setiap malam dari para santri yang masih histeris kehilangan "Raja".

Bocah yang pendiam namun selalu membuat teman-temannya tertawa itu kini telah tiada, meninggalkan sarung kenang-kenangan dan luka yang menuntut keadilan.

Artikel ini telah tayang di TribunJabar.id dengan judul Tangis Arini Tak Terbendung Kenang Kebaikan NS Bocah Sukabumi yang Tewas di Tangan Ibu Tiri

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang