Di Hadapan 8 Dubes, Prabowo Tegaskan Indonesia Nonblok dan Minta Maaf atas Telatnya Penyerahan Kredensial
Presiden Prabowo Subianto menyampaikan pesan penting mengenai arah politik luar negeri Indonesia saat menerima penyerahan surat kredensial delapan duta besar negara sahabat. Dalam kesempatan tersebut, Prabowo menegaskan Indonesia tetap berpegang pada prinsip politik luar negeri bebas aktif dan tidak memiliki aliansi militer dengan negara mana pun.
Pesan itu diungkapkan Wakil Menteri Luar Negeri (Wamenlu) Anis Matta usai prosesi penyerahan surat kepercayaan para duta besar yang berlangsung di Istana Kepresidenan.
Menurut Anis, Presiden Prabowo memanfaatkan pertemuan tersebut untuk menjelaskan posisi Indonesia di tengah berbagai konflik dan dinamika geopolitik yang saat ini berkembang di berbagai kawasan dunia.
“Tadi Presiden kepada para dubes hanya menjelaskan prinsip Indonesia dalam diplomasi internasional bahwa kita ini bebas aktif. Kita tidak punya aliansi militer dengan negara apa pun,” kata Anis Matta kepada wartawan.
Prabowo Soroti Konflik Global yang Kian Kompleks
Anis menjelaskan, Presiden Prabowo juga menyinggung kondisi dunia yang saat ini semakin terhubung sehingga konflik yang terjadi di satu kawasan dapat memberikan dampak luas ke berbagai negara.
Karena itu, Indonesia memandang bahwa penyelesaian berbagai persoalan internasional harus dilakukan melalui jalur diplomasi dan perdamaian, bukan dengan penggunaan kekuatan militer.
Menurut Anis, Presiden Prabowo secara tegas menyampaikan bahwa pendekatan militer dalam menyelesaikan konflik hanya akan memperburuk keadaan.
“Karena dunia saat ini menjadi jauh lebih kecil, sehingga yang kita perlukan sekarang ini adalah semua bentuk penyelesaian yang bersifat damai,” ujar Anis.
“Semua bentuk penggunaan kekuatan militer dalam penyelesaian konflik apa pun, itu tidak akan berujung baik,” lanjutnya mengutip pesan Presiden.
Pesan tersebut sekaligus menjadi penegasan posisi Indonesia di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di sejumlah kawasan, termasuk Timur Tengah yang hingga kini masih dibayangi potensi eskalasi konflik.
Indonesia Dorong Perdamaian dan Kerja Sama Internasional
Lebih lanjut, Anis mengatakan Presiden Prabowo menekankan pentingnya membangun semangat kerja sama dan perdamaian antarnegara.
Pemerintah Indonesia, kata dia, akan terus mendorong berbagai upaya diplomatik yang dapat mengurangi ketegangan dan membuka ruang dialog di tingkat internasional.
“Karena itu yang kita dorong itu adalah membangun semangat perdamaian dan kerja sama dengan semua pihak,” ujar Anis.
Sebelumnya, Anis juga menyinggung situasi Timur Tengah yang menurutnya masih berada dalam kondisi sangat tegang. Ia menyebut terdapat tiga kemungkinan skenario yang dapat berkembang, yakni skenario damai, skenario eskalasi, dan kondisi yang tidak sepenuhnya damai tetapi juga belum mengarah pada perang terbuka.
Pemerintah Indonesia berharap berbagai pihak dapat menahan diri dan mengutamakan langkah-langkah deeskalasi guna mencegah konflik yang lebih luas.
Prabowo Minta Maaf soal Keterlambatan Penyerahan Kredensial
Selain mengungkap pesan Presiden kepada para dubes, Anis Matta juga menjelaskan alasan penyerahan surat kredensial baru dilakukan saat ini.
Menurutnya, Presiden Prabowo secara langsung menyampaikan permintaan maaf kepada seluruh duta besar atas keterlambatan proses tersebut.
“Tadi Presiden sudah juga menyampaikan, pertama beliau meminta maaf atas keterlambatan ini kepada seluruh para dubes,” kata Anis.
Ia menegaskan keterlambatan tersebut sama sekali bukan karena faktor politik ataupun adanya keinginan untuk menunda proses diplomatik dengan negara-negara sahabat.
Anis menyebut keterlambatan murni disebabkan padatnya agenda Presiden sejak awal masa pemerintahannya.
“Dan murni lebih banyak karena faktor jadwal yang sangat padat dari beliau. Tidak ada niat sama sekali untuk menunda-nunda pemberian kredensial ini,” ujarnya.
Menurut Anis, sejak dilantik sebagai Presiden, Prabowo dihadapkan pada berbagai agenda nasional dan internasional yang membutuhkan perhatian serta konsentrasi penuh.
“Tidak ada niat sama sekali untuk menunda. Murni karena masalah jadwal yang sangat padat saja sejak dari pelantikan dan situasi fokus beliau kepada penanganan situasi global yang benar-benar membutuhkan konsentrasi penuh,” katanya.
Dubes Memahami Situasi yang Terjadi
Meski sempat menunggu proses penyerahan surat kredensial, para duta besar disebut memahami kondisi yang dihadapi pemerintah Indonesia.
Anis mengatakan tidak ada keberatan ataupun respons negatif dari para perwakilan negara sahabat terkait keterlambatan tersebut.
“Mereka bisa mengerti situasinya dan karena pada dasarnya situasi seperti ini juga pada umumnya, karena situasi global seperti sekarang ini, orang bisa mengerti situasinya,” ujarnya.
Dalam kesempatan itu, sebanyak delapan duta besar negara sahabat menyerahkan surat kepercayaan kepada Presiden Prabowo. Mereka berasal dari Filipina, Sri Lanka, Republik Ceko, Yunani, Palestina, Lebanon, Korea Selatan, dan Saint Lucia.
Menurut Anis, seluruh duta besar juga mendapat kesempatan menyampaikan pesan dari kepala negara masing-masing kepada Presiden Prabowo dalam suasana yang berlangsung hangat dan penuh semangat kerja sama diplomatik.