Kalah 15-0 dan Tanpa Dana, Kisah Pilu Sriwijaya FC di Tengah Krisis Berkepanjangan
Nasib Sriwijaya FC di kompetisi Championship 2025/2026 benar-benar berada di ujung tanduk.
Tim berjuluk Laskar Wong Kito itu tengah menjalani musim yang sangat berat, baik dari sisi prestasi maupun kondisi internal klub.
Rentetan hasil buruk di lapangan, ditambah krisis finansial yang berkepanjangan, membuat posisi Sriwijaya FC semakin terpuruk dan ancaman degradasi kian nyata.
Kekalahan telak 0-15 dari Adhyaksa FC menjadi gambaran paling nyata tentang kondisi Sriwijaya FC saat ini.
Hasil tersebut tidak hanya menyakitkan secara skor, tetapi juga mencerminkan ketimpangan kekuatan tim yang dipengaruhi oleh berbagai persoalan non-teknis.
Bagaimana perjalanan Sriwijaya FC di Championship musim ini?
Sejak awal musim Championship 2025/2026, Sriwijaya FC sebenarnya sempat menunjukkan performa yang cukup menjanjikan meski belum konsisten.
Namun, situasi berubah drastis setelah sponsor utama mundur. Mundurnya sokongan finansial tersebut berdampak langsung pada stabilitas internal tim.
Masalah keuangan membuat langkah Sriwijaya FC kian terseok. Klub kesulitan memenuhi kebutuhan operasional dasar, termasuk pembayaran gaji pemain.
Bahkan, beredar kabar bahwa nafas klub kini hanya bertumpu pada iuran dari kantong pribadi sejumlah pegawai.
Dalam persaingan kasta kedua yang keras dan kompetitif, kondisi tersebut membuat Sriwijaya FC seolah tidak memiliki ruang untuk bergerak. Hingga saat ini, mereka terdampar di dasar klasemen Grup A dengan raihan dua poin dari 18 pertandingan yang telah dijalani.
Mengapa ancaman degradasi semakin nyata?
Posisi juru kunci klasemen membuat Sriwijaya FC berada dalam situasi genting. Secara matematis, peluang untuk bertahan di Championship semakin menipis. Namun, mundur dari kompetisi bukanlah solusi yang mudah.
Jika memilih mundur, Sriwijaya FC justru dihadapkan pada konsekuensi lain berupa denda besar serta kewajiban membayar sejumlah dana kepada sponsor liga.
Karena itu, bertahan hingga akhir musim tetap menjadi pilihan utama manajemen, meski dengan segala keterbatasan.
Kondisi ini menjadikan setiap laga yang dijalani Sriwijaya FC sebagai perjuangan berat, bukan hanya soal mengejar poin, tetapi juga menjaga keberlangsungan klub.
Apa langkah darurat yang ditempuh manajemen Sriwijaya FC?
Di tengah krisis finansial, manajemen Sriwijaya FC membuka langkah yang terbilang tidak biasa.
Klub membuka peluang bagi pemain yang bersedia bergabung tanpa menerima gaji. Menariknya, tawaran ini mendapat respons dari sejumlah pemain, baik lokal maupun asing.
Direktur Olahraga PT Sriwijaya Optimis Mandiri (SOM), Anggoro Prajesta, mengungkapkan bahwa banyak pemain yang menyatakan kesediaannya membantu Sriwijaya FC di masa sulit.
“Ada beberapa (pemain eks Liga 2), bahkan ada pemain asing yang DM saya. Banyak, mau main tapi gak digaji gak apa-apa. Yang penting dikasih tempat tinggal, makan, ada banyak yang mau bantu Sriwijaya FC,” kata Anggoro Prajesta, dilansir dari Sripoku.com.
Meski demikian, Anggoro menegaskan bahwa keputusan akhir tetap berada di tangan pelatih kepala Sriwijaya FC, Budi Sudarsono. Manajemen juga tidak ingin memaksa siapa pun untuk bergabung.
“Cuma balik lagi, semua sesuai coach Budi aja. Banyak yang pingin ngebantu lah. Cuma namanya orang mau ngebantu, kita gak ngebut. Ya kalau bantu, ayo, kalau gak, kita gak mau mengemis,” ujarnya.
Mengapa pemain tanpa gaji menjadi opsi yang dipilih?
Keputusan membuka peluang bagi pemain tanpa gaji bukan tanpa alasan. Manajemen Sriwijaya FC menilai langkah tersebut perlu diambil untuk menjaga suasana tim, terutama di tengah keterlambatan pembayaran gaji pemain yang sudah ada.
Menurut Anggoro, akan muncul kecemburuan jika klub mendatangkan pemain baru dengan gaji, sementara pemain lama masih belum menerima haknya.
“Terpaksa kita gak bisa juga membayar mereka, itu satu. Kedua, kami menjaga perasaan pemain-pemain yang belum digaji. Kalau kita datangkan pemain yang bergaji, ya pemain yang ada sekarang pasti mentalnya akan lebih kena,” tuturnya.
Apa makna krisis ini bagi sejarah Sriwijaya FC?
Kondisi Sriwijaya FC saat ini terasa kontras dengan masa keemasannya di masa lalu. Klub ini pernah menjadi salah satu kekuatan besar sepak bola Indonesia. Dua gelar liga berhasil diraih pada musim 2007/2008 dan 2011/2012.
Selain itu, Sriwijaya FC juga mengoleksi tiga trofi Piala Indonesia pada 2007/2008, 2008/2009, dan 2010.
Di level Asia, Laskar Wong Kito sempat tampil di Liga Champions Asia 2009 serta mencatatkan pencapaian terbaik dengan menembus babak 16 besar Piala AFC 2010. Pada Piala AFC 2011, langkah mereka terhenti di babak 16 besar setelah kalah dari Chonburi.
Kini, klub dengan sejarah gemilang tersebut harus berjuang keras hanya untuk bertahan di kasta kedua.
Dengan kondisi finansial yang belum membaik dan performa yang terus menurun, masa depan Sriwijaya FC di Championship 2025/2026 masih diselimuti tanda tanya besar.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang